Yakinlah Allah Sebagai Saksi Segala Sesuatu

SEANDAINYA saat ini kita sedang duduk di kursi pengadilan, berhadapan dengan seorang hakim yang sedang mengadili kita atas kesalahan yang telah kita lakukan sebelumnya, disertai saksi yang siap menjawab pertanyaan-pertanyaan, maka mungkin kita pun akan bisa membayangkan betapa menyesal dan malunya kita saat itu.

Atau, mungkin saja ada di antara kita yang justru merasa seperti tak bersalah sama sekali, hingga bahkan tanpa ragu untuk berbohong ataupun sampai membayar saksi untuk ikut berbohong juga, hanya demi sebuah keselamatan yang sementara.

Tapi memang demikianlah kenyataan pengadilan manusia di dunia ini, di mana kita bisa berbohong untuk menghindari hukuman, dan bahkan sang hakim sendiri pun juga terkadang bisa salah dalam memberikan keputusannya meskipun kita telah berusaha untuk mengatakan kebenaran.

Namun, kelak di dalam pengadilan yang sesungguhnya pada hari yang sangat berat dan panjang, ketika Sang Maha Hakim justru sekaligus menjadi Saksi, yang mana telah menyaksikan sendiri segala perbuatan kita selama di dunia, maka ketika itulah kita tak mungkin bisa menghindar.

Kita tentu tidak mungkin menutup-nutupi sesuatu dari Saksi yang justru telah melihat sendiri tingkah laku kita. Saat itu tiada lagi yang akan bisa kita sembunyikan. Dan ketika itu, amal kebaikan orang-orang yang ingkar dan enggan beriman akan diperlihatkan tanpa pahala apapun, melainkan telah cukup bagi mereka pahala di dunia saja, dan sisanya adalah pertanggungjawaban atas keingkaran dan amal kejahatan mereka.

Sedangkan orang-orang yang beriman, akan ada yang amal baiknya diterima dan ada yang tidak, ada yang amal buruknya diampuni dan ada yang dibalas dengan hukuman.  Dan semua itu akan menyesuaikan dengan amal perbuatan dan niat masing-masing selama di dunia ini. Sang Maha Hakim akan mengadili dengan sangat tepat, tanpa meleset sedikitpun meski hanya setitik maksiat di dalam hati kita.

Pada hari yang berat tersebut, semua dari kita akan dikumpulkan setelah dibangkitkan dari kematian, lalu masing-masing dipanggil untuk diberi sebuah kitab catatan yang menceritakan dengan sangat terperinci segala amal perbuatan selama di dunia ini. Semuanya akan diperlihatkan dengan sangat jelas di dalam kitab catatan tersebut.

Di dalam al-Qur’an disebutkan ayat-ayat tentang itu semua, di antaranya adalah yang artinya berikut ini:

“Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan (singkirkan secara perlahan) gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu menjadi datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan satu orang pun dari mereka.” (Al-Kahfi : 47)

“Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris, (dan dikatakan:) sesungguhnya kalian datang kepada Kami sebagaimana Kami menciptakan kalian pada kali yang pertama; bahkan kalian mengatakan bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kalian waktu (untuk memenuhi) perjanjian.” (Al-Kahfi : 48)

“Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata : “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis di dalamnya). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun.” (Al-Kahfi : 49)

Juga dalam surat lainnya yang artinya berikut ini : “Katakanlah: ‘Allah-lah yang menghidupkan kalian kemudian mematikan kalian, setelah itu mengumpulkan kalian pada hari kiamat yang tiada keraguan padanya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’” (Al-Jaatsiyah : 26)

“Dan hanya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan merugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan.” (Al-Jaatsiyah : 27)

“Dan (pada hari itu) kamu melihat tiap-tiap ummat berlutut. Tiap-tiap ummat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. (Lalu dikatakan:) ‘Pada hari ini kalian diberi balasan terhadap apa yang telah kalian kerjakan (sebelumnya).’” (Al-Jaatsiyah : 28)

“(Allah berfirman): ‘Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan tentang kalian dengan benar. Sesungguhnya Kami telah memerintahkan pencatatan atas apa yang telah kalian kerjakan.’” (Al-Jaatsiyah : 29)

Dan juga yang artinya berikut ini : “Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat); dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya; dan manusia bertanya : “Mengapa bumi (jadi begini)?”; pada hari itu bumi menceritakan beritanya; bahwa sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya; Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya (bangkit dari kematiannya) dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka amal perbuatan mereka; Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihatnya; Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihatnya pula.” (Al-Zalzalah : 1-8)

Dan di sana masih banyak lagi ayat-ayat serupa yang menggambarkan tentang hari yang sangat berat tersebut.
Dan ketika itulah penyesalan yang mendalam akan dialami oleh orang-orang kafir dan orang-orang yang tak pernah mempedulikan urusan kehidupan setelah mati tersebut, di mana amal kebaikan yang telah diusahakannya selama di dunia ternyata tidak membuahkan pahala apapun di akhirat, dan mereka bahkan sangat berharap untuk menjadi debu atau tanah yang tak perlu merasakan nikmat apapun selama di dunia.

Allah SWT berfirman di dalam al-Qur’an yang artinya: “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan; Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (Huud : 15-16)

Demikianlah Allah SWT memberitakan tentang kehidupan yang nyata setelah mati. Kesengsaraan yang kita alami di dunia ini ternyata tak akan berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kesengsaraan di akhirat kelak.
Kebahagiaan pun juga demikian; semuanya tak akan bertahan lama dan pasti akan berakhir.

Ketika kita telah dibangkitkan dari kematian kelak, maka seakan-akan waktu hidup kita selama di dunia ini hanyalah seperti waktu sore atau pagi hari saja.

Dan apalah artinya sebuah waktu sore ataupun pagi yang hanya tak sampai sehari penuh atau hanya beberapa jam saja dibandingkan dengan ribuan tahun umur dunia dari awal diciptakannya hingga tiba hari kiamat nanti.

Tentu akan terbayang betapa pendek dan tak berartinya dunia ini. Dan demikianlah mungkin kurang lebih perumpamaan masa hidup di dunia dibandingkan dengan masa hidup di akhirat kelak.

Allah SWT berfirman di dalam al-Qur’an yang artinya : “Pada hari mereka melihat hari kebangkitan itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal  (di dunia) melainkan (sebentar) di waktu sore atau pagi hari (saja).” (An-Naazi’aat : 46)

Dan pada dasarnya, menumbuhkan rasa takut dan cemas terhadap hari yang sangat berat tersebut bukan dimaksudkan agar kita meninggalkan segala urusan duniawi, melainkan justru agar kita lebih berhati-hati dalam segala urusan tersebut dan agar justru semakin giat mengejar amal kebaikan demi akibat yang lebih kekal nantinya.

Mengenal hari yang besar tersebut tidak harus menjadikan kita menghina dan mencela dunia, karena sebenarnya dunia ini pun baru akan menjadi hina dan tercela jika memang hanya digunakan untuk bersenang-senang belaka atau bahkan untuk menanam keburukan dan kejahatan.

Dan dunia justru akan menjadi ladang yang baik jika memang ditanami kebaikan yang didasari iman dan rasa takut kepada Allah SWT. Dan dengan pemahaman yang demikian itu, maka kita pun akan dapat semakin bersemangat dalam menjalankan peran masing-masing.

Apapun peran kita, selama bukan untuk maksiat, melanggar syari’at, ataupun berbuat kerusakan di muka bumi ini, insya’Allah tiada yang salah ataupun perlu dipermasalahkan. Bahkan, kita justru dilarang meninggalkan beragam peran yang saling melengkapi tersebut.

Kita sebagai ummat Islam diharuskan menerapkan nilai-nilai Islam dalam setiap lini kehidupan, sesuai kemampuan dan keterbatasan masing-masing. Mengenal kehidupan setelah mati bukan justru agar kita meninggalkan ilmu-ilmu duniawi, seperti ilmu fisika, kimia, biologi, geografi, dan semacamnya, melainkan justru agar kita lebih meningkatkan ilmu-ilmu tersebut dan mengarahkannya sesuai rambu-rambu Islam, agar iman kita justru semakin bertambah dengan mendalami ayat-ayat Allah SWT yang tersebar di alam semesta ini.

Mengenal kedahsyatan akhirat tidak harus berarti memisahkan antara perkara agama (Islam) dengan perkara dunia, hingga seakan-akan yang kita sebut agama (Islam) itu pasti harus menjauh dari dunia. Padahal, justru agama (Islam) itulah yang diturunkan oleh Allah SWT untuk mengatur urusan dunia, demi keselamatan manusia di akhirat kelak.

Selama ini kita cenderung meyakini bahwa ummat Islam haruslah dipisahkan dari perkembangan sarana dunia seperti teknologi, media, ataupun kemajuan-kemajuan lainnya, yang mungkin itu semua adalah karena kita menyetujui istilah-istilah yang diciptakan oleh musuh-musuh Islam sendiri, seperti istilah pembedaan antara Islam dan Barat misalnya, yang mana dengan menerima istilah tersebut sebagai kenyataan, maka kita pun akan lantas menjaga jarak dan bahkan menjauhi Barat yang konon adalah tempat bagi para penguasa dunia.

Padahal, Timur ataupun Barat, semuanya hanyalah milik Allah SWT, kita tentu juga akan justru bergembira ketika semakin banyak ummat manusia di Barat yang turut bergabung dengan kita dalam agama yang lurus ini, agar kerusakan-kerusakan aqidah dan syari’at yang telah diperbuat oleh non-Muslim di sana dapat diluruskan.

Adapun penyerupaan yang tidak diperbolehkan dalam Islam, maka itu adalah penyerupaan dengan sikap orang-orang kafir, bukan dengan Barat. Karena di Barat maupun di Timur, pasti ada orang-orang yang ingkar dan kafir. Di Barat juga ada orang-orang yang beriman, sebagaimana di Timur juga ada orang-orang yang kafir. Wallahu a’lam. (Penulis : Ustdz. Ibnu Anwar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *