Menanamkan Jiwa Taqwa Kepada Anak

DIANTARA amanah yang besar dibebankan kepada kita, dan akan kita pertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT. adalah anak cucu keturunan kita.

Mereka adalah titipan Allah yang harus kita jaga dengan benar dan sungguh-sungguh.

Terlebih lagi di zaman sekarang ini, sering kita jumpai di lingkungan kita maupun melalui mass media serta media online tentang kasus-kasus yang memprihatinkan.

Apakah itu masalah mabuk-mabukan, perjudian, pergaulan bebas antar lawan jenis, perkelahian antar geng, perampokan, pemerkosaan, penjambretan, kebut-kebutan dijalan dan tindak kriminal lainnya termasuk penyalah gunaan narkoba.

Kasus-kasus semacam ini hampir tidak pernah absen dari lembar mass media maupun media online dan tersebar di berbagai media sosial setiap hari.

Akankah kasus-kasus semacam ini terus berkembang dan merajalela dimana-mana?

Bagaimana kalau anak cucu kita terlibat dalam kasus-kasus yang semacam ini?

Siapa yang salah hal ini terjadi? Kita sebagai orang tua atau anak cucu kita.

Mari kita renungkan agar kita selalu menjaga amanat titipan Allah berupa anak, tidak mengkhianati titipan tersebut.

Firman Allah : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.

Dan ketahuilah harta dan anak-anakmu adalah hanya sebagai cobaan dan sesungguhnya disisi Allah pahala yang besar.” (QS. Al Anfal : 27 – 28).

Dan lebih jauh lagi Allah mengingatkan kita agar selalu berhati-hati dan menjaga anggota keluarga kita dari siksaan api neraka yaitu menjaga mereka agar jangan sampai terjerimus dalam lbah kesesatan.

Firman Allah : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At Tahrim : 6).

Menjaga diri dan keluarga kita dari siksaan api neraka terutama sekali harus dibekali dengan pengetahuan agama yang mengarah pada pembentukan mental dan kepribadian yamg taqwa.

Penanaman jiwa taqwa kepada anak-anak dan generasi muda itu sangat penting, karena kepribadian (mental) itu diantara unsur-unsurnya adalah keyakinan beragama.

Keyakinan beragama yang kuat dengan sendirinya akan menjadi pengendali semua tindakan, tingkah laku dan perbuatan swhari-hari, sebagai polisi yang selalu mengawasi kita.

Kita yakin, jika setiap orang tua mempunyai keyakinan dalam beragama dan menjalankan agamanya dengan sungguh-sungguh, mungkin tidak perlu merepotkan polisi bekerja memberantas kejahatan.

Hal ini karena setiap orang tidak akan melanggar agama dan sudah jadi polisi untuk dirinya sendiri. Setiap orang akan merasa bahwa segala perbuatannya dilihat dan diketahui oleh Allah yang Maha Melihat lagi Maha Mengetahui.

Untuk menyelamatkan anak cucu dan generasi muda kita yang akan datang, pembinaan mental harus diperhatikan dan dilaksanakan secara intensif.

Upaya untuk menyelamatkan mereka tidaklah ringan. Semua kalangan terutama orang tua, sekolah atau lembaga pendidikan, pimpinan yang berwenang dalam masyarakat khususnya pemerintah.

Usaha-usaha yang kita lakukan untuk menyelamatkan anak cucu dan generasi muda kita itu harus serentak didalam rumah tangga, sekolah dan masyarakat.

Orang tua hendaklah menjadi contoh dan teladan yang baik dalam segala aspek kehidupan bagi anak-anak.

Karena anak-anak terutama yang masih kecil yang belum dapat memahami sesuatu pengertian yang masih abstrak, dan tergambar didalan benaknya adalah pengalaman sehari-hari bersama orang tua dan saudara-saudaranya.

Penanaman jiwa taqwa harus dimulai sejak dini, bahkan sejak si anak lahir. Sebagaimana diajarkan dalam agama kita, yang memerintahkan supaya setiap bayi lahir diazankan, agar pengalaman pertama yang diterima adalah kalimat suci yang membawa kepada taqwa.

Penanaman dasar-dasar taqwa kepada anak cucu dan generasi muda kita, harus kita tanamkan sejak mereka masih kecil dengan memberikan contoh dan teladan dari kita secara tetap dan kontinyu. Serta dilakukan dengan lemah lembut tanpa kekerasan sesuai dengan kondisi dan pertumbuhan anak-anak kita.

Sebagai orang tua sudah seharusnya memperhatinkan pendidikan anak-anak kita, dan pendidikan yang diterima anak dari orang tua itulah yang menjadi dasar pembinaan kepribadian anak.

Dengan kata lain, orang tua jangan sampai membiarkan pertumbuhan anak berjalan tanpa bimbingan orang tua, atau hanya diaerahkan kepada guru sekolah saja atau kepada pembantu saja. Inilah kekeliruan yang banyak terjadi pada kita.

Haruslah kita sadari bahwa pendidikan yang diterima oleh anak seharusnya sejalan antara yang dirumah dengan yang di sekolah.

Juga harus kita sadari bahwa anak selalu membutuhkan perhatian dan bimbingan orang tuanya.

Dan kita sadari pula bahwa membimbing, mengarahkan dan menanamkan jiwa taqwa pada anak adalah bentuk tanggung jawab orang tua dalam memelihara amanat titipan Allah berupa anak-anak kita.

Perhatikan Firman Allah : “Dan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An Nisa : 9).

Semoga Allah menjadikan anak dan keturunan kita yang sholeh dan sholehah. Amiin. (Ust. H. Al Hilal – Air Kuti)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *