Masih Ada Waktu …..

“Demi waktu,sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Dan saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam menapaki kesabaran.”(QS. Al Asri;1-3)

Dalam banyak ayat dalam kitab suci Al Qur’an, Allah SWT berfirman tentang waktu. Contohnya dalam surat Dhuha, Al Fajr, Al Asri dan sebagainya. Hal ini menandakan bahwa waktu itu sangatlah penting untuk diperhatikan, karena tidak mungkin Allah SWT mengulang-ulang sesuatu tanpa ada maksud/hikmah/pela-jaran didalamnya.

Dan ternyata benar,bahwa kehidupan kita ini berjalan pada putaran waktu yang diberikan Nya kepada kita.

Setiap kita memiliki waktu yang sama dalam hidup ini dimanapun kita berada dan apapun pekerjaan/profesi kita, yaitu dua puluh empat jam dalam sehari semalam. Tidak memandang apakah dia dokter atau penarik becak, seorang mahasiswa ataupun dosen, atau bahkan presiden ataupun pengamen.

Namun dengan waktu yang sama itu, yaitu 24 jam sehari semalam, akan membawa manusia kepada dua sisi yang berlainan. Ada yang berhasil dan ada yang tidak berhasil. disatu sisi ada manusia yang berada dalam kesuksesan yang gemilang.

Namun disisi lainnya ada manusia yang terpuruk dalam jurang kehancuran. Semua tergantung pada pemanfaatan waktu yang diberikan itu. Ketika kita mampu memanfaat-kannya dengan baik, maka kebaikan juga lah yang akan kita dapatkan.

Pepatah Arab mengatakan bahwa waktu ibarat pedang. Pandai-pandailah menggunakan-nya, jika tidak maka bisa jadi kita kan dibinasa-kannya. Senada dengan orang Arab, orang Barat pun mengatakan bahwa waktu adalah uang. Dengan waktu yang dimanfaatkan dengan baik, maka kita akan mendapatkan keinginan. Namun ketika waktu disia-siakan, maka akan merugilah kita. Menyia-nyiakan waktu sama artinya dengan menghambur-hamburkan uang untuk berfoya-foya. Pepatah ini diambil, bukan kita kemudian menjadi materialistik. Namun ambil ini sebagai suatu motivasi agar kita mampu memanfaatkan waktu dengan baik.

Beruntung, berhasil dan sukses itu adalah tiga hal yang tampak sama namun berbeda pada hakikatnya. Keberuntungan adalah sesuatu yang kita dapatkan tiba-tiba tanpa ada target kerja yang terencana, contoh keberuntungan adalah mendapat hadiah undian, apapun bentuknya. Keberhasilan adalah pencapaian target kerja sesuai dengan rencana walau dan cukup.

Sedangkan sukses adalah tercapainya target kerja terencana dengan sangat memuas-kan bahkan melebihi dari yang direncanakan. Menda-patkan keberuntungan itu tak masalah. Akan menjadi masalah ketika keberuntungan itu menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu dan diharapkan. Yang baik adalah berusaha menda-patkan kesuksesan atau minimal keberhasilan. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat kita lakukan untuk menuju keberhasilan atau bahkan kesuksesan.

Pertama, Kenali potensi diri. Setiap kita memiliki dua petensi sekaligus dalam diri, yaitu potensi positif dan potensi negatif. Potensi positif adalah segala kelebihan dan keunggulan yang kita miliki dalam menunjang keberhasilan.

Sedangkan potensi negatif adalah segala kekurangan yang ada pada diri kita yang berpo-tensi menghambat dalam rangkan menggapai kesuksesan. Ketika kita telah mengenal kelebihan dan kekurangan kita, maka kita harus memaksi-malkan kelebihan yang ada untuk menutupi kelemahan kita.

Kedua, Membuat target yang ingin dicapai. Dengan membuat target yang ingin dicapai, maka alur kehidupan dan kerja kita akan lebih terarah. Target kerja bisa diartikan dengan cita-cita ataupun impian. Cita-cita atau impian berbeda dengan angan-angan atau hayalan. Orang yang mempunyai cita-cita ataupun impian biasanya akan merencanakan dan tahu apa yang harus dilakukan dengan segala konsekuansi dan resikonya yang biasanya bermuara pada keber-hasilan. Sedangkan orang yang berangan-angan atau berhayal, biasanya menyandarkan pada sesuatu yang tidak pasti, dan berujung pada pengharapan akan keberuntungan. Pada-hal keberuntungan itu hanya dating sesekali, itupun kalau datang. Dan biasanya juga keberun-tungan itu tidak datang pada orang yang meng-harapkannya.

Setiap orang mesti memiliki impian jika ingin berhasil. Tidak peduli dia pejabat atau penarik becak, petani ataupun juragan.

Kerja keras harus ada target yang ingin dicapai lima, sepuluh ataupun dua puluh tahun yang akan datang.

Tanpa adanya target,berarti kita telah puas dengan keadaan kita sekarang. Sementara dunia tidak diam dan selalu bergerak kedepan. Ketika kita berdiam dan puas dengan keadaan sekarang bisa jadi kita akan ketinggalan dan tergerus oleh perputaran jaman.

Islam tidak menginginkan kita diam dalam Hadistnya Rasulullah SAW. bersabda, ”Bekerjalah kalian untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya. Dan bekerjalah kamu untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati esok hari”

keberhasilah tidak harus selalu diukur dengan kekayaan. Kaya atau miskin itu adalah bagian yang memang harus ada sebagai perimbangan kehidupan.

Tapi keberhasilan adalah pilihan yang dimiliki semua orang. Sikaya ataupun simiskin, mempu-nyai kesempatan yang sama dalam memilih untuk berhasil atau tidak berhasil. untuk berhasil harus ada upaya dan kerja keras diiringi dengan keyakinan akan mendapatkannya.

Ketiga, Menghargai. Setelah kita menge-nali potensi diri dan menentukan target yang ingin dicapai, hal selanjutnya yang mesti kita ingat adalah menghargai segala hal. Mengharghai waktu, menghargai diri sendiri dan mengahargai orang lain.

Dengan menghargai waktu, maka kita akan memanfaatkan waktu yang kita miliki dengan baik. Ketika kita menghargai diri kita sendiri berarti timbul jiwa yang optimis dalam diri kita. Ketika kita menghargai orang lain maka orang lain pun akan menghargai diri kita.

Dan perlu diingat hidup didunia ini semen-tara. Rencanakanlah kehidupan dengan baik. Jangan sampai kehidupan membinasakan kita karena kita tidak mengikuti alur perjalanannya. Dan jangan sampai pula kehidupan melalaikan kita sehingga kita terlena dalam buaian dunia.

Dunia yang sementara, tentu ada tujuan akhir yang akan kita tuju. Tujuan akhir dari kehidupan adalah akhirat yang menyediakan kebahagiaan dan kesengsaraan. Berbahagia bagi orang yang mampu menjalaninya sesuai dengan koridor agama dan akhir penderitaan yang abadi bagi orang yang tersesat dari jalan yang terang. Untuk selamat dalam menempuhnya, maka dibu-tuhkan ketulusan untuk memanfaatkan waktu yang diberikan Nya untuk bekerja dana beriba-dah. Bekerja untuk mempertahankan hidup di dunia dan beribadah sebagai bekal menuju akhirat Nya.

Ingatlah, waktu itu ibarat pedang. Semoga waktu tidak membinasakan kita. Dengan sukses hidup di dunia dan sukses juga menuju akhirat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *