Kasih Sayang Memperindah Diri Kita

Maha Suci Allah, zat yang mengaruniakan kasih sayang kepada makhluk-makhluknya. Tidaklah kasih sayang melekat pada diri seseorang, kecuali akan memperindah orang tersebut, dan tidaklah kasih sayang terlepas dari diri seseorang kecuali akan memperburuk dan menghinakan orang tersebut.

Betapa tidak?

Jikalau kemampuan kita menyayangi orang lain tercerabut, maka itulah biang dari segala bencana, karena kasih sayang Allah ternyata hanya akan diberikan kepada orang-orang yang masih hidup kasih sayang kalbunya.

Rasulullah SAW. Bersabda, “Allah SWT. mempunyai seratus rahmat (kasih sayang), dan menurunkan satu rahmat (dari seratus rahmat) kepada jin, manusia, binatang dan hewan melata. Dengan rahmat itu mereka saling berbelas-kasih dan berkasih sayang, dan dengannya pula binatang-binatang buas menyayangi anak-anaknya. Dan (Allah SWT) menangguhkan 99 bagian rahmat itu sebagai kasih sayang-Nya pada hari kiamat nanti.” (HR. Muslim).

Dari hadits ini tampaklah bahwa walau hanya satu rahmat-Nya yang diturunkan ke bumi, namun dampaknya bagi seluruh makhluk sungguh luar biasa dahsyatnya.

Karenanya, sudah sepantasnya jikalau kita merindukan kasih sayang, perhatian dan perlindungan Allah SWT, tanyakanlah kembali pada diri ini, sampai sejauh mana kita menghidupkan kalbu untuk saling berkasih sayang bersama makhluk lain?

Kasih sayang diibaratkan sebuah mata air yang selalu bergejolak keinginannya untuk melepaskan beribu-ribu kubik air bening yang mem-buncah dari dalamnya tanpa pernah habis.

Kepada air yang telah mengalir untuk selanjutnya menderas mengikuti alur sungai menuju lautan luas, mata air sama sekali tidak pernah mengharapkan ia kembali. Sama pula seperti pancaran sinar matahari di pagi hari dari dulu sampai sekarang ia terus menerus memancarkan sinarnya tanpa henti, dan sama pula, matahari tidak mengharap sedikitpun sang cahaya yang telah terpencar kembali pada dirinya. Seharusnya seperti itulah sumber kasih sayang di kalbu kita, ia benar-benar melimpah terus tidak pernah ada habisnya.

Tidak ada salahnya agar muncul kepekaan kita menyayangi orang lain, kita mengawalinya dengan menyayangi diri kita dulu. Mulailah dengan menghadapkan tubuh kita kecermin seraya bertanya, apakah wajah indah ini akan bercahaya di akhirat nanti, atau justru sebalinya, wajah ini akan gosong terbakar nyala api Jahannam?

Tataplah hitamnya mata kita, apakah mata ini, mata yang bisa menatap Allah, menatap Rasulullah SAW. menatap para kekasih Allah di Surga kelak, atau malah akan terburai karena kemaksiatan yang pernah dilakukannya?

Bibir kita apakah ia akan bisa tersenyum gembira di Surga sana atau malah bibir yang lidahnya akan menjulur tercabik-cabik?

Perhatikan pula tubuh tegap kita, apakah ia akan berpendar penuh cahaya di Surga sana, sehingga layak berdampingan dengan si pemilik tubuh mulia, Rasulullah SAW. atau tubuh ini malah akan membara, menjadi bahan bakar bersama hangusnya batu-batu di kerak neraka Jahannam?

Ketika memandang kaki, tanyakanlah apakah ia senantiasa melangkah di jalan Allah sehingga berhak menginjakkannya di Surga kelak, atau malah akan dicabik-cabik pisau berduri.

Bersihnya kulit kita, renungkanlah apakah ia akan menjadi indah bercahaya ataukah akan hitam legam karena gosong dijilat lidah api Jahannam?

Mudah-mudahan dengan bercermin sambil menafakuri diri, kita akan lebih mempunyai kekuatan untuk menjaga diri kita. Jangan pula mere-mehkan makhluk ciptaan Allah, sebab tidaklah Allah menciptkan makhluknya dengan sia-sia. Semua yang Allah ciptakan syarat dengan ilmu, hikmah dan ladang amal.

Semua yang bergerak, yang terlihat, yang terdengar, dan apa saja karunia dari Allah adalah jalan bagi kita untuk bertafakur jikalau hati ini bisa merabanya dengan kasih sayang.

Dikisahkan dihari akhir datang seorang hamba ahli ibadah kepada Allah dengan membawa aneka pahala ibadah tetapi Allah malah men-capnya sebagai ahli Neraka, mengapa?

Ternyata karena suatu ketika si ahli ibadah ini pernah mengurung seekor kucing sehingga si kucing tidak bisa mencari makan dan tidak pula diberi makan oleh si ahli ibadah ini. Akhirnya mati kelaparanlah kucing ini.

Ternyata walau ia seorang ahli ibadah, dan Allah menetapkannya sebagai seorang ahli Neraka, tiada lain karena tidak hidup kasih sayang di kalbunya.

Tetapi ada kisah sebaliknya, suatu waktu seorang wanita berlumur dosa sedang beristirahat di pinggir sebuah oase yang berair dalam di sebuah lembah padang pasir. Tiba-tiba datanglah seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya seakan sedang merasakan kehausan yang luar biasa. Walau tidak mungkin terjangkau karena dalamnya air di oase itu, anjing itu tetap berusaha menjangkaunya, tapi tidak dapat. Melihat kejadian ini, tergeraklah si wanita untuk menolongnya.

Dibukalah slopnya untuk dipakai menceduk air, setelah air didapat, diberikannya pada anjing yang kehausan tersebut. Subhanallah, dengan izin Allah, terampunlah dosa wanita ini. Demikianlah, jikalau hati kita mampu meraba derita makhluk lain, Insya Allah keinginan untuk berbuat baik akan muncul dengan sendirinya.

Kisah lain, ketika suatu waktu ada seseorang terkena penyakit tumor yang sudah menahun. Karena tidak punya biaya untuk berobat, maka berkunjunglah ia kepada orang-orang yang dianggapnya mampu memberi pinjaman biaya. Bagi orang yang tidak hidup kasih sayang di kalbunya, ketika datang orang yang akan meminjam uang ini justru yang terlintas dalam pikirannya seolah-olah harta yang dimilikinya akan di ambil oleh dia, bukannya memberi, malah ia ketakutan hartanya akan habis atau bahkan jatuh miskin. Tetapi bagi seorang hamba yang tumbuh kasih sayang dikalbunya, ketika datang yang akan meminjam uang, justru yang muncul rasa iba terhadap penderitaan orang lain. Bahkan jauh dilubuk hatinya yang paling dalam akan membayangkan bagaimana kalau yang menderita itu dirinya. Terlebih lagi dia sangat menyadari ada hak orang lain yang dititipkan Allah di hartanya.

Karenanya dia begitu ringan memberikan sesuatu kepada orang yang memang membutuhkan bantuannya. Ingatlah, hidupnya hati hanya dapat dibuktikan dengan apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain dengan ikhlas.

Apa artinya hidup kalau tidak punya manfaat?

Padahal hidup didunia cuma sekali dan itupun hanya mampir sebentar saja. Tidak ada salahnya kita berpikir terus dan bekerja keras untuk menghidupkan kasih sayang di hati ini.

Insya Allah bagi yang telah tumbuh kasih sayang di kalbunya, Allah azza wa jallah, zat yang Maha melimpah kasih sayangnya akan mengaruniakan ringannya mencari nafkah dan ringan pula dalam menafkahkannya dijalan Allah, ringan dalam mencari ilmu dan ringan pula mengajarkan-nya kepada orang lain, ringan dalam melatih kemampuan diri dan ringan pula dalam membela orang lain yang teraniaya, Subhanallah.

Cara lain yang dianjurkan Rasulullah SAW. untuk menghidupkan hati nurani agar senantiasa diliputi nur kasih sayang adalah dengan melaku-kan banyak silaturahmi kepada orang-orang yang dilanda kesulitan, datang ke daerah terpencil, tengok saudara-saudara kita dirumah sakit, atau pula dengan selalu mengingat umat islam yang sedang teraniaya.

Belajarlah terus untuk melihat orang yang kondisinya jauh dibawah kita, insya Allah hati kita akan melembut karena senantiasa tercahayai pancaran sinar kasih sayang. Dan jangan hanya bergaul dengan orang kaya saja, orang terkenal, para elite karena yang akan muncul justru perasaan kurang dan kurang akan dunia ini, Wallahu a’lam. (Ustd H. Salman Muchtar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *