Implementasi Haji dalam Kehidupan Sehari-hari

KITA sebagai umat Islam tentu sudah tahu bahwa menunaikan ibadah haji adalah rukun Islam yang kelima sangat didambakan oleh orang-orang beriman dan gemar beramal saleh karena memahami keutamaannya. Balasan haji yang diterima oleh Allah (mabrur) adalah surga (HR.Buhari-Muslim).

Menunaikan ibadah haji adalah kewajiban yang dibebankan kepada umat Islam yang berkesanggupan menunaikannya (QS. Ali Imran:97), yaitu sanggup perbekalan dan sanggup kendaraan menuju ke tempat pelaksanaan haji (HR. Daraquthni).

Dengan demikian kewajiban haji tidak berlaku bagi orang yang tidak mampu. Hal ini sesuai dengan firman Allah, ”Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kesanggupanmu”(QS. At Tagha-bun : 18), ”Allah tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah : 286).

Jadi, tidak boleh memasakan diri untuk melaksanakan ibadah ini. Sebaliknya bagi orang yang sanggup perbekalan dan sanggup kendaraan lalu melalaikan ibadah ini maka bila mati akan mendapat tuntutan dan balasan Neraka.
Banyak di antara kita yang sebenarnya memiliki kelapangan ekonomi (mampu) untuk untuk melaksanakan ibadah ini, namun berbagai alasan yang menghalanginya.

Dan banyak pula yang memanfaatkan kekayaannya untuk menunaikan ibadah ini, namun tiada yang mereka peroleh melainkan sekedar gelar haji dan songkok putih.

Hatinya tidak berhasil menemukan haji di tanah suci, tidak berhasil meraih hakekat melainkan syariat semata yang dilakukannya maka setelah pulang ke tanah air tidak membawa cahaya haji, yang nampak hanyalah riya’, kesombongan dan berlindung di balik gelar haji. Nilai-nilai haji tidak tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Semua ibadah yang disyariatkan adalah milik Allah, diterima atau tidak diterimanya ibadah seseorang hanya Allah yang tahu. Namun, kita bisa mendapat gambaran dari sikap dan perilaku kesehariannya. Misalnya ibadah shalat yang berfungsi mencegah dari perbuatan keji dan mungkar (QS. Al Ankaabut : 45).

Diterimanya shalat seseorang dilihat dari berfungsinya shalat itu, yaitu seseorang mampu membebaskan diri dari perubuatan keji dan mungkar, hal ini terjadi karena orang yang ikhlas shalat akan selalu mengingat Allah dikala berhadapan dengan peruatan keji dan mungkar.

Dengan mengingat Allah (murka dan azab-Nya) maka tentu mereka tidak akan berdaya melakukan perbuatan keji dan mungkar. Dan orang yang tidak diterima shalatnya tentu tergambar pula dari sikap dan prilakunya yang tidak sanggup membebaskan dirinya dari perbuatan keji dan mungkar.

Begitupun halnya ibadah haji. Mabrur atau tidaknya hanya Allah yang tahu. Namun, kita bisa memperoleh gambaran mabrur tidaknya seseorang yang telah berhaji dari sikap dan tingkah lakunya yang mencerminkan nilai-nilai haji, bukan dilihat dari namanya yang bergelar Haji atau hajjah, bukan pula dari pakaiannya yang mereka beri istilah pakaian haji.

Islam tidak mengenal kedua hal ini yaitu pemberian gelar haji bagi yang telah menunaikan ibadah haji. Dibolehkan dalam urusan dunia memakai gelar haji asal jangan mengandung riya atau kesombongan karena kedua hanya merusak kehajian.

Begitupula istilah pakaian haji bagi wanita yang berupa penutup kepala tetapi kelihatan aurat di leher itu  tidak sesuai dengan syariat Allah yang mengharuskan memakai jlbab yang menutupi sampai ke dada (QS. An Nur:31).
Sahnya suatu ibadah adalah bila terpenuhi syarat dan rukunnya, sedangkan syarat diterimanya adalah bila terpenuhi dua hal, yaitu :

1. Keikhlasan

Semua ibadah yang disyariatkan berasal dari Allah dan semata-mata untuk Allah. Dan kita diperintahkan menyembah kepada-Nya dengan memurnikan/mengikhlaskan ketaatan dalam menjalankan agama (QS. Al Bayyinah : 5).

Oleh karena itu, segala yang kita lakukan harus ikhlas, yaitu dilakukan semata-mata kepada Allah, karena ketaatan kepada Allah atau karena mengharap balasan dari Allah atau karena mengharapkan Ridho dan Rahmat Allah.

Tidak boleh ditujukan kepada selain Allah, seperti mengharap pujian dan penghormatan manusia, mengharap suatu jabatan atau kedudukan dalam masyarakat, dan lain-lain yang diperoleh dari sesama manusia. Keihklasan seseorang bukan terucap di mulut, melainkan terdapat didalam hati yang Allah lebih mengetahuinya.

2. Ketepatan

Ketepatan suatu ibadah yang bisa diterima Allah dilihat dari dua hal, yaitu memiliki dasar syariat dan pelaksanaannya sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.

Setiap amalan ibadah harus memiliki dasar syariat dalam Al Quran atau Sunnah Rasul, kalau tidak maka Rasulullah SAW menyatakannya sebagai amalan yang tertolak (HR. Bukhari-Muslim), atau amalan yang mengada-ada yang diperintahkan untuk ditinggalkan (HR. Abu Dawud).

Ketepatan pelaksanaannya, antara lain tepat tempat berhaji yaitu Mekah dan di Madinah, bukan di tempat lain, syarat bepergian bagi wanita yaitu ditemani oleh mukhrimnya, dan tepat pelaksanaannya yaitu sesuai dengan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, sebagai-mana pesan Rasulullah SAW, “Berhajilah sebagaimana kalian melihat aku berhaji” (HR. Asy Syaukani).

Bila ibadah haji dilaksanakan dengan ikhlas dan tepat maka Insya Allah akan diterima oleh Allah dan diberinya nilai yang baik, antara lain kesucian dan kesempurnaan sebagai seorang muslim yang balasannya adalah surga.

Nilai kesucian

Haji yang mabrur akan diampuni Allah dosa-dosanya (HR. Ahmad, Nasai dan Ibnu Majah), dia akan pulang ke tanah airnya dalam keadaan suci dari dosa-dosa. Maha Suci Allah yang mencintai hati yang suci. Beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya  (QS. Asy Syams : 9).

Kesucian inilah yang harus dijaga, dengan senantiasa menjaga diri dari aqidah dan amalan yang dapat mengotori hati, baik bila sendirian maupun bila bersama dengan orang lain.

Hendaknya menjaga kesucian aqidah bahwa tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya, menjauhkan diri pada keyakinan tentang adanya kekuatan selain kekuatan Allah yang bisa mendatangkan manfaat atau mudharat.

Hendaknya pula menjaga diri dari perbuatan maksiat baik sendiri-sendiri maupun secara berjamaah, dari perbuatan mencampuaradukkan kebenaran dengan kebatilan, dari amalan bid’ah dan yang mengandung kesyirikan seperti memakai jimat, mendatangi dukun, memuja kuburan keramat atau memuja-muja batu/benda yang dianggap sakti.

Nilai kesucian haji bagi pejabat atau pegawai yang telah berhaji tinggalkan kecurangan dalam mengelola uang negara, tinggalkan praktek menyogok dan disogok, tinggalkan praktek korupsi-kolusi dan nepotisme.

Nilai kesucian haji adalah membuang kesombongan yang meninggi-ninggikan diri dan yang marah bila seseorang tidak menyebut gelar hajinya. Dipertanyakan kehajiannya bagi seorang haji yang masih gemar mencurangi anggaran, sogok menyogok, mendatangi dukun, memakai jimat atau memuja menjadi hamba kuburan keramat.

Nilai kesempurnaan

Seseorang yang telah menunaikan ibadah haji berarti telah melaksanakan kelima rukun Islam yang secara syariat dia telah sempurna dalam beragama Islam. Namun, yang perlu dijaga adalah kesempurnaan secara hakekat, yaitu sempurna aqidah dan ketakwaannya kepada Allah.

Haji yang mabrur akan tergambar pada sikap dan perilaku seseorang, antara lain sabar dan tawakkal, senantiasa mensyukuri nikmat Allah, banyak melakukan amal saleh baik amalan wajib maupun amalan sunnah, sederhana dalam sikap dan perbuatan, menjunjung tinggi nilai kejujuran, kebenaran dan keadilan. Menjadi teladan bagi umat Islam lainnya yang haji dari sikap, perkataan dan perbuatannya.

Nilai kesempurnaan seseorang yang telah meraih haji mabrur adalah adanya perubahan sikap dan prilaku ke arah yang lebih baik sebelum berhaji, dari yang suka curang menjadi jujur, dari malas ke masjid berjamaah menjadi rajin, dari yang malam beribadah menjadi banyak beramal saleh, dari sombong menjadi rendah hati, dari kikir menjadi dermawan, dari pengikut bid’ah menjadi pengikut sunnah, dan lain-lain.

Haji bukan hanya pada saat kita melaksanakan rukun-rukunnya di Negara Arab Saudi dan setelah pulang ke tanah air kita memakai gelar haji/hajjah dengan memakai pakaian haji,.

Melainkan harus diimplementasi nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari di dalam keluarga, masyarakat atau di tempat kerja, nilai haji yang perlu diwujudkan/dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari adalah nilai kesucian dan kesempur-naan beragama.  Wallahu a’lam. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *