Hakekat Amanah Dalam Kehidupan Kita

DALAM kehidupan kita tidak lepas dari yang namanya Amanah. Ketika kita bekerja atau mengambil suatu tanggung jawab tidak terlepas dari melaksanakan amanah tersebut.

Termasuk dalam berkeluarga dan mendapatkan keturunan itu juga merupakan amanah yang harus dijaga baik-baik.

Lalai dari amanah akan menyebabkan kerugian dan hukuman baik dalam tanggung jawab dunia ini maupun nanti diakhirat.

Betapa banyak orang yang kita ketahui dan temui yang telah gagal dalam menjalankan amanah. Tentu mereka mengalami kerugian dan kemalangan karena tidak mampu menjalankan amanah yang dibebankan tersebut

Amanah merupakan salah satu sifat mulia yang dimiliki oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ajaran untuk bersifat amanah ini sejalan dengan perintah Allah di surat An Nisa ayat 58 yang artinya, “Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.  Sungguh, Allah sebaik-baik yang Memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat”.

Selain itu, Nabi Muhammad juga pernah bersabda tentang amanah, yang diriwayatkan oleh Ahmad, “Tidak ada iman yang sempurna bagi orang yang tidak memiliki sifat amanah, dan tidak ada agama yang sempurna bagi orang yang tidak menepati janji”.

Lalu, apakah amanah itu?

Amanah memiliki arti dipercaya atau terpercaya. Sementara itu, jika dilihat dari sisi aqidah dan syariat agama, amanah adalah segala sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan dan berkaitan dengan orang lain atau pihak lain.

Amanah bisa berupa benda, pekerjaan, perkataan, ataupun kepercayaan. Maka, amanah bisa berbentuk apa saja yang nantinya akan dimintai pertanggungjawabannya.

Pandangan Islam tentang Amanah

Sebagai umat Islam, kita pasti telah mengetahui bahwa agama kita mengajarkan untuk menjaga amanah yang kita terima dari orang lain. Bahkan, Islam mewajibkan kita untuk memelihara amanah, yaitu dengan bersikap jujur dan bisa dipercaya.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Kamu sekalian pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang kamu pimpin, imam (pejabat apa saja) adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggungjawabannya tentang apa yang dipimpinnya, dan orang laki-laki (suami) adalah pemimpin dalam lingkungan keluarganya, dan ia akan ditanya tentang apa yang ia pimpin, seorang perempuan (istri) juga pemimpin, dalam mengendalikan rumah tangga suaminya, dan ia juga akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya, dan pembantu rumah tangga juga pemimpin dalam mengawasi harta benda majikannya, dan dia juga akan ditanya tentang apa yang ia pimpin.” (H.R. Ahmad, Muttafaq ‘alaih, Abu Daud dan Tirmidzi dari Ibnu Umar).

Dari hadis tersebut, kita mengetahui bahwa semua manusia adalah pemimpin, yang berarti mereka memiliki amanah yang harus dijaga.

Jika seseorang terlihat tidak memiliki sesuatu yang dipimpin, setidaknya dia memimpin dirinya sendiri. Artinya, Allah telah memberi amanah untuk menjaga dirinya dari semua hal yang dilarang Allah.

Kemampuan seseorang menjaga amanah merupakan tolak ukur akan usahanya menjalankan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi larangannya.

Tidak hanya untuk segi ibadah, seseorang yang bersifat amanah juga akan memiliki hubungan yang baik dengan manusia lainnya. Dia akan menjadi bisa dipercaya dan dihormati oleh orang-orang di sekitarnya.

Allah menempatkan amanah sebagai satu akhlak yang memiliki kedudukan sangat spesial bagi manusia. Bahkan, seseorang yang memiliki sikap amanah bisa menjadi kekasih Allah.

Sebaliknya, seseorang yang suka berkhianat sangat dibenci oleh Allah dan akan diperlihatkan kepada seluruh makhluk di hari pembalasan kelak.

Hal ini tercermin dalam hadist yang diriwayatkan Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Bila Allah menghimpun seluruh makhluk-Nya, dari generasi terdahulu sampai generasi terakhir ketika kiamat ditegakkan, maka kepada mereka yang berkhianat diberikan sebuah bendera sebagai tanda bahwa mereka adalah pengkhianat.” (H.R. Muslim).

Amanah yang merupakan sifat yang mulia, merupakan sifat yang wajib untuk dimiliki semua muslim. Tidak hanya terkait dengan hubungannya dengan manusia, tetapi juga bersifat amanah terhadap semua yang diberikan Allah.

Dalam surat al Anfal ayat 27, Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah yang telah dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”.

Tidak hanya itu, dalam surat Al Baqarah ayat 283, juga disebutkan tentang kewajiban bersifat amanah, ”Dan jika kamu sedang dalam perjalanan sedang kamu tidak mendapatkan seorang penulis, maka hendaklah ada barang jaminan yang dipegang.

Tetapi, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya. Dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian, karena barangsiapa menyembunyikannya, sungguh, hatinya kotor (berdosa). Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Tipe Manusia dalam Memegang Amanah

Selain ayat al Quran dan hadis di atas, masih ada banyak lagi ayat dan hadis yang berbicara tentang keharusan bersifat amanah.

Hal ini menggambarkan betapa pentingnya amanah dalam Islam. Namun, secara singkat ada beberapa tipe manusia yang dibagi dari bagaimana mereka mengemban amanah yang diberikan, yaitu:

1. Seseorang yang secara kasat mata terlihat memegang amanah, namun di hatinya mereka melalaikan amanah tersebut. Orang seperti ini termasuk orang yang munafik, yaitu menampakkan sesuatu yang tidak sama dengan apa yang ada di dalam hati mereka.

2. Seseorang yang terlihat tidak amanah dan memang tidak mengemban amanah. Orang-orang ini termasuk orang yang kufur dan tidak menjalankan syariat agama Islam.

3. Seseorang yang menjaga amanah dan menunaikannya dengan sungguh-sungguh. Mereka yang berperilaku demikian sungguh orang yang beruntung karena akan dicintai Allah dan mendapatkan rahmat-Nya.

Jenis dan Tingkatan Amanah

Telah dibahas secara singkat sebelumnya bahwa amanah tidak terbatas pada apa yang kita terima dari manusia lain atau makhluk lain. Seperti yang telah disebutkan dalam surat al Anfal ayat 27, amanah juga mencakup perintah dari Allah, hukum atau syariat agama dan lainnya.

Jika demikian, tentu kita tahu bahwa amanah yang kita terima dari Allah tentu memiliki kedudukan yang berbeda dibandingkan amanah yang kita terima dari makhluk.

Dari surat al Anfat ayat 27, kita mengetahui bahwa amanah bisa kita terima dari Allah, Rasul dan manusia lain. Berikut ini penjelasannya:

1. Amanah dari Allah
Allah menciptakan manusia tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Maka, kita diberi amanah untuk bisa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Kita wajib mentauhidkan Allah dan hanya beribadah kepada Allah. Dengan demikian, mengkhianati Allah dengan berbuat syirik dan menyekutukan Allah merupakan perbuatan yang terlarang.

Amanah ini merupakan amanah yang paling besar yang kita terima. Oleh karena itu, kedudukan amanah ini ada di atas semua hal lainnya. Tidak boleh kita mendahulukan amanah lainnya yang bisa mengganggu kita dalam menjaga amanah dari Allah ini.

2. Amanah dari Rasul
Sebagai umat muslim, kita juga harus memenuhi hak-hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara hak-hak Beliau adalah kita harus mencintai Beliau.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak (sempurna) keimanan salah seorang di antara kalian sampai aku lebih dia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia”.

Lalu, Umar radhiallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau paling aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku”.

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak sempurna keimanan salah seorang di antara kalian sampai aku menjadi orang yang paling dia cintai, termasuk dari dirinya sendiri”.

Umar radhiallahu ‘anhu pun menjawab, “Sekarang, demi Allah, Anda yang paling saya cintai termasuk dari diri saya sendiri”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sekarang wahai Umar (imanmu sempurna)”.

Selain itu mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita juga diberi amanah untuk beriman terhadap apa yang beliau ajarkan, memuliakannya dan membenarkan apa yang beliau kabarkan.  Maka, kita harus menjalankan apa yang telah beliau ajarkan dan teladankan kepada kita.

3. Amanah dari manusia lainnya
Untuk amanah yang ketiga ini mungkin sangat mudah kita temukan di kehidupan sehari-hari.  Sebagai manusia kita mengemban amanah sebagai pemimpin di muka bumi, minimal memimpin diri kita sendiri.

Kita juga berinteraksi dengan manusia lainnya yang juga akan membawa kita memikul amanah lainnya, seperti kepercayaan, janji, ataupun tanggung jawab lainnya.

Semua amanah yang kita pikul ini akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.  Maka, amat penting bagi kita untuk selalu menjaga amanah yang kita terima, selama amanah tersebut tidak bertentangan dengan amanah kita dari Allah subhanahu wa ta’ala. (*) Wallahu a’lam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *