Bersungguh-sungguh dalam Keta’atan

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاء وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ

“Tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada diantara keduanya dengan main-main.” (QS. Al-Anbiya’: 16)

Tahukah kita, jantung yang ada dalam tubuh kita adalah alat pemompa yang menakjubkan. Ia bekerja terus tanpa henti sejak minggu ke-4 dari kehidupan manusia (di dalam rahim) hingga kematiannya.

Jika seorang berumur 60 tahun, berarti selama itulah jantungnya tidak pernah berhenti memompa darah. Adakah pemompa didunia ini yang tahan bekerja selama 60 tahun tanpa henti?

Jantung manusia beratnya tidak lebih dari 250 gram. Ia berdenyut 70 kali permenit atau 100 ribu kali perhari. Ia menyemprotkan darah sebanyak 5 liter permenit atau 1,5 juta gallon pertahun, meskipun darah yang di semprotkan adalah yang itu-itu juga.

Alat pemompa yang menakjubkan ini mengirimkan darah ke selaput nadi, urat syaraf, dan pembuluh darah, yang jika semua itu diletakkan secara berurutan pada sebuah garis lurus maka panjangnya bisa mencapai 60-100mil!

Tahukah kita, Galaksi Bima Sakti hanyalah salah satu (gugusan bintang) di dalam system tata surya kita Galaksi Bima Sakti terdiri dari sekitar 200 milyar.

Para astronom memperkirakan bahwa di alam raya ini terdapat milyaran galaksi, dengan sekitar 1.000 trilyun planet dan bintang. Setiap bintang atau galaksi berjalan pada orbitnya dengan kecepatan kira-kira 65.000 km perdetik.

Diantara bintang-bintang itu ada yang berukuran ribuan kali besar Matahari yang jaraknya dari bumi adalah jutaan tahun cahaya. Satu tahun cahaya kira-kira 9.416 milyar km atau sekitar 10.000 tahun!

Itulah tanda-tanda kemahakuasaan Allah SWT. Itulah ayat-ayat kawniyyah-NYa. Semua ayat-ayat kawniyyah itu pada akhirnya meneguhkan klaim Allah SWT sendiri : “Tidaklah kami menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada diantara keduanya dengan main-main”. (QS. Al Anbiya’ :16).

Benar Allah SWT. tidak pernah bermain-main. Sebagaimana kata Einstein, Tuhan tidak sedang bermain dadu ketika menciptakan alam raya ini. Artinya, Allah SWT. menciptakan jagad raya ini dengan sungguh-sungguh.

Allah SWT. juga tentu tidak main-main ketika menurunkan ayat ayat qawliyyah-Nya, yakni Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak lain adalah kalam Allah SWT., Firman Zat Yang Maha Kuasa. Di dalamnya tidak secuil pun cacat cela, yang membuktikan bahwa Al-Qur’an

sebagaimana klaim-Nya benar-benar dari sisi-Nya sebagaiman firman-Nya : “Tidakkah kalian memperhatikan Al-Qur’an? Seandainya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentu mereka bakal menjumpai banyak pertentangan di dalamnya. (QS. An-Nisa’ : 82).

Jika Allah tidak pernah main-main dengan ayat ayat kawniyyah-Nya (penciptaan alam semesta), juga dengan ayat-ayat Qawliyyah-Nya (Al-Qur’an), kita mendapati justru manusia malah sering ‘bermain-main’ dan mempermainkan ayat-ayat Allah.

Ketika Allah tidak pernah main-main menciptakan jagad raya ini, termasuk manusia, kita mendapati banyak manusia justru sering ‘bermain-main’ dengan kehidupannya ; tidak serius dan sungguh-sungguh menjalani tugasnya sebagai hamba Allah, yakni beribadah kepada-Nya dalam makna yang seluas-luasnya.

Padahal bukankah ibadah (pengabdian kepada Allah) merupakan raisond’etre (alasan untuk dasar kebenaran) penciptaan manusia?

Allah SWT. berfirman yang artinya : “Aku Tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mengabdi kepada-Ku”. (QS Adz-DZariyat : 56).

Sebagai muslim, kita tentu patut meneladani Nabi Muhammad saw. Dan para sahabatnya, yang senantiasa menjalani kehidupan ini dengan serius dan sungguh-sungguh tanpa pernah bermain-main terutama dalam urusan ibadah, dakwah dan jihad.

Dalam urusan ibadah, kita tahu Rasulullah SAW. adalah orang yang paling banyak melakukannya. Nabi SAW. tidak pernah meninggalkan shalat malam, bahkan hingga kakinya sering bengkak-bengkak karena lamanya berdiri ketika shalat.

Nabi pun orang yang paling banyak berpuasa, bahkan puasa wishal, karena begitu seringnya Beliau tidak menjumpai makanan di rumahnya.

Nabi SAW. juga yang paling banyak bertobat, tidak kurang dari 100 kali dalam sehari, padahal Beliau adalah orang yang ma’sum (terpelihara dari dosa) dan dijamin masuk Surga.

Meski tak sehebat Rasul SAW., para sahabat adalah orang yang paling istimewa ibadahnya setelah Beliau, tidak ada yang melebihi mereka.

Mereka misalnya, adalah orang yang paling banyak menghatamkan Al- Qur’an, paling tidak sebulan sekali, bahkan ada yang kurang dari itu, menurut Utsman bin Affan ra., banyak sahabat yang menghatamkan Al-Qur’an seminggu sekali.

Mereka antara lain Abdullah bin Mas’ud, Ubay bin Kaab, dan Zaid bin TSabit. Utsman ra. sendiri sering menghatamkan Al-Qur’an hanya dalam waktu semalam. Itu sering ia lakukan dalam shalat malam.

Semua itu menunjukkan bahwa Nabi SAW. dan para sahabat adalah orang-orang yang senatiasa serius dan bersungguh-sungguh dalam urusan ibadah ; mereka tidak pernah main-main.

Bagaimana dengan dakwah mereka? Jangan ditanya. Nabi SAW. dan para sahabat adalah orang-orang yang telah menjadikan dakwah sebagai jalan hidup sekaligus ‘jalan kematian’ mereka.

Dengan kata lain mereka hidup dan mati untuk dakwah. Sebagian besar usia mereka, termasuk harta dan jiwa mereka di wakafkan di jalan dakwah demi menegakkan kalimat-kalimat Allah.

Bagaimana dengan jihad mereka? Para sahabat, sebagaimana sering diungkap, adalah orang-orang yang mencintai kematian (di jalan Allah) sebagaimana orang-orang kafir mencintai kehidupan.

Amr bin Jamuh hanyalah salah seorang sahabat, diantara ribuan sahabat, yang mencintai kematian itu. Di kisahkan, ia adalah seorang yang dihalang-halangi untuk berjihad oleh saudara-saudaranya karena kakinya pincang. Rasul pun telah membolehkannya untuk tidak ikut berjihad karena ‘udzurnya ‘itu.

Namun karena keinginan dan kecintaannya kepada syahadah (mati syahid), ia mendesak Rasul agar mengizinkannya ikut berperang. Akhirnya Rasul pun mengizinkannya. Dengan penuh kegembiraan, Amr pun segera berlari menuju medan perang, berjibaku dengan gigih melawan musuh hingga akhirnya terbunuh sebagai syahid.

Itulah secuil fragmen keseriusan dan kesungguhan shalaf as shalih dalam menjalani kehidupanya. Bagaimana dengan kita?

Apakah kita sudah bersungguh-sungguh dan serius dalam hidup ini? Ataukah kita masih mengisi hidup ini dengan main-main?

Kalau kita masih mengisi hidup ini dengan main-main maka kita adalah orang yang rugi. Seperti bulan lalu kita memperingati Maulid Nabi SAW. bahkan setiap tahun. Kita peringati hari lahirnya Rasul dengan penuh suka cita, sementara aturan-aturan yang di bawa oleh Rasul tidak pernah kita terapkan dalam kehidupan, baik dalam lingkup individu, masyarakat maupun Negara, yang semua itu di contohkan Nabi semasa hidupnya.

Kalau demikian apa bedanya kita dengan paman Nabi seperti Abu jahal dan Abu Lahab, yang saat kelahiran keponakannya di tunggu-tungu, namun setelah tahu Muhammad adalah seorang yang diutus menjadi Nabi, mereka mendustakannya, bahkan memusuhi Nabi. Naudzu-billahi min dzalik!  (disarikan dari “Hikmah-hikmah bertutur,” oleh Ustd. Ade Irwansyah, S. Sos – STAI Bumi Silampari)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *