Kerinduan Pemuda Andalus Belajar di Kota Nabi

CERITA ini tentang pemuda Andalus yang menyimpan kerinduan mendalam agar bisa belajar di kota Nabi (Madinah Al Munawwaroh) dimasa Imam Malik bin Anas.

Yahya bin Yahya Al Laitsi, begitulah orang-orang memanggilnya. Pemuda itu lahir dan dibesarkan di bumi Andalus yang jauh di dataran timur Eropa.

Sejak menapakkan kakinya di jalan ilmu, hatinya telah memendam keinginan untuk melakukan Rihlah (pengembaraan) dalam rangka menuntut ilmu. Rihlah sudah menjadi tradisi penuntut ilmu dimasa itu.

Setelah merasa cukup dengan ilmu yang didapat di negeri asalnya, akhirnya ia bertekad untuk mewujudkan keinginan yang dipendamnya selama ini.

Pilihannya jatuh ke kota Madinah, tempat dimana Imam Malik bin Anas -rahimahullah- tinggal dan mengampuh majelis ilmu.

Andalus dan Madinah memang bukan jarak yang dekat, seperti halnya Madinah dan Indonesia. Ditambah lagi transportasi dimasa itu sangat sulit. Namun tekadnya sudah benar-benar bulat. Tatapannya hanya tertuju pada satu arah, Madinah Nabawiyah.

Semua itu tentunya berbayar, karena bagi seorang Yahya, rihlah berarti melupakan sejenak keindahan Andalus dan bersabar menghadapi kenyataan hidup di dataran Hijaz yang tandus.

Namun tekad kuat yang disertai keikhlasan telah membuat jarak yang jauh itu terasa dekat, ruang dan waktu seolah sempit, serta keindahan kampung halaman tak lagi berarti.

Setibanya di Madinah, tanpa basa-basi pemuda Andalus itu langsung duduk dimajelis Imam Malik bin Anas, seolah tak ada waktu rehat baginya. Dalam benaknya meninggalkan keluarga, sanak saudara dan kampung halaman bukanlah pengorbanan yang kecil, sehingga terlalu mahal bila harus mengambil rehat sejenak karena letih setelah melakukan perjalanan yang jauh.

Hari-hari di Madinah dilaluinya dengan semangat yang tak kenal kendor, semua itu demi mengurai benang asa yang dirajutnya dulu di tanah air tercinta, bumi Andalus. Hingga suatu hari, saat tengah mendengarkan kajian Imam Malik, tiba-tiba ada serombongan musafir memasuki Madinah.

Imam Ad Dzahabi menuturkan, “Saat itu para musafir datang membawa gajah. Murid-murid Imam Malikpun berhamburan keluar untuk melihat gajah tersebut dari dekat.

Semua beranjak, kecuali Yahya bin Yahya. Ia tetap duduk dan memandang ke satu arah, kemana lagi kalau bukan kearah Imam Malik. Melihat hal itu, Imam Malik mendekat dan bertanya, “mengapa engkau tidak keluar untuk melihat gajah?”

Yahya menjawab, “aku jauh-jauh datang dari Andalusia hanya untuk melihat anda (menuntut ilmu), bukan untuk melihat gajah”. Keteguhan itu membuat Imam Malik berdecak kagum. Sejak peristiwa itu Imam Malik menjulukinya ‘aqilul andalus’ (lelaki cerdas dari Andalus).

Sahabat… Kisah Yahya bin Yahya bukan soal suka atau tidak suka melihat gajah, namun ada pesan lain disana, yaitu tentang sikap yang harus diambil seorang penuntut ilmu saat ia mulai tergoda oleh hal-hal yang tidak seharusnya membuatnya berpaling sedikitpun dari cita-cita awalnya.

Dalam meraih asa, betapa sering langkah kita terhenti oleh hal-hal yang tidak terlalu penting. Kadang semangat untuk menjadi berarti itu kendor hingga titik nadir lantaran keteledoran yang mulanya sebatas iseng-iseng saja. Iseng-iseng main game, iseng-iseng ngetravel, atau mungkin terbawa mental taswif ‘nanti dulu’, sebentar dulu, hingga akhirnya semangat awal yang telah dipupuk ditanah air perlahan-lahan redup.

Ibarat pepatah “layu sebelum berkembang”, bukan karena terik dan tandusnya Madinah, namun karena tandusnya jiwa, rapuhnya azam karena gagal menata niat dan motivasi sebelum datang ke kota Madinah.

Kawan… Kisah Yahya Al Yahya hanyalah satu dari sekian kisah penuntut ilmu yang pernah singgah di kota ini. Kisah ini mengajak kita untuk selalu terjaga dan sepenuhnya sadar arti kehadiran kita di negeri ini.

Yahya bin Yahya tidak hanya mengajari kita soal uluwwul himmah (obsesi yang tinggi), namun dia juga mengajari kita soal kesadaran diri agar terampil menata jiwa dihadapan cita-cita supaya tidak keluar dari tujuan semula.

Bukankah Imam Malik menghentikan pelajaran sejenak dan membiarkan murid-muridnya melihat gajah itu?

Namun filosofi luhur dibalik pilihan seorang Yahya mencerminkan kecerdasan tentang bagaimana seorang muslim memahami godaan-godaan konsistensi yang membuat raga terhenti mengejar asa.

Begitulah seharusnya kita menata jalan cita-cita selama di negeri ini. Ingat kawan kita tidak punya waktu yang lama. Ilmu lebih banyak dari waktu yang kita miliki.

Kata seorang salaf : “Ilmu itu, bila semua potensimu kau curahkan untuk meraihnya dia tidak akan memberimu melainkan setengahnya saja.”

Nah, Bagaimana kalau kita setengah-setengah…?

Sebagai penuntut ilmu syar’i menata cita-cita adalah sebuah keharusan. Karena di jalan ilmu inilah hidup seorang penuntut ilmu menjadi berarti.

“Aku datang untuk menuntut ilmu bukan untuk melihat gajah.”

Andalus dan Madinah terlampau jauh untuk sekedar melihat gajah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *