Jalan Menuju Surga

BANYAK keinginan, banyak hasrat, banyak nafsu dan cita-cita yang tidak dapat terpenuhi dari semua yang diharapkan, tetapi ada saatnya dan tempatnya ketika semua nafsu, hasrat dan keinginan kita dapat dipenuhi .. dimanakah itu..?

Tentu saja bukan didunia yang sekarang sebab yang demikian itu hanyalah di Surga saja. Bagi orang yang tidak beriman tidak percaya Surga, sebagian lain katanya itu hanya alam roh saja (berarti kulit, daging dan tubuh tidak ada), tetapi orang yang beriman percaya akan Surga tempat semua nafsu, hasrat, kerinduan, harapan, keinginan dipenuhi oleh Allah, Tuhan Penguasa segala.

Simak saja bagian dari Kitab Alqur’an tentang pemenuhan hasrat itu (QS : 56 : 12) ; “Berada dalam Surga kenikmatan,” tentu saja Kenikmatan yang dimaksud meliputi segala bentuk kerinduan manusia akan jenis-jenis kenikmatan didunia ini.

Penegasan tentang rupa-rupa kenikmatan Surga ini menjelaskan bahwa kenikmatan surga itu bukan dinikmati oleh ruh semata-mata tetapi oleh jasad manusia sebagaimana di bumi, hanya saja metabolisme tubuh manusia dirubah oleh Allah SWT sehingga manusia-manusia Surga tidak menjadi tua, buang air besar, kencing, meludah dan sakit.

Dalam kajian kali ini setidaknya ada 4 kunci untuk mencapai atau masuk Surga diantaranya:

Kunci Pertama, Ilmu : Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu agama, yaitu ilmu yang berlandaskan al-Qur’an dan Hadits dengan pemahaman para sahabat Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Ilmu yang dibutuhkan oleh seorang insan untuk menjalankan kewajiban-kewajiban agama, wajib hukumnya untuk dicari oleh setiap muslim dan muslimah, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dalam sabdanya, “Mencari ilmu hukumnya wajib atas setiap muslim”. HR. Ibnu Majah dari Anas bin Mâlik.

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)

Makna Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga, ada empat makna sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali:

Pertama: Dengan menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan memudahkannya masuk surga.

Kedua: Menuntut ilmu adalah sebab seseorang mendapatkan hidayah. Hidayah inilah yang mengantarkan seseorang pada Surga.

Ketiga: Menuntut suatu ilmu akan mengantarkan pada ilmu lainnya yang dengan ilmu tersebut akan mengantarkan pada Surga.

Sebagaimana kata sebagian ulama kala suatu ilmu diamalkan ; “Siapa yang mengamalkan suatu ilmu yang telah ia ilmui, maka Allah akan mewarisinya ilmu yang tidak ia ketahui.”
Sebagaimana kata ulama lainnya ; “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.”

Begitu juga dalam ayat disebutkan ; “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)
Juga pada firman Allah ; “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.” (QS. Muhammad: 17)

Keempat: Dengan ilmu, Allah akan memudahkan jalan yang nyata menuju Surga yaitu saat melewati Shirath (sesuatu yang terbentang di atas Neraka menuju Surga.
Sampai-sampai Ibnu Rajab simpulkan, menuntut ilmu adalah jalan paling ringkas menuju Surga. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297-298)

Semoga dengan ilmu agama, kita dimudahkan untuk masuk surga. Amiin.

Kunci Kedua, Amal : ‘Perjalanan suci’ seorang hamba setelah memiliki ilmu belum usai, namun masih ada ‘fase sakral’ yang menantinya; yaitu mengamalkan ilmu yang telah ia miliki tersebut. Ilmu hanyalah sarana yang mengantarkan kepada tujuan utama yaitu amal.

Demikianlah urutan yang ideal antara dua hal ini; ilmu dan amal. Sebelum seorang beramal ia harus memiliki ilmu tentang amalan yang akan ia kerjakan, begitu pula jika kita telah memiliki ilmu, kita harus mengamalkan ilmu tersebut.
Seorang yang memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya akan dicap menyerupai orang-orang Yahudi, dan mereka merupakan golongan yang dimurkai oleh Allah ta’ala.

Sebaliknya orang-orang yang beramal namun tidak berlandaskan ilmu, mereka akan dicap menyerupai orang-orang Nasrani, dan merupakan golongan yang tersesat. Dua golongan ini Allah singgung dalam ayat terakhir surat al-Fatihah: Artinya: “Tunjukkanlah pada kami jalan yang lurus. Yaitu jalan golongan yang engkau karuniai kenikmatan atas mereka, bukan (jalan-nya) golongan yang dimurkai ataupun golongan yang tersesat”. QS. Al-Fatihah: 6-7.

Kunci Ketiga, Dakwah : Setelah seorang hamba membekali dirinya dengan ilmu dan amal, dia memiliki kewajiban untuk ‘melihat’ kanan dan kirinya, peduli terhadap lingkungan sekitarnya.
Kepedulian itu ia apresiasikan dengan bentuk ‘menularkan’ dan mendakwahkan ilmu yang telah ia raih dan ia amalkan kepada orang lain.

Inilah fase ketiga yang seharusnya dititi oleh seorang muslim, setelah ia melewati dua fase di atas. Dia berusaha untuk mengajarkan ilmu yang ia miliki kepada orang lain, terutama keluarganya terlebih dahulu, dalam rangka meneladani metode dakwah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam yang Allah ceritakan dalam firman-Nya ;

Artinya: “Dan berilah peringatan (terlebih dahulu) kepada keluarga terdekatmu”. QS. Asy-Syu’arâ’: 214.

Kunci Keempat, Sabar : Kesabaran dibutuhkan oleh setiap muslim ketika ia mencari ilmu, mengamalkannya dan mendakwahkannya; karena tiga fase ini susah dan berat.

Proses pencarian ilmu membutuhkan semangat ‘empat lima’ dan kesungguhan, sebagaimana disitir oleh Yahya bin Abi Katsir : “Ilmu tidak akan didapat dengan santai-santai”.
Pengamalan ilmu juga membutuhkan kesabaran, karena hal itu merupakan salah satu jalan yang utama yang mengantarkan seorang hamba ke Surga, dan jalan menuju ke surga diliputi dengan hal-hal yang tidak disukai oleh nafsu. Dalam hadits shahih disebutkan ; “(Jalan menuju ke) surga diliputi dengan hal-hal yang dibenci (nafsu), sedangkan (jalan menuju ke) Neraka diliputi dengan hal-hal yang disukai hawa nafsu”. HR. Muslim dari Anas bin Mâlikradhiyallahu’anhu.

Semoga kita semua masuk dalam golongan umat yang diberkahi dan dirahmati dengan diberi kemudahan menuju jalan Surga. Amiin. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *