Tentang Perbuatan Aniaya dan Konsekuensinya

SERING kita dengar baik dari pemberitaan maupun mendengar cerita adanya perbuatan aniaya didalam rumah tangga maupun di masyarakat. Tentu perbuatan ini merupakan perbuatan yang terlarang dalam agama dan sangat dibenci Allah SWT.

Terjadinya perbuatan aniaya ini dipicu oleh berbagai hal seperti cemburu, prasangka buruk dan termakan hasutan orang lain. Selain itu perbuatan aniaya juga dipicu dari dalam diri seseorang karena tidak bisa kontrol diri, terlalu emosi hingga lupa diri dan bisa juga dipengaruhi obat terlarang (seperti Narkoba maupun Miras).

Akibatnya dapat merusak kehidupan rumah tangga dan masyarakat, mengancam keamanan dan merupakan tindak kriminal yang mesti di berantas oleh berbagai elemen bangsa. Bukan hanya peran Kepolisian mencegah dan menindak pelanggaran namun dibutuhkan peran tokoh masyarakat, tokoh agama (ulama) serta tokoh adat dan lainnya. Sehingga tatanan ketentraman dalam kehidupan rumah tangga dan masyarakat dapat tercipta.

Aniaya dalam bahasa arab disebut “zalim” yang berarti melampaui batas, melanggar keten-tuan, keterlaluan atau menempatkan sesuatu permasalahan tidak pada porsinya.

Aniaya (kezaliman) dapat diartikan sebagai perbuatan yang melampaui batas-batas kemanu-siaan dan menentang atau menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan Allah SWT.

Allah SWT berfirman : “Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah : 229).

Aniaya atau zalim termasuk sifat tercela yang dikutuk Allah, dilaknat para malaikat dan dibenci sesama. Aniaya atau zalim termasuk perbuatan dosa yang dapat menjatuhkan martabat pelakunya dan merugikan pihak lain.
Macam-macam Aniaya Sikap dan perilaku aniaya atau kezaliman, dapat terjadi terhadap Allah SWT, terhadap diri sendiri, terhadap orang lain dan terhadap alam sekitar atau lingkungan.

1). Aniaya (zalim) Terhadap Allah SWT.

Kezaliman terhadap Allah SWT, yaitu tidak adanya pengakuan yang jujur, keimanan yang benar, bahwasanya kita manusia telah diciptakan Allah SWT untuk menjadi “Abdullah” (hamba Allah).

Tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun dan sebagai “Kholifatullah” (Khalifah Allah) yakni pengatur, pengelola dan pemakmur alam jagad raya ini dengan segala ketentuan dan aturan yang telah Allah SWT tetapkan dalam Al-Quran dan Sunnah-Nya.

Apabila kita tidak mengikuti ketentuan tersebut berarti kita telah tergolong kepada orang yang telah berbuat aniaya (zalim) terhadap Allah SWT. Allah SWT berfirman : “Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang ditu-runkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah : 45)

2). Aniaya (zalim) Terhadap Diri Sendiri

Aniaya terhadap diri sendiri misalnya mmbiarkan diri sendiri dalam keadaan bodoh dn miskin, karena malas, meminum minuman keras, menyalah gunakan obat-obatan terlarang (narkoba), menyiksa diri sendiri dan bunuh diri (sebagai akibat dari tidak mensyukuri nikmat pemberian Allah SWT).

Allah SWT berfirman : “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dengan tangan-mu kepada kecelakaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqa-rah :195).

3). Aniaya (zalim) Terhadap Sesama Manusia

Aniaya terhadap sesama manusia seperti ghibah (mengumpat), namimah (mengadu domba), fitnah, mencuri, merampok, melakukan penyiksaan dan melakukan pembunuhan, berbuat korupsi dan manipulasi.

Allah SWT berfirman : ’……Dan janganlah kamu berbuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (QS. Hud : 85).

Rasulullah SAW dalam haditsnya bersabda : “Barang siapa yang merampas hak orang muslim lainnya, dengan sumpahnya Allah mewajibkan neraka dan mengharamkan surga baginya.

Salah seorang sahabat bertanya, “Walau-pun hanya merampas sesuatu yang sederhana, ya Rasulullah?”
Nabi bersabda: “Walaupun hanya sepotong kayu urok.” (HR. Bukhari)

4). Aniaya (zalim) Terhadap Alam (lingkungan)

Berbuat zalim terhadap alam adalah merusak kelestarian alam, mencemari lingkungan, menebang pepohonan secara liar, menangkap dan membunuh binatang tanpa mengindahkan aturan, sehingga akibat dari perbuatan itu dapat merugikan alam dan merugikan masyarakat.

Allah SWT berfirman : “Dan bila dikatakan kepada mereka : “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”.
Mereka menjawab : “Sesungguhnya kami orang-orang yang meng-adakan perbaikan”. (QS. Al-Baqarah :11)

“Telah terjadi kerusakan di darat dan di laut, karena usaha tangan manusia supaya merasakan kepada mereka sebagai akibat kerja mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum : 41).

Bahaya dan Keburukan Perbuatan Aniaya Adapun bahaya dan keburukan sebagai dampak dari perbuatan aniaya (zalim) dapat menimpa pelaku (penganiaya), orang yang dianiaya, dan masyarakat.

Bahaya / Keburukan yang akan dialami oleh Penganiaya antara lain :

1). Hidupnya tidak akan disenangi, melainkan dijauhi bahkan dibenci masyarakat. Allah SWT berfirman dalam Qs. Al-Mu’minun : 18.

2). Hidupnya tidak akan tenang, karena dibayangi rasa takut.

3). Mencemarkan nama baik dirinya, dan keluarganya.

4). Mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatan aniaya yang dilakukannya.

5). Mendapat siksa dengan dicampakkan kedalam api neraka (lihat Qs. Al-Maidah : 39)

6). Dalam kehidupannya tidak akan mendapat pelindung atau penolong. Allah SWT dalam Qs. As-Syura ayat 8 : “….. Tiadalah bagi orang zalim itu pelindung atau penolong.” (QS. Asy-Syura : 8).

Bahaya / Keburukan yang akan dialami oleh yang dianiaya dan masyarakat, diantaranya :

1). Ketenangan dan ketentraman dalam hidupnya terganggu.

2). Menumbuhkan keresahan dan kekerasan di masyarakat.

3). Mengalami kerugian dan bencana, baik berupa kehilangan harta benda, penganiayaan terhadap fisik mental bahkan sampai kehilangan jiwa.

4). Semangat dan gairah kerja baik pribadi maupun masyarakat akan menurun, karena dibayangi rasa takut terhadap perbuatan-perbuatan jahat orang zalim.

5). Allah SWT akan menurunkan azab-Nya, apabila kezaliman di suatu negeri atau suatu kelompok masyarakat sudah meraja lela.

Allah SWT berfirman dalam Qs. Yunus ayat 13 : “Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman.” (QS. Yunus :13).

Upaya Preventif untuk Menghindari Diri dari Perbuatan Aniaya Setiap insan wajib berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjauhi perbuatan aniaya (zalim).

Diantara usaha tersebut antara lain :

1). Kesadaran akan eksistensi diri untuk selalu berbuat baik, ramah, dan sopan santun terhadap semua makhluk Allah.

Rasulullah Saw bersabda : Artinya : “ Sesungguhnya Allah SWT mewajibkan berbuat baik kepada segala sesuatu. Bila kamu membunuh, baik-baiklah cara membunuhnya.

Bila kamu menyembelih binatang, baik-baiklah cara menyembelihnya. Hendaklah salah seorang diantara kamu menajamkan pisaunya, dan hendaklah ia mempercepat mati binatang sembelihnnya.” (HR. Muslim).

2). Berusaha menegakan keadilan dan kebaikan terhadap diri sendiri, orang lain dan masyarakat. Allah SWT berfirman : “ Sesungguhnya Allah menyuruh kamu supaya berlaku adil dan berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl : 90)

3). Meningkatkan kehati-hatian bahwa segala bentuk perselisihan, permusuhan, kedengkian perusakan terhadap sessama manusia dan alam semesta pada akhirnya dapat merugikan diri sendiri.

4). Meningkatkan kesadaran bahwa manusia itu tidak dapat berdiri sendiri, memerlukan bantuan dari orang lain dan bantuan dari alam.

Apabila mereka dirugikan akibat perbuatan zalim yang pernah dilakukan kita, mereka pun akan menjauhi dan tidak menutup kemungkinan mereka balik menzalimi.

5). Meningkatkan kesadaran bahwa sebenarnya manusia telah banyak melakukan kezaliman, kurang patuh pada orang tua, salatpun terkadang tidak tepat waktu dan lainnya. Hal ini jangan sampai ditambah lagi dengan kezaliman yang lainnya.

Oleh karena itu kita senantiasa memohon kepada Allah SWT supaya dijauhkan dari sifat-sifat demikian. Allah SWT dalam firmannya : Keduanya berkata: “ Ya Tuhan, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Araf : 23).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *