Tiga kewajiban orangtua terhadap anak

TIDAK dapat dipungkiri lagi, bahwa anak adalah anugerah terindah yang dititipkan ALLAH SWT kepada kita. Siapapun orangnya pasti menginginkan anak yang dapat dibanggakan, yaitu sehat, cerdas dan berakhlak mulia.

Demi memperoleh anak, berbagai cara akan ditempuh oleh pasangan yang sudah menikah. Dari yang biasa-biasa saja sampai dengan hal yang luar biasa. Dari cara yang lumrah sampai hal yang berbau klenik. Karena memang, bagi kita yang muslim dengan hadirnya anak ditengah-tengah kehidupan rumah tangga kita, itu menandakan bahwa ALLAH SWT telah mempercayakan kepada kita untuk turut menciptakan generasi yang cemerlang yang akan dapat menghadapi tantangan zaman yang serba hedonistik ini dan membentenginya dengan ajaran- ajaran islam yang telah kita dapatkan dari orang tua dan guru-guru kita.

Namun untuk menciptakan anak yang sesuai dengan harapan, tentunya membutuhkan keseriusan untuk memandang anak adalah sebagai amanah yang dimintai pertanggung jawabannya oleh sang empunya, yaitu ALLAH SWT. Disamping memang anak adalah motivasi bagi kita untuk terus bersemangat dalam mencari nafkah. Karena memang pada tempatnya bahwa anak adalah penyejuk pandangan mata (qurotaa a’yun) yang akan menjadi penghibur dikala lelah. Ada tahapan-tahapan yang semestinya kita lalui sebagai orang tua agar anak kita menjaadi anak yang soleh dan solehah.

Setidaknya ada tiga kewajiban kita sebagai orang tua terhadap anak.

1. Memberikan nama yang baik.

Pepatah mengatakan “apalah arti sebuah nama”. Namun ternyata nama ini adalah salah satu hal penting, karena didalam nama ada do’a. Memang benar, nama anak merupakan do’a bagi orang tua.

Ketika orang tua mengawali nama anak nya dengan nama Muhammad, berarti orangtua tersebut berharap agar kelak anak yang lahir dan diberi nama Muhammad ini, akan mampu meneladani seorang manusia luar biasa yaitu baginda Nabi Muhammad SAW.

Begitu juga ketika seorang anak perempuan di beri nama dengan awalan Siti, berarti orangtua tersebut berharap agar kelak anak tersebut dapat meneladani jejak wanita-wanita hebat yang bernama Siti yang juga merupakan singkatan Sayyidati.

Dari Siti Khodijah sebagai istri pertama Rasul, Siti Aisyah sebagai istri kesayangan Rasul maupun siti-siti yang lain yang memiliki kemampuan luar biasa serta tangguh luar biasa. Maka dari itu, jangan asal kita memberi nama anak.

Jangan asal nama dan jangan asal sebut. Jangan sampai nama yang kita sematkan kepada anak kita, justru membuat anak kita menjadi malu karena nama yang kita berikan asal ketemu.

Ada suatu anekdot, suatu waktu orang tua mengeluhkan tingkah anak nya yang keras kepala luar biasa. Akhirnya ia curhat dengan seorang ustadz.

Lalu ustadz tersebut bertanya, siapa nama anak tersebut?

Dengan bangga ia menjawab “Nama anak saya itu bagus loh, ROLLING STONE”. Dijawab sang ustadz ”Wajar kalau anak kamu keras kepala, kalau namanya seperti itu. Rolling stone itu kan artinya BATU BERGELINDING. Artinya kamu berdo’a agar si anak seperti batu yang bergelinding. Ya seperti itu kejadiannya”.

Ini hanya suatu ilustrasi. Artinya jangan sampai kita membuat nama anak asal-asalan. Karena dalam nama kita menggantung do’a dan harapan. Memberi nama yang baik adalah tahapan pertama yang menjadi kewajiban kita sebagai orang tua untuk anak kita.

2. Mengajarkannya dengan Al-Qur’an

Setelah memberi nama yang baik untuk anak kita, tahapan selanjutnya adalah mengajarkannya dengan bimbingan ALQUR’AN. Alqur’an adalah kitab suci paripurna yang diturunkan oleh ALLAH SWT., umat terbaik sepanjang peradaban manusia, yaitu umat Nabi Muhammad SAW. Tidak ada keraguan didalamnya, petunjuk untuk orang-orang yang beriman dan berakal.

ALLAH SWT menjamin keaslian wahyu yang terdapat dalam Al-Qur’an memang benar-benar berasal dari-NYA. Al-Qur’an memuat tentang segala hal yang kita butuhkan dalam dunia ini. Dari ilmu tauhid, ilmu akhlak, ilmu pengetahuan,dan segala jenis ilmu bersumber dari Al-Qur’an.

Jadi, jika kita ingin menjadikan anak kita hebat luar biasa, berbadan sehat luar biasa, memiliki otak cerdas luar biasa, dan mempunyai akhlak yang luar biasa mulia, maka ajarkanlah dia dengan ilmu-ilmu Al-Qur’an. Ilmu Al-Qur’an itu bukan sekedar bacaannya, tapi penerapannya dalan kehidupan sehari-hari.

Ilmu Al-Qur’an itu bukan hanya sekedar tajwid, mahrojatul huruf, ikhfa’, izhar dan sebagainya. Mengajarkan anak dengan Al-Qur’an artinya adalah memastikan setiap perbuatan, tindakan, tingkah laku dan akhlak kesehariannya sesuai dengan yang di kehendaki oleh ALLAH SWT. Selalu melaksanakan perintah ALLAH dan menjauhi larangan-NYA.

Al-Qur’an sendiri tak cukup hanya kita ajarkan, namun kita juga harus memberi teladan bagaimana berakhlak yang baik. Jadi mustahil akan tercipta generasi yang baik, jika kita tidak mampu memberi teladan yang baik.

Memberi teladan dan mengajarkan ilmu Al-Qur’an menjadi wajib setelah kita memberi nama yang baik. Dengan kata lain, walaupun kita beri nama anak kita MUHAMMAD NUR tetap saja kelakuannya seperti ABU JAHAL jika tidak kita bimbing dengan Al-Qur’an.

3. Menikahkan anak ketika telah sampai jodohnya

Dan kewajiban terakhir kita sebagai orang tua adalah menikahkannya ketika telah sampai jodohnya. Kewajiban menikahkan anak ini tidak termasuk kewajiban menyelenggarakan pesta yang mewah. Jadi jangan sampai salah kaprah dengan kewajiban yang terakhir ini.

Ada juga sebagian orang yang merasa gagal jika pernikahan anaknya tidak diiringi dengan pesta yang meriah. Sehingga untuk itu, rela mencari pinjaman kesana-kesini untuk menyelenggarakan pesta pernikahan. Atau bahkan menunda dulu pernikahan anaknya dengan alasan sedang mengumpulkan dana untuk pesta pernikahan. Tentu pemikiran yang seperti ini tidak sejalan dengan yang di kehendaki oleh ajaran Islam.

Pernikahan pada hakikatnya adalah membebaskan anak yang sudah baligh dari ancaman perzinahan. Sedang orang tua adalah pemegang restu yang membuat pernikahan itu menjadi sah menurut pandangan syari’at islam. Untuk itu, ketika telah sampai jodoh anak kita, segerakanlah untuk di nikahkan. Jangan ditunda-tunda lagi, dengan alasan apapun juga. Masalah pesta, boleh-boleh saja asal kita mampu dan tidak melanggar syari’at. Namun jika tidak mampu, jangan pula kita memaksakan diri.

Syukuran/persedekahan pada hakikatnya adalah mengumumkan pada khalayak, bahwa anak kita sudah menikah. Sehingga tidak timbul fitnah di kemudian hari.

Itulah tiga kewajiban orangtua terhadap anak. Semoga bermanfaat untuk kita. Allahu a’lam. (di sarikan dari tausiyah Ust. Supartono,M Pd. dan berbagai sumber referensi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *