Sikap Kita di Bulan Suci Ramadhan

Materi kali ini kita akan menjelaskan tentang keutamaan bulan suci Ramadhan dan sikap seorang mukmin dalam menjalani bulan Ramadhan yang penuh berkah, yaitu mengisi Ramadhan dengan amalan-amalan shalih serta meninggalkan segala perbuatan yang dapat mengurangi atau merusak pahala puasa di bulan suci ini.

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. dan hendaklah kita senantiasa ingat, bahwa sebagai seorang muslim kita diwajibkan selama masih hidup untuk senantiasa taat dan beribadah kepada Allah SWT. Allah berfirman, “dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai datang kematian kepadamu.” (QS. al-Hijr : 99)

Oleh karena itu, merupakan suatu keharusan bagi seorang muslim untuk lebih serius memperhatikan dan mengerahkan segala kemampuannya pada mawâsimil khair (waktu-waktu yang utama untuk melakukan kebaikan).

Di antara bentuk rahmat Allah SWT. yaitu Dia menyediakan bagi para hamba-Nya waktu-waktu utama yang pada saat itu semua kebaikan dilipat gandakan balasannya dibandingkan waktu-waktu lainnya. Di antara waktu itu adalah bulan Ramadhân yang penuh berkah.

Pada bulan ini, Allah SWT. menurunkan Al-qurân yang merupakan petunjuk bagi umat manusia. Inilah musim melakukan kebaikan yang sangat agung.

Sungguh telah datang kepada kita tamu yang membawa keberkahan dan lagi mulia. Maka, hendaklah kita menerimanya dengan penuh harapan dan kebahagiaan.

Hendaklah bersyukurlah kepada Allah SWT, karena Allah SWT. masih memberi kita kesempatan untuk berjumpa dengan Ramadhân!

Hendaklah kita memohon kepada Allah SWT. agar ditolong dalam melakukan berbagai amal shalih, serta mohonlah kepada-Nya agar menerima seluruh amal kita. Karena bulan Ramadhân sebagaimana telah kita ketahui memiliki banyak keistimewaan.

Di antara keistimewaannya, Allah SWT. menjadikan puasa pada bulan Ramadhân sebagai salah satu rukun Islam. Orang yang telah memenuhi persyaratan tidak diperkenankan mening-galkan berpuasa pada bulan itu, kecuali dengan alasan yang dibenarkan syariat, seperti beper-gian jauh atau sakit. Itupun dia tetap dikenai beban untuk menggantinya di bulan-bulan yang lain.

Allah SWT. berfirman, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. (QS. al-Baqarah : 185).

Juga Allah SWT. memberikan keringanan kepada orang yang sudah berusia lanjut dan tidak mampu lagi untuk berpuasa. Orang seperti ini tidak dikenai kewajiban mengganti pada bulan yang lain. Dia hanya dikenai kewajiban membayar fidyah sesuai dengan ketentuan syariat.

Di antara keistimewaan Ramadhân yaitu shalat tarawih yang disyariatkan khusus pada bulan ini. Shalat sunat disyariatkan dikerjakan secara berjamaah di masjid. Rasûlullâh SAW bersabda, Barangsiapa yang shalat bersama imam, maka Allah SWT. mencatat untuknya pahala shalat semalam penuh.

Para ulama mengatakan bahwa shalat ini hukumnya sunat mukkad, sehingga seharusnya bagi seluruh kaum muslimin memperhatikannya dengan baik. Hendaknya kita memperhatikan cara pelaksanaannya agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW., tidak hanya sekadar meng-ikuti adat atau kebiasaan. Sangat disayangkan fenomena di tengah masyarakat, banyak di antara mereka yang melaksanakannya, namun seakan sebagai adat saja. Sehingga, apa yang mereka lakukan tidak berbekas sama sekali dalam jiwa. Nas’alullah ‘afiyah.

Keistimewaan lain dari Ramadhân yaitu Allah SWT. memilihnya sebagai waktu untuk menurunkan Alquran yang merupakan petunjuk bagi manusia. Allah SWT. berfirman, Bulan Ramadhân, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alqur-ân sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (Qs al-Baqarah :185)

Ibnu Abbâs mengatakan, “Allah SWT. menurunkan seluruh Alquran sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit dunia pada bulan Ramadhân. Lalu di sana, diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan berbagai kejadian. ”Keistimewaan Ramadhan yang selalu ditunggu-tunggu yaitu memiliki Lailatul Qadr yang dijelaskan langsung oleh Allah SWT. keistimewaannya yaitu lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang diberi taufik oleh untuk beramal malam itu, berarti sama dengan beramal selama delapan puluh tiga tahun. Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi taufik oleh Allah SWT. untuk beramal shalih pada malam itu.

Dan masih banyak lagi keistimewaan bulan Ramadhân, bersungguh-sungguh melaksanakan berbagai amalan shalih, baik yang wajib, ataupun sunnah, seperti shalat, shadaqah, dan sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT. Maka, janganlah kita sia-siakan bulan ini dengan melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat, sebagaimana kelakuan orang-orang celaka. Yaitu orang-orang yang lupa kepada Allah SWT., sehingga Allah pun melupakan mereka. Mereka tidak bisa memetik manfaat apapun dari bulan yang penuh kebaikan yang akan menjelang ini. Mereka tidak mengetahui kehormatan bulan ini dan tidak mengetahui nilainya.

Pada bulan Ramadhân, pintu-pintu surga dibuka, sementara pintu-pintu neraka ditutup. Setan yang senantiasa menggoda dan menjebak manusia agar berbuat maksiat pun dibelenggu.

Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasûlullâh SAW. bersabda, Apabila bulan Ramadhân telah tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. (HR Muslim).

Dengan demikian, kesempatan untuk melakukan kebaikan itu terbuka lebar. Kita juga bisa menyaksikan pada bulan Ramadhân, banyak orang yang berubah drastis. Dari yang tidak pernah ke masjid jadi gemar ke masjid; dari yang bakhil berubah menjadi pemurah dan lainnya.

Namun sangat disayangkan, banyak diantara kita yang tidak mengerti hakikat bulan yang mulia ini, yang kita tahu adalah bulan ini merupakan kesempatan untuk menghidangkan dan menyantap makanan dan minuman yang bervariasi. Asumsi ini mendorong berusaha keras untuk memenuhi apapun yang diinginkan oleh hawa nafsu. Kita mengeluarkan biaya yang banyak untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Kita berfoya-foya. Padahal sudah dimaklumi bersama, bahwa terlalu banyak makan menyebabkan seseorang malas melaksa-nakan perbuatan taat. Sementara pada bulan yang mulia ini, seorang muslim diharapkan mengurangi makan sehingga bisa bersungguh-sungguh dalam beribadah.

Sebagian lagi memahaminya sebagai kesempatan untuk tidur dan bermalas-malasan. Dia pun “memanfaatkan” sebagian besar waktunya untuk mendengkur, bahkan sampai tertinggal shalat jamaah di masjid. Mereka berdalil dengan hadits lemah, Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah. Padahal maksudnya saking istimewanya bulan puasa ini, tidurpun punya nilai.

Sebagian lagi memahaminya sebagai waktu untuk begadang, bukan dalam rangka beribadah kepada Allah SWT., tapi kita habiskan waktu malam mereka dengan bercandaria dan melakukan berbagai aktivitas yang sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka di akhirat. Ketika badan sudah terasa lelah akibat begadang, kita segera sahur, selanjutnya tidur sampai melewati shalat Shubuh. Na’udzubillah.

Sebagian lagi asik menyantap hidangan saat berbuka sampai lupa diri dan meninggalkan shalat Maghrib berjama’ah di masjid. Inilah di antara fenomena meyedihkan yang sering kita temukan di tengah masyarakat pada bulan Ramadhân. Kita meninggalkan berbagai kewajiban dan melakukan aneka perbuatan yang diharamkan. Rasa takut kepada adzab Allâh SWT. seakan sudah tidak ada lagi di hati kita. Kalau kelakuan kita seperti ini, masihkah Ramadhân memiliki keistimewaan di mata kita? Manfaat apa yang bisa kita petik darinya?

Ada lagi sebagian dari kita yang memahami bulan Ramadhân sebagai kesempatan emas untuk berbisnis. Kita mencurahkan segala kemampuan untuk menyusun strategi demi meraup untung sebanyak-banyaknya di bulan ini. Waktu-waktu kita dihabiskan di lokasi-lokasi bisnis, sampai-sampai tidak lagi untuk ke masjid, kecuali sebentar saja dan itupun dalam suasana terburu-buru. Di kepala kita, Ramadhân merupakan kesempatan meraih dunia dan bukan akhirat. Kita letihkan diri kita pada bulan Ramadhân demi mencari sesuatu yang fana dan meninggalkan sesuatu yang manfaatnya kekal abadi.

Inilah beberapa contoh sikap yang keliru dalam menyikapi kemuliaan bulan Ramadhân.

Tanpa disadari, ini merupakan musibah besar bagi kita. Kita terhalang berbagai kebaikan yang Allah SWT. janjikan bagi orang-orang yang memanfaatkan momen berharga ini dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. semata.
Semoga Allah SWT. menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengerti akan arti Ramadhân dan semoga Allah SWT. senantiasa memberikan taufik kepada kita semua untuk senantiasa beramal shaleh.

Sudah kita sampaikan beberapa sikap sebagian kaum Muslimin yang keliru dalam menyikapi Ramadhân. Keliru karena bertolak belakang dengan sikap Rasûlullâh SAW. Karena, pada bulan Ramadhân, Nabi SAW. lebih giat lagi beribadah dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.

Beliau SAW. tinggalkan berbagai kesibukan demi beribadah kepada Allah SAW. Ini juga yang dilakukan oleh para ulama salaf. Mereka benar-benar serius memperhatikan bulan ini.

Mereka meluangkan waktunya untuk beribadah kepada kepada Allah SWT. dengan menunaikan berbagai amal shaleh. Mereka memanfaatkan detik demi detik waktu dalam ketaatan kepada Rabb mereka dan bersungguh-sungguh melaksanakan shalat tahajjud.

Az-Zuhri rah. a. mengatakan, “Apabila bulan Ramadhân telah tiba, maka waktu itu hanya untuk membaca Alqurân dan memberi makan orang lain.”

Para ulama salaf juga senantiasa duduk di masjid dan mengatakan, “Kami menjaga puasa kami dan tidak menggunjing seorangpun.” Mereka juga memiliki antusias tinggi untuk melaksanakan shalat tarawih dan menyelesaikannya bersama imam. Maka dengan demikian bertakwalah kalian kepada Allâh wahai kaum muslimin dan jagalah bulan Ramadhân ini, perbanyaklah di dalamnya ketaatan-ketaatan kepada Allâh mudah-mudahan Allâh menggolongkan (menetapkan) bagi kita ke dalam orang-orang yang beruntung dan memperoleh kemenangan di bulan ini.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *