Shalat Merupakan Ibadah yang Diwajibkan

SHALAT merupakan ibadah yang diwajibkan melalui Al Qur’an, Sunnah dan ijma’ para imam. Shalat wajib bagi setiap muslim maupun muslimah, baligh dan berakal, kecuali wanita yang sedang haid dan menjalani nifas.

Dalil Al Qur’an yang menjadi landasan hal itu adalah firman Allah SWT. : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunai zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus”. (Al Bayyinah : 5)

Demikian juga firman-Nya : “Sesungguhnya shalat itu merupakan kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (An Nisa’ : 103)

Sedangkan dalil hadits dari Muadz ra. Ketika Baliau akan dikirim ke Yaman, Nabi SAW. bersabda, “Beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam”. (Bukhari dan Muslim)

Shalat memiliki kedudukan sangat agung dalam Islam. Diantara bukti yang menunjukkan peran penting dan kedudukan tingginya adalah Shalat adalah tiang agama.

Agama tidak akan berdiri tegak tanpanya. Dalam hadits Mu’adz ra. disebutkan, Nabi SAW. bersabda, “Kepala segala urusan adalah Islam, dan tiangnya adalah shalat, sementara puncaknya adalah jihad”. (Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad).

Shalat sebagai amal yang pertama kali dihisab

Karena itu, rusak dan tidaknya amal tergantung pada rusak atau tidaknya shalat yang dikerjakan. Dari Anas ra., Nabi SAW. bersabda, “Yang pertama kali akan dihisab dari seseorang pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, akan baik pula seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak akan rusak pula seluruh amal perbuatannya”.

Dalam riwayat yang lain disebutkan : “Yang pertama kali ditanyakan kepada seorang hamba pada hari kiamat adalah perhatian kepada shalatnya. Jika shalatnya baik, dia akan beruntung (dalam sebuah riwayat disebutkan dia akan berhasil). Dan jika shalatnya rusak, dia akan gagal dan merugi”. (Thabrani)

Shalat adalah ibadah paling terakhir hilang dari agama

Dengan kata lain, jika shalat telah hilang dari agama, berarti tidak ada lagi yang tersisa dari agama. Dari Abu Umamah ra. sebagai hadits marfu’ : “Tali-tali Islam akan lepas sehelai demi sehelai. Setiap kali sehelai tali itu lepas, maka umat manusia akan berpegangan pada tali berikutnya. Yang pertama kali terlepas adalah hukum dan yang paling terakhir adalah shalat”. (Ahmad)

Dalam riwayat yang lain disebutkan, “Yang pertama kali dihilangkan dari umat manusia adalah amanat dan yang tersisa paling akhir adalah shalat. Berapa banyak orang yang mengerjakan shalat tanpa ada kebaikan di dalamnya sama sekali didalam dirinya”. (Thabrani)

Shalat sebagai wasiat paling akhir Nabi SAW. kepada umatnya

Ummu Salamah rha., dia berkata, “Wasiat yang terakhir kali disampaikan Rasulullah SAW. adalah shalat, shalat, dan budak-budak yang kalian miliki”. Sehingga Nabi SAW. menyembunyikannya didalam dada dan tidak Beliau sebarluaskan melalui lisannya. (Ahmad)

Allah SWT. memuji orang-orang yang mengerjakan shalat dan mereka yang menyuruh keluarganya mengerjakannya
Dia berfirman : “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur’an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang Rasul dan Nabi. Dia menyuruh keluarganya mengerjakan shalat dan menunaikan zakat, dan dia adalah seorang yang diridhoi disisi Rabbnya’. (Maryam : 54-55)

Allah mencela orang-orang yang menyia-nyiakan dan yang malas mengerjakan shalat

Dia berfirman : “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan”. (Maryam : 59)

Allah SWT. juga berfirman : “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah, kecuali sedikit sekali”. (An Nisa’ : 142)

Shalat sebagai rukun sekaligus tiang Islam yang paling agung setelah dua kalimat syahadat

Dari Abdullah bin Umar ra. dari Nabi SAW. bersabda, “Islam didirikan atas lima perkara : bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah, mendirikan shalat, menunaikan Zakat, puasa Ramadhan dan berangkat Haji ke Baitullah”. (Muttafaqun ‘alaih)

Diantara bukti yang menunjukkan keagungan shalat adalah Allah SWT. tidak mewajibkannya di bumi melalui perantara Jibril as., tapi Dia sendiri yang langsung menyampaikan kewajiban shalat itu tanpa perantara pada malam Isra’ diatas langit ketujuh. Pada awalnya, yang diwajibkan itu lima puluh shalat.

Ini menunjukkan kecintaan Allah SWT. kepada shalat. Kemudian Dia meringankan bagi hamba-hamba-Nya, dimana kemudian Dia hanya mewajibkan lima shalat saja dalam satu hari satu malam. Itulah shalat dengan hitungan lima puluh dalam timbangan dan lima dalam pengerjaannya. Hal itu menunjukkan agungnya kedudukan shalat.

Allah membuka amal perbuatan orang-orang yang beruntung dengan shalat dan menutupnya dengan shalat pula
Hal itu mempertegas peran penting shalat. Allah SWT. berfirman : “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki ; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang dibalik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya”. (Al Mu’minun : 1-9)

Allah menyuruh Muhammad SAW dan para pengikutnya agar mereka menyuruh keluarga mereka mengerjakan shalat

Dia berfirman : “Dan perintahkan keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjaknnya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa”. (Thahaa : 132)

Dari Abdullah bin Umar ra., dari Nabi SAW. bersabda, “Suruh anak-anak kalian mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun. Dan pukullah mereka karena tidak mengerjakannya pada saat mereka berusia sepuluh thun. Serta pisahkanlah tempat tidur mereka. (Abu Dawud, Ahmad)

Orang yang tertidur dan lupa diperintahkan untuk mengqadha’ shalat

Dan hal ini memperkuat peran penting shalat. Dari Anas bin Malik ra. Nabi SAW. bersabda : “Barangsiapa lupa mengerjakan shalat, hendaklah dia mengerjakannya pada saat teringat, tidak ada kaffarat baginya, kecuali hanya itu saja”. (Bukhari)

Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Barangsiapa lupa mengerjakan shalat atau tertidur sehingga tidak mengerjakannya, maka kaffaratnya adalah dengan mengerjakannya ketika dia mengingatnya”. (Muttafaqun ‘alaih)

Yang termasuk orang tertidur adalah orang yang tidak sadarkan diri selama tiga hari atau kurang. Hal itu telah diriwayatkan dari Ammar, Imran bin Hashin, Samurah bin Jundub ra., jika waktu tidak sadarkan diri itu lebih lama dari itu, maka tidak ada kewajiban bagi seseorang untuk mengqadhanya, karena orang yang tidak sadarkan diri dalam waktu lebih dari tiga hari sama dengan orang gila yang kehilangan akal secara total. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *