Sebelum Terlambat

Kalau sudah tiada, baru terasa
Bahwa kehadirannya, sungguh berharga
Sungguh berat aku rasa, kehilangan dia
Sungguh berat aku rasa, hidup tanpa dia

Demikian bang Rhoma Irama menggambarkan rasa kehilangan, melalui sebuah syair yang beliau ciptakan.

Ya, berat saudaraku saat harus kehilangan orang-orang yang kita sayangi. Nurani kita sebagai manusia, pasti akan merasakan kesedihan, tak terkecuali dengan seorang manusia paling mulia, yaitu junjungan kita nabi Muhammad SAW. Beliau merasakan kesedihan yang sangat mendalam, ketika orang-orang yang disayangi dan menyayanginya berturut-turut di panggil oleh Allah SWT.

Saat penyebaran dakwah Islam butuh sosok pendukung yang berpengaruh, yaitu paman Beliau sendiri Abu Thalib, tapi Allah SWT mempunyai kehendak lain dengan wafatnya Abu Thalib.

Disusul kemudian wafat Siti Khadijah, istri yang sangat setia mendampingi Beliau dalam suka dan duka serta setia mendukung dakwah Beliau baik moral maupun materil.

Juga saat syahidnya Hamzah, paman  Rasulullah SAW di medan Uhud, Beliau merasakan kesedihan dan kehilangan yang amat sangat. Sesuatu yang wajar, karena Beliau pun manusia namun sangat luar biasa.

Nah, sekarang kembali pada diri kita saudaraku. Tentu kita orang-orang yang disayangi, mungkin istri, anak, atau orang tua atau mungkin sahabat karib. Namun kebersamaan kita dengan yang kita sayangi itu ada batasnya, ada saatnya untuk berakhir. Dan batas akhir itu adalah kematian.

Ketika kematian telah datang, maka tidak dapat ditunda walau hanya sedetik. Sebelum tiba kita pada ambang batas kebersamaan itu, maka gunakanlah untuk hal-hal yang terbaik.

Berilah kesan terbaik kepada orang yang kita sayangi itu, dengan cinta yang setulus-tulusnya, dengan kasih sayang sepenuh jiwa.

Untuk anak dan istri (keluarga), sudah dipastikan kita melakukan yang terbaik. Seorang ayah yang bekerja keras membanting tulang memeras keringat, itu demi keluarga. Istri kita yang bangun lebih pagi dari kita menyiapkan sarapan, mencuci dan mendidik anak kita menjadi generasi yang cemerlang, harus kita apresiasikan dengan cinta yang nyata dan kasih sayang yang sebenarnya, dalam memenuhi nafkahnya.

Tapi ingat saudaraku, cinta kasih yang besar itu bukan hanya ditunjukkan dengan materi (harta) yang berlimpah tapi harus dibarengi dengan pengajaran nilai-nilai spiritual ke-Islaman untuk diterapkan dalam kehidupan keseharian. Karena tanggung jawab kita terhadap keluarga tidak hanya sebatas didunia saja, tapi kita wajib menjaga mereka agar tidak terjerumus ke jurang neraka nantinya.

Sebagaimana firman Allah SWT “Hai orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari azab api neraka….” (QS. At Tahrim : 6). Tak lain adalah dengan selalu mengajak mereka untuk taat dan patuh terhadap aturan Allah SWT, yang diterangkan dalam Qur’an dan Sunnah.

Begitu juga dengan orang tua, dan biasanya sering terlupa, tunjukanlah bhakti kita kepada mereka, selagi mereka masih ada. Jangan sampai kita menyesal nantinya. Ketika ajal telah menjemputnya, tak ada guna derasnya air mata ataupun tangisan kita. Bukan begitu bentuk kasih sayang kita.

Yang sesungguhnya mereka butuhkan adalah saat mereka masih hidup, kita penuhi kebutuhan hidupnya, mengingatkan mereka ketika alpa, dan yang terlebih penting kita bisa menjadi anak yang soleh dan solehah. Karena di alam sana, anak soleh/solehah adalah pahala yang terus mengalir kepada mereka.

Bagi kita yang belum menunjukkan bakti kepada orang tua kita, maka masih ada waktu bagi kita untuk mengubah. Jika orang tua masih ada, bersegeralah berbagi kepada mereka.

Jika sudah tiada, maka tak ada jalan lain bagi kita selain menjadi anak yang soleh/solehah. Karena untaian doa-doa kita setelah shalat, akan diijabah oleh Allah SWT.

Memohonlah kepada Allah “Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, kasihi mereka, sebagaimana mereka mengasihi kami waktu kecil”.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *