Ramadhan Meraih Predikat Taqwa

RAMADHAN yang sedang kita jalani, merupakan bulan Tarbiyah/pendidikan, Allah mewajibkan puasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang terdahulu agar kamu/kita bertaqwa, sebagaimana firman Allah :
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. Al Baqarah : 183)

Keutamaan taqwa sangat sering kita dengar, antara lain firman Allah, Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (QS. Ath Thalaq: 2).

Juga firman-Nya, Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (QS. Ath Thalaq: 4).

Dan firman-Nya, Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan menutupi kesalahan-kesalahannya, dan akan melipatgandakan pahala baginya. (QS. Ath Thalaq: 5).

Kita berharap, semoga Ramadhan yang kita jalani ini dapat membersihkan jiwa kita dan memberikan ketaqwaan pada kita, sehingga dengan ketaqwaan itu akan muncul pada lisan dan perbuatan kita semua, paling tidak sampai ke Ramadhan yang akan datang, syukur sampai akhir hayat kita.

Taqwa, secara  bahasa artinya melindungi diri. Yaitu seseorang melakukan sesuatu untuk melindungi dirinya dari perkara yang dia takuti dan dia khawatirkan.

Adapun taqwa hamba kepada Rabb-nya adalah, hamba itu melindungi dirinya dari kemurkaan dan siksa Allah. Yakni dengan cara beribadah, yaitu melaksanakan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi kemaksiatan kepada-Nya.
Thalq bin Habib  menjelaskan hakikat taqwa. Bahwa di dalam takwa harus ada amal, iman, serta ikhlas; yang ketiga hal tersebut membutuhkan ilmu.

Pertama, tentang amal

Amal adalah perbuatan. Yaitu dengan melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Amal akan diterima, jika mengikuti syariat Nabi Muhammad Saw. Dan sudah pasti, seseorang tidak dapat mengetahui syariat Islam, kecuali dengan ilmu.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Pondasi taqwa adalah, seorang hamba mengetahui apa yang (harus) dijaga, kemudian dia menjaga diri (darinya)”. (Jami’ul Ulum wal Hikam, 1/402).

Allah berfirman, dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahannam. mereka tidak dibi-nasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas Setiap orang yang sangat kafir. dan mereka berteriak di dalam neraka itu : “Ya Tuhan Kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. dan Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. (QS. Fathir: 36, 37).

Kedua, tentang iman

Imam Ibnul Qayyim rah. a. menyatakan, “(Perkataan Thalq bin Habib) ‘di atas cahaya dari Allah’, (sebagai) isyarat kepada iman, yang merupakan sumber amalan, dan yang menjadi pendorongnya”. (uhfatul Ahbab, hlm. 10-11).

Seseorang yang melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, jika tanpa landasan iman, maka amalan itu tidak akan dite-rima oleh Allah. Dia berfirman, “dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.

Orang-orang kafir, karena amal-amal mereka tidak didasarkan atas iman, tidaklah mendapatkan balasan dari Tuhan di akhirat walaupun di dunia mereka mengira akan mendapatkan balasan atas amalan mereka itu. (QS. An Nuur: 39).
Sebagaimana syarat amal adalah ilmu, maka demikian juga untuk mengetahui iman, juga diperlukan ilmu.

Ketiga, tentang ikhlas

Perkataan Thalq bin Habib “mengharapkan rahmat Allah” ketika mengamalkan ketaatan, dan “takut siksa Allah” ketika meninggalkan kemaksiatan, merupakan isyarat terhadap ikhlas. Kita mengetahui, bahwa amalan yang tidak ikhlas, juga akan ditolak oleh Allah.

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersab-da, “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Aku dipersekutukan, padahal (Aku) tidak membutuhkan persekutuan. Barangsiapa beramal dengan amalan untuk-Ku, dia menyekutukan selain Aku di dalam amalan itu, maka Aku satu ayat yang untuk menjadi pelajaran dan bahan renungan bersama, yaitu sebagaimana Firman Allah (QS. Al-An‘am : 6)

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, Padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, Yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan berlepas diri darinya, dan amalan itu untuk yang telah dia sekutukan.’” (HR. Ibnu Majah, no. 4202 dan lainnya.

Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (QS Al An’aam: 6).

Semoga dengan ini dapat mendorong kita untuk tetap giat menuntut ilmu agama sepanjang hayat masih dikandung badan, kemudian istiqamah mengamalkannya. Dan semoga kita selalu bertakwa kepada Allah Swt. dengan sebenar-benarnya taqwa sampai kita mengha-dap-Nya dalam keadaan Islam.

Wallhu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *