Persiapan Kita, Memasuki Bulan Ramadhan

INSYA Allah kita akan memasuki bulan Ramadhan. Bagus ini, banyak orang yang senantiasa gembira menyambutnya. Lantaran memang spesialnya bulan Ramadhan inil, Allah SWT sediakan beragam kenikmatan; mulai dari ampunan, rahmat, keberkahan, dilipatgandakannya pahala, dan lain-lainnya.

Namun pertanyaannya, bagaimana agar kita bisa optimal menikmati semua kenikmatan pada bulan Ramadhan tersebut?

Apakah dengan nganggur saja, kita bisa otomatis dapat keberkahan, pahala, ampunan, dan sebagainya itu? Belum tentu. Tentunya, yah haruslah kita usahakan. Setidaknya ada beberapa hal yang mesti kita pelajari dan lakukan, yakni :

Pelajari Fiqih seputar Shaum Ramadhan

Ini merupakan sebuah keniscayaan. Tidak bisa tidak, kita harus kaji tsaqafah-tsaqafah Islam terkait bulan Ramadhan. Termasuk, fiqih shaum. Ini merupakan sebuah prioritas depan. Dengan fiqih yang benar maka shaum kita dapat memenuhi syarat sah sebagai amalan.

Pelajari fadhilah-fadhilah di bulan Suci Ramadhan

Kewajiban kita memang banyak, namun insyaAllah itu semua bisa kita usahakan agar tertunaikan. Selain untuk perihal wajib, ada baiknya kita juga melakoni perihal sunnah.

Maka, agar lebih semangat, kita kaji atau kita ingat-ingat lagi apa saja keutaman-keutaman di bulan Ramadhan ini. Semoga, dengan begitu bisa semakin menambah semangat kita beramal.

Yang fardhu memang sudah sepatutnya kita kerjakan baik saat Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Nggak usah ditanya. Begitu pula yang sunnah, pun memang sepatutnya kita kerjakan baik saat Ramadhan maupun di luar Ramadhan.

Tapi pada bulan Ramadhan ini amalan wajib maupun sunnat akan dilipat gandakan dari segi ganjaran dan keberkahannya.

Segera mengqadha’ kewajiban puasa Ramadhan sebelumnya yang belum kita tunaikan.  Mungkin bagi kita tahun lalu maupun tahun-tahun sebelumnya masih ada puasa Ramadhan kita yang belum tertunai maka wajib mengqadha’-nya.

Dan yang namanya kewajiban itu tak boleh ditunda-tunda, harus disegerakan. Mumpung masih bulan Sya’ban. Kalau ada orang yang nunda-nunda tanpa udzur syar’i, nanti bisa berdosa.

Ingat  hadits dari A‘isyah RA, bahwa dia berkata, ”Aku tidaklah mengqadha‘ sesuatu pun dari apa yang wajib atasku dari bulan Ramadhan, kecuali di bulan Sya’ban hingga wafatnya Rasulullah SAW.” [HR. At-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, dan Ahmad, hadits sahih). (Terdapat hadits-hadits yang semakna dalam lafazh-lafazh lain sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Lihat Imam Syaukani, Nailul Authar, hal. 871-872, hadits no. 1699].

Menjaga kesehatan fisik

Saat Bulan Ramadhan ini kita akan makin getol beramal sholeh, maka kesehatan fisik juga perlu dipersiapkan. Karena kondisi kesehatan terganggu tentu menghambat kita untuk beribadah.

Berhati-hatilah dengan al-haal kondisi yang biasanya bikin kita jadi sakit. Barangkali dari sekarang kita bisa berikhtiar mencegahnya dengan cara istirahat yang cukup, senantiasa konsumsi buah dan sayur; dan sebagainya

Cek persiapan harta lebih untuk berinfaq lebih

Bila berkelebihan uang atau harta kita ber-niat untuk berinfaq shodaqoh di bulan Ramadhan. Walau sebenarnya mungkin tidak ada diantara kita yang berkelebihan uang dan harta, masih terasa kurang terus karena ambisi dan nafsu. Tapi setidaknya kita berani menyisihkan entah berapa yang kita ikhlaskan.

Kenyataannya semakin banyak uang dan harta kita semakin kurang kebutuhan kita, bukan bertambah kaya tapi sebaliknya semakin miskin, itulah karena nafsu dunia kita yang semakin besar.

Berupaya menjaga diri dari dosa besar maupun kecil

Menjelang bulan Ramadhan, biasanya mulai semakin populer hadits dari Abu Hurairah RA berikut ini :
“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan, maka akan diampuni semua dosa-dosanya yang telah lampau.” [Terdapat pada riwayat shahih dalam dua kitab shahih; Shahih Bukhori, no. 2014, dan shahih Muslim, no. 760, dari ]

Sebetulnya bagus, kalau pada melek dengan hadits ini. Namun, jangan sampai salah paham. Sayangnya ada sebagian oknum yang salah paham, malah jadi suka-sukanya mengerjakan dosa kecil maupun dosa besar, karena ia merasa bahwa toh nanti itu semua bisa diampu-ni saat bulan Ramadhan. Dirinya bisa menjadi ‘putih bersih’ lagi. Mulai dari nol katanya.

Barangkali dia lupa dengan kaidah syara’, “Makna umum tetap dalam keumumannya, selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya”.

Faktanya, ternyata ada dalil lain yang mengkhususkan dalil sebelumnya tersebut. Nabi Bersabda, “Tahukah kalian siapa orang yang pailit (bangkrut)?

Para sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta.”
Nabi bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut di umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (paha-la) shalat, puasa, dan zakat; akan tetapi dia datang pula (dengan membawa dosa) telah mencaci si A, menuduh si B, memakan harta si C, menumpahkan darah si D, dan memukul si E; maka si A, B, C, D dan E (orang yang terzhalimi) akan diberikan (pahala) kebaikannya dari pelaku kezhaliman.

Jika kebaikan atau pahala penzhalim itu habis dan belum tertebus maka dosa A, B, C, D dan E akan ditambahkan ke penzhalim tersebut sesuai ukurannya lalu dia dilemparkan ke dalam Neraka.” [HR.  Muslim]

Jadi, puasa Ramadhan itu dapat mengha-puskan dosa-dosa kecil, dengan syarat dosa-dosa besar ditinggalkan.
Dosa-dosa besar, yaitu perbuatan yang diancam dengan hukuman di dunia dan siksaan di akhirat.
Misalnya: zina, mencuri, minum arak, memutuskan hubungan kekeluargaan, transaksi ribawi, risywah (suap), memutuskan perkara dengan selain hukum Allah.

Mencari hilal

Berkenaan dengan sabab (sebab dilaksanakan nya suatu hukum) puasa Ramadhan, syara’ menjelaskan bahwa u’yah al-hilâl  merupa-kan sabab dimulai dan diakhirinya puasa Ramadhan.

Apabila bulan tidak bisa diru’yah, makapuasa dilakukan setelah istikmâl bulan Sya’ban. Ketetapan ini didasarkan banyak dalil. Salah satu di antaranya adalah Hadits-hadits berikut:
Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal). Apabila pandangan kalian tersamar (terhalang), maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. [HR. Bukhari]

Berdasarkan Hadits-hadits tersebut, para fuqaha berkesimpulan bahwa penetapan awal dan akhir Ramadhan didasarkan kepada ru’yah al-hilâl.

Imam al-Nawawi menyatakan, “Tidak wajib berpuasa Ramadhan kecuali dengan melihat hilal.
Apabila mereka tertutup mendung, maka mereka wajib menyempurnakan Sya’ban (men-jadi tiga puluh hari), kemudian mereka berpuasa. [al-Nawawi, al-Majmû’Syarh al-Muhadzdzab,6/269]

Namun demikian bagi kita yang awam, ada baiknya mengikuti petunjuk yang sudah ditetapkan pemerintah.
Karena dalam hal ini pemerintah sudah menggunakan teknologi alat yang canggih bukan dengan mata kita langsung sebagaimana dimaksud dalil-dalil diatas.

Ini juga jangan menjadi perdebatan, silahkan dengan keyakinan masing-masing yang penting tujuannya sama untuk mencari Ridho Allah SWT.

Semoga kita semua lebih dikuatkan oleh Allah SWT. selama beramal di bulan Ramadhan nanti. Dan tentunya semoga semangat kita istiqamah hingga akhir Ramadhan, hingga Syawal, dan seterusnya. Bahkan meningkat. Aamiin. (Wallahu a’lam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *