Pandangan Islam Terhadap Hoaks

KEMBALI kita pada edisi ini membahasa tentang berita hoaks. Karena berita hoaks dapat menjadi ancaman bagi kita semua maka kita harus selalu mewaspadai dan disampaikan berulang-ulang pada media ini.

Bahaya berita hoaks dapat mengancam perpecahan kerukunan antar bangsa, suku, dan agama. Dengan adanya berita hoaks, orang akan mudah terprovokasi, diadu domba, dan saling memfitnah.

Apa yang dimaksud berita hoaks?

Pengertian Hoaks

Hoaks adalah berita palsu yang sengaja dibuat oleh orang, baik individu maupun berkelompok. Kemudian disebarkan seolah olah sebagai berita yang benar.

Hoaks tidak hanya dalam bentuk berita, ia juga bisa berupa nasehat, peringatan, dan sebagainya. Secara umum, hoaks adalah berita atau informasi palsu.

Hoaks juga disebut Pemberitaan palsu. Yaitu usaha untuk menipu atau mengakali pembaca (penonton) atau pendengarnya untuk mempercayai sesuatu yang tidak benar, sedangkan pembuat berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu.

Tujuan Disebarkannya Berita Hoaks

Tujuan penyebaran berita hoaks pada umumnya untuk sebagai bahan lelucon, sekedar iseng, menjatuhkan lawan, promosi dengan penipuan, untuk kebencian, demi uang, dan lain sebagainya.

Hoaks Dalam Sejarah

Hoaks pada intinya adalah informasi dusta yang disebarkan dengan sengaja maupun tidak sengaja. Dalam sejarah ummat manusia mungkin Iblis adalah yang pertama kali memproduksi berita hoaks saat merayu Nabi Adam agar memakan dari pohon terlarang.

Berbagai metode dipakai Iblis untuk membuat hoaksnya laku, dibeli oleh Nabi Adam dan Siti Hawwa’. Antara lain dengan memberi nama pohon terlarang itu dengan nama pohon keabadian (syajaroh al khuld), sampai sampai buah terlarang itu dikenal orang dengan nama buah khuldi.

Allah SWT menceritakan dalam al Qur’an soal rayuan Iblis. Maukah engkau aku tunjukkan pohon ke-abadian dan kerajaan yang takkan binasa ? Iblis pun menjelaskan khasiat buah tersebut dengan menarik dan menjelaskan argumen pelarangan dengan informasi hoaks.

Dalam al Qur’an dijelaskan argumen Iblis : “Tuhan kalian tak melarang kalian mendekati pohon ini melainkan (untuk mencegah) kalian berdua menjadi malaikat atau menjadi orang yang kekal.” 

Tak cukup demikian. Iblis bahkan bersumpah bahwa nasihat yang dia berikan pada Adam dan Hawwa adalah untuk kepentingan mereka berdua.

Iblis bersumpah pada Adam dan Hawwa : “aku sungguh memiliki niat baik pada kalian berdua.”
Demikianlah akhirnya Nabi Adam dan Siti Hawwa memakan buah pohon terlarang dan dikeluarkan dari surga (walaupun memang tujuan penciptaan Nabi Adam adalah sebagai kholifah fil ardl bukan fil jannah).

Bagaimana Pandangan Hoaks Dalam Islam?

Istilah hoaks sama dengan kabar dusta. Dalam Islam, hoaks jelas-jelas dilarang karena dapat merugikan orang lain.
Bahkan Rasulullah SAW. memberi peringatan siapa yang berdusta atas nama Rasululluah (menyampaikan hadits-hadits palsu) maka tempatnya di Neraka. Sejarah Islam mencatat akibat bahaya/dampak buruk hoaks ini.

Diriwayatkan bahwa di masa Rasulullah ada tokoh suku Bani-l Mushtholiq masuk Islam. Namanya al Harits bin Dliror al Khuza’iy. Saat masuk Islam al Harits menyatakan bahwa dia akan mengajak kaumnya masuk Islam dan akan mengumpulkan zakat kaumnya untuk dihaturkan pada Rasulullah.

Al Harits meminta Nabi mengutus orang untuk menjemput zakat kaumnya, bila telah tiba waktunya. Nabipun kemudian mengutus Uqbah bin Walid bin Abi Mu’aith untuk menjemput zakat Bani-l Mushtholiq.

Al Harits sendiri kemudian memutuskan hendak mengantar sendiri zakatnya, bersama orang orang yang masuk Islam di antara kaumnya. Keluarlah al Harits dengan banyak orang dari perkampungan. Hal ini dilihat oleh Uqbah bin Walid, dan dia salah sangka.

Dia menyangka al Harits dan kaumnya akan menyerang dan membunuhnya. Antara Uqbah dan Bani-l Mushtoliq pernah ada permusuhan di masa lalu. Bergegas dia kembali ke Madinah dan melaporkan bahwa al Harits dan kaumnya tidak mau membayar zakat dan hendak membunuhnya.

Mendengar laporan Uqbah, Nabipun marah. Beliau mengutus Kholid bin Walid ke perkampungan Bani-l Mushtholiq untuk memeriksa kebenaran laporan Uqbah.

Di tengah perjalanan rombongan Kholid bertemu al Harits, dan al Harits menjelaskan kesalahpahaman ini.
Kholid pun mendapati bahwa Bani-l Mushtholiq telah masuk Islam dan tidak berkhianat, berdasar suara adzan yang dia dengar di perkampungannya (Tafsir al Baghowi dan Fi Rihabil Tafsir karya Abdul Hamid Kisyk).

Karena peristiwa ini turunlah ayat : “Hai orang yang beriman. Jika datang orang fasiq kepada kalian dengan berita penting, maka lakukanlah klarifikasi, agar kalian tidak menyalahkan suatu kelompok berdasar ketidaktahuan lalu kalian akan menyesal atas tindakan kalian.”

Itulah Hoaks, telah ada di masa Nabi, dan nyaris menimbulkan peperangan. Hoaks adalah sebuah senjata, untuk mengadu domba.

Di zaman medsos ini kita kadang tak sadar menjadi alat, menjadi proxy, menjadi sarana pihak pihak tak dikenal untuk menghancurkan diri kita sendiri. Kita berlindung pada Allah dari hoaks dan dari menyebarkan hoaks.

Larangan Menyampaikan Berita Hoaks

Allah SWT Berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amal-amalmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang-siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab : 70 – 71)

“Barang siapa yang menyampaikan suatu pembicaraan dan ia menyangka bahwa pembicaraan tersebut adalah dusta maka ia adalah salah satu dari dua pendusta.” (Shahih Muslim)

Sebagai orang Islam, kita dilarang menyampaikan berita hoaks dan diperintahkan menyampaikan perkataan yang benar. Termasuk menyebarkan berita hoaks/palsu adalah qiila wa qoola (katanya dan katanya) adalah sikap yang ditolak dalam Islam dalam kondisi apapun dan dalam model apapun.

Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang “katanya dan katanya”, Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Huroiroh. Rasulullah membenci dari kalian Katanya dan katanya, banyak bertanya, dan membuang-buang harta tiada manfaat.”  (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Termasuk Hoaks adalah melemparkan kesalahannya kepada orang lain. Allah Swt Berfirman: “Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. An-Nisaa’ : 112).

Allah berfirman : “Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam Keadaan terlaknat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya” (QS Al-Ahzaab : 60-61).

Melakukan perbuatan hoaks tempatnya adalah Neraka. Rasulullah shallallahualaihi wasallam bersabda : “Dan sesungguhnya kedustaan mengantarkan kepada perbuatan fujur dan perbuatan fujur mengantarkan kepada Neraka” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Informasi Hoaks Bisa disebabkan karena menyampaikan semua yang ia dengar dari orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Cukuplah seseorang telah berdosa jika menyampaikan seluruh yang ia dengar.”

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, Nabi bersabda : Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang dosa terbesar dari dosa-dosa besar?

Mereka (para sahabat) berkata, “Tentu wahai Rasulullah”.

Beliau bersabda : “Berbuat syirik kepada Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua”.

Tadinya Nabi dalam kondisi berbaring maka lalu Beliaupun duduk kemudian berkata : “Dan PERKATAAN DUSTA, bersaksi DUSTA”, Beliau terus mengulang-ngulangnya hingga kami berkata : “Seandainya jika beliau diam”

Maraknya berita hoaks sekarang ini, mengharuskan kita untuk selalu mewaspadai dan selalu berhati-hati dalam menerima sebuah informasi menyebarkan berita.

Apalagi kita tidak tahu siapa dibalik penyampai berita itu. Wallahu a’lam. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *