Menjadi Khalifah Pilihan

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari sesuatu saripati (berasal) dari tanah, kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang lalu tulang belulang itu Kami bungkus daging kemudian Kami jadikan dia sebagai makhluk berbentuk lain, Maha Suci Allah sebagai pencipta yang paling baik”. (QS. Al-Mu’min : 12 -14).

Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai makhluk theoformis yang memiliki sesuatu yang agung dalam dirinya yaitu di anugerahi akal yang memungkinkan dia dapat membedakan nilai baik dan buruk.

Dibandingkan dengan makhluk Tuhan yang lain, manusialah satu-satunya yang dapat disebut sebagai makhluk kualitatif, atau satu-satunya makhluk yang bisa membina dirinya sendiri secara nilai dan moral, dengan upaya kualitatif maka manusia dapat mengekspresikan secara totalitas kediriannya sambil berjuang melawan dorongan naluriah yang negatif.

Kualitas dan nilai manusia akan terwujud manakala manusia memiliki kemampuan untuk mengarahkan nalurinya yang berdasarkan pertimbangan akliah dan dibimbing oleh cahaya iman sehingga menghaturkan dia pada sebuah kualitas tertinggi sebagai manusia yang taqwa.

Secara umum fungsi manusia dapat dibagi kedalam dua hal, yaitu melaksanakan fungsi ibadah dan fungsi khalifah atau fungsi penyembahan dengan menjadi mandataris Tuhan.

Al-Qur’an memperhatikan terhadap kedudukan dengan fungsi manusia karena mengingat bahwa ayat satu an-nas sebagian besar manusia kurang memperhatikan fungsi dasarnya sehingga Al-Qur’an menawarkan suatu konsep hidup secara berkualitas.

Dengan demikian alur kehidupan manusia yang serasi sebagai makhluk adalah dapat mengemban tugas dengan tanggung jawabnya dengan tujuan untuk berbakti kepada Allah SWT. bukan untuk kepentingan diluar itu.

Dengan menggunakan kemampuan akalnya, manusia dapat berkreasi dan berinovasi berarti berkarya dalam meningkatkan kualitas hidupnya. Seiring dengan status terhormatnya sebagai khalifah Allah di muka bumi, lengkap dengan kerangka dan program kerja yang secara simbolis di kiaskan dalam proses penciptaan Adam AS.

Sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 30. “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi, mereka berkata “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu, orang yang membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau, Tuhan berfirman “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-Baqarah : 30).

Pernyataan kitab suci diatas dapat dinilai bahwa manusia sebagai khalifah tentunya terikat oleh kewajiban dalam mewujudkan nilai-nilai kehidupan yang syarat makna, yaitu kehidupan yang didasarkan pada nilai-nilai ilahiyat.

Suatu bentuk kehidupan yang terjamin terarah dan terukur dengan dilandasi oleh nilai-nilai kebenaran yang hakiki.
Sejalan dengan konteks peran sebagai khalifah manusia juga termasuk makhluk yang lalai, hingga sering lupa akan tugas dengan tanggung jawabnya. Seperti difirmankan Allah dalam surat Al-Anbiya’ ayat 1. “Telah dekat kepada manusia hari penghisab segala amalan mereka. Sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling darinya”. (QS. Al-Anbiya’ : 1).

Ayat ini menegaskan tentang perangkat yang merupakan hambatan pada diri manusia dalam menempati posisi terhormatnya bahwa dalam kondisi yang paling negatif.

Perangkat ini mampu menjerumuskan manusia-manusia dalam kenistaan dan penderitaan hidup. Sehingga pada gilirannya menghambat pengembangan potensi manusia itu sendiri. Oleh sebab itu ada ungkapan menarik dari Al-Qur’an yaitu : “Ketahuilah bahwa hidup didunia ini tidak lebih adalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dengan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak buah”. (QS. Al-Hadid : 20).

Ayat terakhir ini telah mengingatkan manusia bahwa hidup penuh dengan permainan (La’ibun) kanak-kanak penuh dengan permainan, setelah remaja atau dewasa tetap menyukai permainan misalnya permainan bisnis, asmara pangkat ataupun kedudukan. Selain menyukai permainan manusia cenderung melakukan kegiatan-kegiatan yang tiada nilai (Lahwun).

Kemudian kalau sudah mapan, berkeluarga melalui cenderung tafakur “saling membanggakan satu sama lain ; kedudukan gaji gelar sarjana dan lain-lain.

Dan kalau sudah tua maka muncul sifat Takatsur fi-l-amwal wal – awlad” bangga dengan banyaknya harta, bangga anaknya menjadi sarjana. Dosen bangga ketika mahasiswanya berprestasi dan lain sebagainya.

Semua itu merupakan urutan dalam kehidupan manusiawi tentunya manusia akan menjadi bermakna ketika ia bisa memerankan fungsinya dengan baik, mampu menempatkan tahap-tahap kehidupan sesuai dengan waktu dan tempatnya.

Memaknai keberuntungan dengan sikap arif, rendah hati dan penyantun dalam kemenangan, dapat mencairkan kebekuan dalam kepenatan, menjadi kan dirinya sebagai telaga kebahagiaan dan menimbulkan rasa sejuk bagi umat manusia yang meneguknya.

Sehingga dia dapat dikatakan sebagai khalifah pilihan yang nantinya akan menempati suatu jabatan yang strategis sebagai penghuni Surga Jannatun Na’im. Walllahu a’lam. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *