Meneladani Rasulullah SAW. Seutuhnya

Di bulan Rabi’ul Awwal ini, masyarakat kita terbiasa memperingati hari Maulid Nabi Muhammad SAW.

Berbagai acara diselenggarakan untuk memeriahkan hari tersebut. Bahkan istana Negara sejak masa pemerintahan Bung Karno hingga hari ini telah rutin menyelenggarakan acara untuk memperingati maulid Nabi Muhammad SAW.

Berbagai ekspresi kecintaan diungkapkan. Berbagai nasihat untuk meneladani kehidupan Rasulullah saw. juga telah sering disampaikan.

Namun, sudahkah berbagai kegiatan/ajakan tersebut telah menghantarkan ummat ini untuk sungguh-sungguh meneladani Rasulullah SAW? Atau akhirnya, ia hanya menjadi seremoni hampa tanpa makna.

Rasulullah SAW tidak pernah meminta ummatnya untuk merayakan hari lahirnya. Tidak pula para sahabat Nabi, yang jelas-jelas mereka adalah kaum yang mencintai Rasulullah SAW. Akan tetapi, upaya meneladani kehidupan Rasulullah SAW. sebagaimana yang sering dinasihatkan dalam peringatan Maulid Nabi adalah sesuatu yang sangat penting. Karena, sesungguhnya keimanan kita kepada Allah Ta’ala, tidak akan sempurna sebelum kita menjadikan Beliau, Rasulullah SAW sebagai teladan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab [33] : 21).

Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa mereka yang meneladani Rasulullah SAW adalah mereka yang lurus Tauhidnya kepada Allah.

Mereka yang selalu mengharapkan keridhaan Allah dan balasan terbaik di kampung akhirat. Mereka yang menghiasi hari-harinya dengan banyak mengingat Allah SWT.

Bahkan dalam ayat Al-Qur’an lainnya, Allah Ta’ala menegaskan bahwa syarat mendapatkan cinta-Nya adalah mengikuti jejak langkah (sunnah) Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran [3] : 31)

Untuk itu mengikuti sunnah Rasulullah SAW adalah kewajiban asasi bagi setiap muslim. Ini merupakan konsekwensi dari syahadat kita yang kedua, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.

Mengikuti sunnah Rasulullah SAW. juga merupakan jalan keselamatan dalam kehidupan akhir zaman.

Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Irbadh ibn Sariyyah radhiyallahu ‘anhu, “Aku telah tinggalkan untuk kalian petunjuk yang terang, malamnya seperti siang. Tidak ada yang berpaling darinya setelahku melainkan ia akan binasa.

Barangsiapa di antara kalian hidup, maka ia akan melihat banyaknya perselisihan. Maka kalian wajib berpegang teguh dengan apa yang kalian ketahui dari sunnahku, dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham.

Hendaklah kalian taat meski kepada seorang budak Habsyi. Orang mukmin itu seperti seekor unta jinak, di mana saja dia diikat dia akan menurutinya.” (Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah dalam sunannya nomor 43, dan Imam Ahmad dalam Musnadnya nomor 16519)

Sesungguhnya yang dimaksud dengan sunnah Rasulullah SAW bukanlah hal-hal tertentu saja dalam kehidupan Rasulullah SAW. Bukan terbatas dalam masalah ubudiyyah (shalat, zakat, shaum dan sejenisnya) saja.

Akan tetapi seluruh kehidupan Rasulullah adalah sunnah yang harus diikuti. Karena tidak ada satu pun ucapan dan perbuatan Rasulullah SAW yang keliru.

Seluruh segi kehidupan Rasulullah SAW telah terbimbing dengan wahyu. Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. An-Najm [53] : 3-4)

Bahkan dahulu para sahabat Rasulullah SAW sangat memperhatikan dan meneladani kehidupan Rasulullah saw hingga sampai pada masalah-masalah yang kita anggap remeh dan sepele.

Untuk itu, kita tidak boleh memilih-milih aspek tertentu saja dalam meneladani Rasulullah saw. Tidak boleh kita parsial dalam memahami dan mengamalkan sunnah Rasulullah saw ini. Karena sesungguhnya, mengamalkan sunnah Rasulullah SAW secara utuh adalah jalan agar kita meraih jannah yang dijanjikan Allah Ta’ala.

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap umatku masuk surga selain yang enggan, “

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, lantas siapa yang enggan?”

Nabi menjawab: “Siapa yang taat kepadaku (mengikuti aku) masuk surga dan siapa yang menyelisihi aku berarti ia enggan.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya nomor 6737)

Karena itu, marilah kita meneladani seluruh aspek kehidupan Rasulullah SAW. Kita meneladani ibadah Beliau SAW. Bagaimana Rasulullah SAW sangat memperhatikan shalat lima waktu, dan berjamaah di masjid dalam melaksanakannya.

Hingga dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda : Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya (Allah Ta’ala), sungguh aku sangat ingin untuk memerintahkan seseorang mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan seseorang untuk adzan, dan orang lain aku perintahkan untuk mengimamkan manusia (kaum muslimin). Kemudian aku akan pergi ke rumah para lelaki yang tidak menghadiri shalat berjama’ah dan aku bakar rumah-rumah mereka. (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya, no 608).

Demikian marahnya Rasulullah saw kepada para laki-laki yang terbiasa tidak hadir shalat berjamaah di masjid, hingga Rasulullah berkeinginan untuk membakar rumah mereka. Karena itu jika memang betul kita mencintai Rasulullah SAW, hendaknya kita berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk shalat berjama’ah di masjid.

Jangan biarkan masjid-masjid kita kosong. Jika kita tidak bisa hadir berjama’ah di masjid pada waktu siang dan sore, setidaknya hadirilah shalat berjama’ah di waktu shubuh. Jangan sampai muncul benih-benih kemunafikan dalam jiwa kita karena tidak biasa hadir shalat shubuh berjama’ah.

Dari Abu Hurairayrah radhiyallahu ‘anhu, Beliau berkata, “Telah bersabda Rasulullah SAW, “Tidak lah ada shalat yang lebih memberatkan bagi orang-orang munafiq kecuali shalat Shubuh dan Isya’.

Kalau saja mereka mengetahui (keutamaan) yang ada pada kedua shalat itu, pastilah mereka akan mendatangi keduanya (masjid) walaupun dengan merangkak. (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya, no 617)

Kita teladani pula ketegasan Rasulullah saw dalam perkara aqidah. Beliau SAW. menolak mengakui kebenaran agama lain dan menolak pula beribadah dengan cara agama lain.

Allah SWT berfirman : Sesungguhnya Din di sisi Allah adalah Islam. (QS. Ali Imran [3] : 19)

Beliau SAW juga tidak mau ada faktor-faktor yang dapat menyebabkan rusaknya aqidah ummat ini.

Karena itu Rasulullah SAW pernah merobohkan masjid yang dibangun oleh orang-orang munafiqin yang disebut sebagai masjid Dhirar.

Selain itu, mari kita teladani pula ketegasan Rasulullah SAW. urusan penegakan hukum syariat. Tidak ada seorang pun yang istimewa di hadapan hukum. Tidak ada yang kebal dan boleh mempermainkan hukum.

Sampai-sampai Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya kaum Bani Israil memiliki kebiasaan, jika mencuri salah seorang yang terhormat di kalangan mereka, maka mereka akan membiarkannya (tidak menghukumnya).

Sedangkan jika yang mencuri adalah orang yang lemah maka mereka memotongnya (menghukumnya). Sungguh, jika Fathimah (binti Muhammad, puteri Rasulullah SAW) mencuri niscaya aku akan potong tangannya. (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya nomor 3526)

Rasulullah saw menerapkan hukum Islam secara paripurna. Dalam seluruh aspek kehidupan. Baik itu politik pemerintahan, hukum jinayat (pidana) hingga hukum yang terkait dengan masalah keluarga. Karena itu jika kita ingin meneladani Rasulullah SAW berusahalah sekuat kemampuan agar tegak pula hukum Allah secara sempurna dalam kehidupan kita.

Keinginan kuat agar kita berhukum dengan syariat Allah ini merupakan bukti keimanan kita. Semoga dengan upaya kita yang sungguh-sungguh dalam meneladani seluruh sunnah Rasulullah SAW, dan menjadikan sunnah tersebut sebagai manhajul hayah (cara hidup) kita, Allah SWT memberikan kesuksesan dan keselamatan dalam kehidupan kita. Baik di dunia maupun di akhirat.

Ya Allah pelihara iman kami dan berikan kepada kami kesempatan merasakan manisnya iman dalam kehidupan ini yaitu dalam meneladani seluruh sunnah Rasulullah SAW. dengan sebaik-baiknya, sebelum Engkau panggil kami untuk menghadap-MU.

Ya Allah peliharakan hati dan pendengaran kami agar tidak terpedaya dari tipu daya syaithan yang merusak amal ibadah yang telah dan akan kami lakukan. Ya Allah himpunkan kami kelak di syurga Firdaus yang paling tinggi bersama Rasul SAW, para shiddiqin, syuhada’, dan shalihin.

Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan.

Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi ampunan. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir.

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW bermakna meneladani jejak langkah sunnah Rasul yang telah di wariskannya.

Beliau adalah teladan hidup yang menyemai banyak kebaikan dalam rangkaian keindahan hidup. Keteladanan yang akan senantiasa layak diikuti setiap generasi dari semua generasi sekarang maupun yang akan datang.

Perjalanan sejarah hidup Beliau melalui berbagai fase yang penuh kemandirian dan perjuangan. Semua perjalanannya juga dihiasi dengan keluhuran sikap dan ketinggian budi pekerti.

Setiap tahun setiap datang bulan Rabiul Awwal, Umat Islam menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Beliau dilahirkan pada 12 Rabiul Awwal tahun Gajah, bertepatan 21 April 571 M. Tanggal 12 Rabiul Awal sendiri dalam sejarah hidup Nabi SAW mempunyai arti penting, sebab selain dilahirkan pada tanggal ini, Beliau hijrah dari Makkah ke Madinah dan wafat pada tanggal yang sama.

Sejumlah acara biasanya digelar dengan melibatkan jumlah massa yang besar. Di samping tablig akbar dan salawatan (pembacaan shalawat), di kalangan masyarakat tradisional di kampung-kampung, pembacaan Kitab Barzanji, kitab sastra yang berisi biografi Nabi Muhammad SAW. serta puja-puji dan shalawat atas Beliau biasanya tidak pernah ketinggalan.

Di sejumlah daerah tertentu, pembacaan Barzanji yang diambil dari nama pengarang naskah tersebut, yakni Syaikh Ja’far al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim (w. 1766) merupakan ”menu” wajib yang tidak boleh dilewatkan. Wallahu a’lam. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *