Memetik Hikmah Dibalik Musibah

MASIH ingat peristiwa Tsunami ditahun 2004 yang menimpa hebat Nangroe Aceh Darussalam serta beberapa negera Asia lainnya.

Kala itu semua mata tertuju pada musibah besar yang tidak hanya merenggut ratusan bahkan ribuan nyawa tetapi juga menghancurkan hampir seluruh bangunan, dan yang tersisa hanya sedikit saja.

Tentu duka yang paling mendalam adalah kehilangan sanak saudara, kerabat, teman sejawat dan traumatik akan peristiwa tersebut.

Dilain sisi, gempa yang terjadi di Lombok NTB akan menguraikan satu makna, satu jiwa tentang peduli kepada sesama atas dasar kemanusiaan, inilah yang kita kenal dengan istilah ukhuwah islamiyah.

Ukhuwah Islamiah dan persatuan umat lebih utama dari kepentingan pribadi atau kelompok, banyak korban yang telah berjatuhan sakit dan didera sedih berkepanjangan membutuhkan uluran tangan.

Kemudian dalam minggu ini betapa berat ujian dan cobaan yang harus diderita saudara-saudara kita di Kota Palu dan Donggala Sulawesi Tengah yang telah menjadi korban gempa dan tsunami.

Berbicara musibah dengan segala bentuknya, banjir bandang, kemarau berkepanjangan, longsor, badai dahsyat, angin kencang dan lain sebagainya bukanlah episode pertama dari album manusia tentang kedukaan-kedukaan atas musibah dalam kehidupannya, kita tentu masih ingat bagaimana itupula pernah terjadi bahkan sebelum Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam diutus untuk menyampaikan risalah kebenaran.

Apa yang terjadi pada saudara-saudari kita di Kota Palu dan Donggala pada hakekatnya merupakan ujian/cobaan dari kehidupan manusia di dunia.

Bukankah setiap mu’min mau tidak mau, bisa tidak bisa akan melewati ujian yang nantinya akan berdampak pada satu hal yaitu apakah cobaan itu telah mampu mendewasakan keimanan dan ketaatannya kepada Sang Pencipta atau sebaliknya Ia semakin jauh dari-Nya.

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 1-2)

Musibah yang terjadi juga harus menjadi pemantik kesadaran kita untuk berbenah iman dan takwa, meluruskan dan memurnikan ibadah dengan sebaik-baiknya, berlaku adil pada sesama serta jujur pada dosa dan kemaksiatan yang dilakukan terang-terangan maupun secara tersembunyi bilamana menjadi faktor substansial yang terbesar Allah Ta’ala menguji dengan gempa dan ujian semisalnya.

Seorang mukmin yakin bahwa bukan hanya faktor fisik alam yang lagi tidak sehat akan tetapi juga adalah pelaku (penikmat) alam itu sendiri; manusia.

Muhasabah atas kemaksiatan dan dosa-dosa anggota tubuh dari kepala hingga kaki, apa yang pernah dan masih dilakukan. Bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla, konsisten di atas din (agama)-nya, serta waspada terhadap semua yang dilarang, yaitu berupa perbuatan syirik dan maksiat. Sehingga, mereka selamat dari seluruh bahaya di dunia dan akhirat.

Sikap Kita

Setiap muslim yang dirundung duka dan ujian maka sepantasnyalah muslim lainnya turut meringankan beban pikiran dan kesedihannya. Saling mengenal (ta’aruf),  saling memahami keadaannya (tafahum), saling menolong, memberi bantuan (ta’awun), saling membebani (takaful) dan mendahulukan kepentingan saudara (itsar).

Inilah yang tengah dan harus selalu dilakukan dari ujian yang menimpa saudara kita di Kota Palu dan Donggala.

Membangun kesepahaman, turut merasakan kesusahan yang mereka alami hingga kita mencoba untuk menolong mereka, mengirimkan bantuan fisik, materi dan lain sebagainya.  

Maka kedukaan yang mereka hadapi saat ini paling tidak akan sedikit berkurang karena kasih sayang dan perhatian kita yang tulus kepadanya. Sebab musibah di Kota Palu dan Donggala, musibah kita semua.

Setiap yang terjadi di alam ini adalah atas kehendak dan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi.

Dengan keyakinan tersebut maka dirinya akan merasakan ketenangan didalam hatinya serta ridho atas apa pun yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan atas dirinya baik ia berupa kebahagiaan maupun kesengsaraan, kelapangan maupun kesempitan, Musibah memang dapat terjadi kapan saja, dimana saja dan terhadap siapa saja.

Sebagai seorang muslim, kita harus bijak dalam menghadapi musibah yang diberikan oleh Allah Swt.  Firman Allah Ta’ala : “Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Al Hadid : 22 – 23)

“Katakanlah (Muhammad),”Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, kami, dan hanya kepada Allah lah orang-orang yang beriman bertakwa.” (QS. At Taubah : 51)

Apa yang ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba-hamba-Nya tidaklah lepas dari dua hal :
Pertama, Musibah yang disebabkan kemaksiatan seorang hamba. “Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuara : 30)

Kedua, Bahwa ujian dari Allah Subha-nahu wa Ta’ala untuk mengangkat derajatnya dan menghapuskan kesalahan-kesalahannya.

Bagaimana cara menghadapi musibah menurut  Islam ?

Allah Swt. Berfirman : (Yaitu) orang-orang yang apabila menimpa kepada mereka suatu musibah, mereka berkata: Sesungguhnya kita ini dari Allah, dan sesungguhnya kepadaNya­lah kita semua akan kembali. (Qs : Al-Baqarah : 156).

Ayat di atas menjelaskan bahwa musibah dan anugerah adalah dua hal yang tidak luput dari kehidupan manusia.
Agama Islam mengajarkan kepada umatnya bagaimana menyikapi kedua hal tersebut.

Saat mendapat musibah kita harus bersabar, karena dengan kesabaran, berharap Allah mengampuni dosa-dosa hambanya. Begitu juga jika kita mendapat suatu anugerah, haruslah menyikapinya dengan bersyukur akan menambah tabungan untuk bekal kehidupan kelak diakherat.

Barang siapa bersyukur, InsyaAllah, akan ditambah nikmatnya oleh Allah kepada orang tersebut dan barang siapa kufur sesungguhnya azab Allah sangat pedih.

Musibah pada dasarnya merupakan sesuatu yang begitu akrab dengan kehidupan. Adakah orang yang tidak pernah mendapatkan musibah? Tentu tidak ada.

Musibah adalah salah satu bentuk ujian yang diberikan Allah kepada manusia. Musibah adalah sunnatullah yang berlaku atas para hamba-Nya. Dan bukan berlaku pada orang-orang yang lalai dan jauh dari nilai-nilai agama saja.

Musibah juga menimpa orang-orang yang beriman, bahkan semakin tinggi kedudukan seorang hamba di sisi Allah, maka semakin berat ujian dan cobaan yang diberikan Allah kepada-nya.

Mengapa demikian?

Karena Allah akan menguji keimanan dan ketabahan hambanya. Sebagai contoh, musibah dimulai dari tanah longsor , banjir, gunung meletus, angin putting beliung dan lain-lain, namun sayangnya masih sedikit yang bisa mengambil hikmah dari musibah yang sedang diderita.

Ujian seharusnya dapat mendongkrak kualitas keimanan dan mengantar pada keberkahan, tapi ternyata masih sering membawa kepada murka Allah. Hal tersebut terjadi karena orang yang terkena musibah tak mampu bersikap sabar saat menghadapinya.

Agama Islam tidak membiarkan umatnya begitu saja ketika ditimpa mereka musibah. Allah Swt sudah memberikan tuntunan lewat Alquran, bagaimana seharusnya seorang hamba ketika ia mendapat musibah baik dirinya maupun orang lain. Jika musibah diberikan kepada dirinya sendiri, cara menghadapi musibah menurut Islam maka adalah dengan hal-hal sebagai berikut:

1) Mengucapkan kalimat “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” (kalimat istirja’)
Kalimat ini berarti sesungguhnya kami semua adalah milik Allah, dan kepada-Nya lah kami akan kembali.
Hal ini tercantum dalam Surat al-Baqarah, “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.” (QS al-Baqarah: 156).

2) Memanjatkan doa kepada Allah SWT agar diberi pahala dari musibah yang dihadapinya.
Hal ini sebagaimana diajarkan Rasulullah dalam sabdanya, “Apabila kamu diberi musibah oleh Allah, maka ucapkanlah doa “Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlifha khairan minha (Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah ini, dan gantikanlah bagiku dengan sesuatu yang lebih baik daripadanya).” (HR Muslim, Ibnu Majah, Malik, dan Ahmad bin Hanbal).

3) Bersikap sabar dan tidak berputus asa dalam menghadapi musibah.
Dengan kesabaran itulah seseorang mendapatkan pahala dari musibah yang menimpanya.
Seperti diajarkan dalam ayat, “……………. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS az-Zumar: 10).

4) Menerima dengan ikhlas dan tidak menyesali atau membenci musibah yang diberikan Allah SWT kepadanya.
Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Siapa yang ridha atas ujian itu, maka Allah akan meridhainya. Dan siapa yang membencinya, maka Allah akan membencinya.” (HR Tirmizi).

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *