Membangun keluarga ‘Samaroh’

PERNIKAHAN itu indah karena kalau tidak indah tidak mungkin ada orang yang menikah sampai dua atau tiga kali. Namun dalam pernikahan kadang-kadang tidak seindah yang kita bayangkan. Cinta yang penuh itu hanya ketika masih pengantin baru, karena belum ada cacat/cela yang tampak. Sehingga semuanya tampak indah dan menyenangkan. Seperti dalam sebuah syair lagu, Tiada kalimat, dapat melukiskan betapa sayangnya kepada dirimu. Tiada ibarat dapat sempurna. Betapa cintanya kepada dirimu.

Namun cinta itu sangat sulit menjaganya untuk tetap indah bersemi. Harus ada usaha yang dilakukan agar tetap harmonis sampai akhir hayat. Untuk membangun keluarga yang bahagia, rumah tangga yang tentram sejahtera, jangan lupakan jasa orang tua kita. Bukan dengan materi, tapi dengan berbakti kepadanya. Karena sungguh, kasih sayang orang tua sejak dari mengandung usia seminggu selama sembilan bulan lamanya kemudian merawat kita sampai kita berkeluarga tidak dapat terbalas dengan materi sebesar apapun jumlahnya.

Benar juga syair yang diucapkan bahwa darah daging kita ini dari air susu ibu, dan jiwa raga kita berasal dari kasih sayangnya. Hadits Rasul, bahwa ridho Allah terletak pada ridho orang tua dan murka Allah terletak pada murka orang tua. Dari itu, hormati orang tua, belas kasih sayangnya dengan berbakti kepada mereka.

Kemudian rumah tangga akan tentram jika dinaungi dengan shalat dan bacaan qur’an. Jika dalam suatu rumah tangga antara suami istri tidak pernah akur, berseteru sepanjangan tak ubahnya sepert tokoh kartun Tom and Jerry sudah pasti keluarga itu jarang bahkan tidak pernah sholat.

Karena mengapa?

Sesungguhnya syetan itu sangat senang sekali dengan orang yang tidak sholat. Tak jarang terjadi rumah tangga yang suaminya pendiam/lugu dirumah, tapi diluar rumah gaulnya bukan main. Hal semacam ini mungkin terjadi, karena tidak diiringi dengan sholat.

Sholat adalah sarana kita untuk mengadu kepada Allah. Kalau kita mengadu kepada ortu, belum tentu ada jalan keluar. Bahkan ada ortu yang menanggapi keadaan anaknya mengadu, “Sudahlah nak, cerai saja, Banyak laki-laki lain!”

Ada juga orang tua yang menentramkan anaknya, dengan berkata, ”Sabar ya nak, mungkin Allah sedang menguji kamu”.

Kepada Allah kita mengadu, “Ya Rabb jika suamiku keluar dan mencari nafkah kami ikhlas dan ridho melepasnya. Namun kalau suamiku keluar rumah untuk bermaksiat kepada-Mu Ya-Allah, maka bimbinglah dan sadarkanlah ia, Ya Tuhanku”.

Mudah-mudahan dengan usaha, do’a dan usaha kita bersama, kita dapat mewujudkan keluarga yang sakinah, mawadah warohmah.

Dalam membangun rumah tangga tentu pasangan suami istri sangat mengharapkan hadirnya keturunan anak yang soleh/solehah. Ternyata menciptakan anak yang soleh/solehah itu harus dimulai dari kita sendiri.

Kalau kita ingin anak yang rajin sholat, kita dulu yang rajin sholat. Kalau ingin anak yang jujur, mulai dari diri kita yang berlaku jujur. Karena kata pepatah rebung tidak akan jauh dari rumpun. Kemudian ilalang tidak akan mungkin berbuah padi, tapi padi bisa saja berbuah hampa. Artinya perbuatan jahat tidak akan mungkin dibalas orang baik, tapi perbuatan baik bisa saja dibalas jahat. Jadilah kita menjadi manusia yang utama, yang bermanfaat bagi semua.

Selalu hormat dan patuh kepada orang tua juga merupakan cerminan anak kepada kita. Sungguh kasih sayang orang tua itu sangat luar biasa kepada anknya. Sehingga harus kita balas dengan penuh kasih sayang. Sebagai contoh : jika anak mengalami demam yang panasnya tinggi, maka sebagai orang tua sangat gelisah walaupun tidak memegang uang sepeserpun tetap dibawa si anak kerumah sakit/bidan.

Kemudian setelah sampai di rumah sakit, dokter mengatakan, bahwa anaknya harus di opname, lalu apa jawaban orang tuanya?

“Dok, lakukan apapun yang terbaik untuk anak saya, masalah biaya tidak usah dipikirkan, bagaimanapun caranya akan saya usahakan!”

Lalu bagaimana kalau sebaliknya, orang tua yang sakit?

Berkata Dokter, ”Pak, ortu bapak harus di opname”.

Lalu apa jawab si anak,”Dokter, urusan opname nanti dulu. Karena anak bapak ini bukan saya seorang. Saya akan menghubungi saudara yang lain untuk bermusyawarah terlebih dahulu, bagaimana sebaiknya?”

Ilustrasi semacam ini banyak terjadi di masyarakat kita. Realita semacam ini tak jarang kita temui dalam kehidupan nyata. Mudah-mudahan kita terhindar dari sikap yang seperti ini. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *