Maulid Nabi Muhammad SAW.

KEBIASAAN ditempat kita pada tanggal 12 Rabi’ul Awal diperingati sebagai Maulid Nabi Muhammad SAW. Untuk menyambutnya, umat Islam, khususnya di Indonesia, biasanya akan menggelar acara seperti Tabligh Akbar dan juga Shalawatan.

Bagi yang merayakan Maulid Nabi, tentu mereka memiliki dalil terkuat yang mereka ambil, dan bagi yang tidak merayakannya sebab itu pendapatnya, maka tidak mengapa.

Terlepas dari perdebatan boleh tidaknya merayakan Maulid Nabi, perayaan-perayaan tersebut tentu saja didasarkan atas rasa cinta pada Nabi Muhammad SAW  dan bertujuan untuk meningkatkan kembali semangat islam seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Namun, sangat disayangkan sekarang ini peringatan Maulid Nabi banyak yang melenceng dari tujuan awalnya. Maulid Nabi kini hanya sebatas tradisi ritual tahunan belaka dan tidak memberikan efek yang berarti bagi masyarakat.

Ceramah-ceramah yang disampaikan pada Maulid Nabi pun biasanya hanya seputar akhlak dan kepribadian Rasulullah saja. Padahal masih banyak hal dalam diri Rasulullah yang perlu diteladani, seperti Rasulullah sebagai Rasul sekaligus sebagai kepala negara yang mengurusi umat.

Jika kita tengok sejarah awal berdirinya Daulah Islam di Yastrib (Madinah), Rasulullah berhasil menyatukan berbagai macam suku di bawah naungan islam.

Beliau juga mendamaikan pertikaian antara suku ‘Aus dan suku Khazraj yang sudah berlangsung berabad-abad lamanya. Rasulullah membuktikan bahwa ikatan aqidah Islam merupakan ikatan tertinggi yang mampu mengalahkan berbagai ikatan-ikatan lain, termasuk ikatan kesukuan.

Sebagai Rasul dan juga kepala negara, Rasulullah juga senantiasa berusaha mendakwahkan Islam ke seluruh penjuru dunia dengan mengirim utusan-utusannya ke negeri-negeri di luar Madinah, termasuk ke dua imperium besar yang sudah berusia ribuan tahun, yaitu Persia dan Romawi.

Maka, dalam kurun waktu kurang dari 30 tahun, Rasulullah berhasil membuat wilayah Persia yang seluas 7.400.000 km2 masuk ke dalam wilayah Islam. Hingga hari ini, tidak ada satu pun negara yang berkembang sepesat Daulah Islam.

Rasulullah benar-benar telah membesarkan nama Islam. Bahkan sepeninggal Rasulullah, Daulah Islam terus berkembang hingga memiliki luas 20.000.000 km2 dan wilayahnya terbentang hingga dua per tiga dunia. Pada masa itu Islam benar-benar berjaya di mata dunia.

Hari ini, di Indonesia yang notabene luas wilayahnya jauh lebih kecil dibanding luas wilayah Daulah Islam, dalam internal agama Islam saja banyak terjadi perdebatan yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan.

Padahal mereka sama-sama satu aqidah yaitu Islam. Tidak seharusnya seorang muslim mengatakan muslim lainnya sesat hanya karena berbeda pendapat.

Perbedaan pendapat adalah suatu hal yang pasti. Pemuda muslim ‘jaman now’ pun, sebagian tidak merasa bangga akan Islam. Hari ini, cinta mereka sudah banyak yang tergadai untuk duniawi saja.

Mungkin secara fisik, kita memang merdeka, namun secara pemikiran kita masih terjajah dengan pemikiran-pemikiran barat seperti sekulerisme dan liberalisme.

Daya kritis para pemuda telah dialihkan ke hal-hal yang tidak berfaedah. Mereka menjadi cenderung apatis dan hanya mementingkan kebahagiaan diri sendiri.

Belum lagi melihat kondisi umat Islam di Palestina, Suriah, serta Rohingya. Sungguh sangat menyedihkan.
Jika di sini kita masih terjajah secara pemikiran, mereka di sana terjajah secara fisik. Mereka dibunuhi, rumah-rumah mereka di hancurkan, harta mereka dirampas dan apa sikap kita terhadap masalah ini?

Bukankah Rasulullah sudah mengatakan bahwa Islam adalah satu tubuh, yang jika satu anggota badan sakit maka satu tubuh itu akan merasakannya?

Maulid Nabi Muhammad SAW seharusnya dijadikan momentum untuk membangkitkan kembali kesadaraan persatuan umat dan juga semangat keagamaan serta membakar ghirah semangat Islam bagi kaum muslimin, khususnya anak muda ‘jaman now’ yang sekarang lebih hafal tanggal ulang tahun artis idola ketimbang tanggal Maulid Nabi.

Pada zaman Rasulullah tidak ada satu hal pun yang diatur tanpa aturan islam, begitu juga di masa Daulah Islam sepeninggal Rasulullah. Maka pada masa itu muncul banyak pemuda pemudi muslim yang hebat. Anak-anak gaul pada zaman itu adalah anak-anak yang mengenal dan hafal Al-Quran.

Saat bermain dan berkumpul pun yang dibicarakan adalah Al-Qur’an. Lalu bagaimana dengan pemuda pemudi ‘jaman now’?

Pemuda yang suka pergi ke masjid dan menghafal Al-Qur’an dikatakan kuno, sementara yang hafal lagu-lagu pop dan suka nongki-nongki dikatakan gaul. Inilah akibat dari tidak diamalkan aturan Islam secara menyeluruh.

Islam dahulu pernah berjaya, mari kenali Islam lebih dalam. Saatnya berhijrah dari kegelapan maksiat menuju cahaya Islam.

Salah satu langkah awal yang bisa dilakukan yaitu mencari sahabat sholih yang selalu bisa mengajak kita melakukan kebaikan.

Sulit jika kita harus berpegang teguh pada Islam sendirian. Akan lebih mudah jika bergabung dalam jamaah karena kita akan menemukan sahabat-sahabat taat yang juga berusaha untuk menjadi sholeh dengan berdakwah di jalan Allah.

Islam pun mewajibkan kita untuk bergabung dalam jamaah, seperti yang disebutkan dalam hadis, “Wajib atas kalian untuk bersama dengan Al-Jama’ah dan berhati-hatilah kalian dari perpecahan. Sesungguhnya setan bersama orang yang sendirian, sedangkan dari orang yang berdua dia lebih jauh. Barang siapa yang menginginkan tengah-tengahnya (yang terbaiknya) surga maka hendaklah dia bersama jamaah.

Barang siapa yang kebaikan-kebaikannya menggembirakan dia dan kejelekan-kejelekannya menyusahkan dia, maka dia adalah seorang mukmin.” (shahih, HR At-Tirmdzi).

Maka, saatnya kita menyadari bahwa kini umat Islam masih terkotak-kotak dalam negara dan firqah Mari jadikan peringatan Maulid Nabi ini menjadi pengingat kita agar selalu meneladani Rasulullah SAW dan mengamalkan semua yang diajarkan Beliau.

Rapatkan barisan dan buktikan cinta kita pada Rasulullah dengan berjuang agar Islam bisa kembali diterapkan di seluruh lini kehidupan. Wallahu a’lam. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *