Manusia Menurut Al Qur’an

“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia (insan), melainkan agar mereka menyembah kepada Ku” (QS. Az Zariyat : 56)

Apa manusia itu?

Dalam Al Qur’an Allah SWT banyak sekali membahas tentang manusia. Ada tiga pengistilahan manusia yang di sebutkan oleh Allah SWT dalam Al Qur’an, yaitu Al Basyar, An Nas dan Al Insan.

Kata- kata Al Basyar  tertulis sebanyak 35 kali dalam Al Qur’an, sedangkan kata Al Insan tertulis sebanyak 65 kali. Yang paling banyak adalah kata- kata An Nas, tertulis sebanyak 240 kali dalam Al Qur’an yang semuanya merujuk kepada manusia.

Lalu, apa bedanya antara Al Basyar, An Nas dan Al Insan.

Pertama, Al Basyar yang tertulis sebanyak 35 kali dalam Al Qur’an itu menyebutkan manusia dalam segi fisiknya. Bahwa manusia itu diciptakan oleh Allah SWT dalam bentuk yang paling sempurna dibanding dengan makhluk lain di muka bumi ini.

Kedua, sebagai An Nas di katakan bahwa manusia itu adalah makhluk sosial yang saling bergantung antara satu dengan yang lainya. An Nas di tuntut untuk menghargai satu dengan lainnya, walaupun secara fisik, kebiasaan dan bangsa yang berbeda- beda. Sebagaimana Firman Allah yang artinya : ”Wahai manusia! Sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki- laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu bersuku- suku dan berbangsa- bangsa agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS. Al Hujarat : 13).

Dan yang ketiga, manusia sebagai Al Insan disebutkan  sebagai makhluk dengan di beri karunia akal yang berlawanan dengan binatang ternak dan sebagainya. Inilah keistimwewaan manusia dibanding makhluk lainnya.

Dengan karunia akal itu, manusia ditunjuk untuk menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi. Bersama dengan keistimewaan itu, melekat sederet tanggung jawab yang akan dimintai oleh Allah SWT.

Salah satunya berkewajiban untuk beribadah kepada Allah sepanjang hayat, sebagaimana firman Allah yang artinya : “Tidak lah diciptakan  jin dan manusia (insan) melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Az Zariyat : 56).

Kelebihan manusia yang ketiga inilah yang seharusnya diberdayakan manusia dalam rangka meningkatkan derajat di sisi Allah SWT, yaitu manusia sebagai Al Insan.

Di pandang dari sisi Al Basyar dan An Nas, manusia tak jauh berbeda dengan makhluk lainnya, seperti hewan misalnya.

Namun dengan akal yang dimiliki seorang insan, berpotensi menjadikan manusia lebih tinggi derajatnya dibanding malaikat. Atau sebaliknya, manusia akan menempati derajat yang lebih rendah dari hewan ternak apabila tidak menggunakan akal yang dimilikinya.

Jika dikaitkan dengan Pancasila sebagai tuntunan kita berbangsa dan bernegara, maka sangat pancasilais seorang muslim yang telah memahami dirinya sebagai insan, basyar dan annas.

Sila Ketuhanan yang Maha Esa di buktikan dengan sikap Takwanya seorang muslim. Seorang muslim senantiasa menjaga persatuan, nilai- nilai kemanusiaan dan keadilan sosial, ketika menyadari dirinya sebagai Annas  yang selalu berhubungan dan saling membutuhkan antar sesama manusia.

Begitu juga musyawarah akan di junjung tinggi, untuk pengambilan sebuah kebijakan untuk menghindari konflik dan kesalah fahaman. Akan aman dan sentosa negeri ini, dan tercapai kesejahteraan bersama.

Kedudukan Manusia

Pertama, Sebagai hamba Allah. Kedudukan sebagai hamba Allah ini memang menjadi tujuan Allah menciptakan manusia dan makhluk-makhluk lainnya dalam firman-NYA, yang atinya : “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada Ku“.(QS. Adz-Dzariyat:56)

Kedua, sebagai Khalifah Allah di muka bumi. Manusia di beri kedudukan oleh Tuhan sebagai penguasa, pengatur kehidupan di muka bumi ini. Firman-NYA, yang artinya : ”Dialah yang menetapkan kamu jadi khalifah-khalifah di muka bumi, dan ditinggikannya sebagian kamu dari pada yang sebagian beberapa derajat untuk mencoba mu dari hal apa saja yang diberikan-nya kepada kamu. Sesungguhnya Tuhan Maha Pengampun lagi Penyayang.” (QS. Al-An’am :165)

Ketiga, sebagai Makhluk yang Bertanggung Jawab. Setelah dengan kemampuan akalnya manusia meneliti dunia ini dan dirinya sendiri kemudian mengerti bahwa hakekat diciptakannya manusia dan alam semesta ini semata-mata untuk menyembah kepada Tuhannya, maka sebagai konsekuensi diberikan kedudukan yang istimewa oleh Tuhan pada manusia seperti tersebut diatas, maka manusia juga dituntut untuk bertanggungjawab terhadap apa-apa yang telah dilakukan diatas dunia ini, kelak di akhirat.

Firmannya, artinya : ”Pada hari itu, lidah, tangan dan kaki mereka sendiri akan menjadi saksi atas perbuatan-perbuatan yang telah mereka lakukan. Pada hari itu Allah akan memberi balasan kepada mereka dengan balasan yang setimpal dan tahulah mereka bahwa Allah itulah yang benar dan ia telah cukup memberikan keterangan.” (QS. An-Nur : 24-25 )

Keempat, Sebagai Makhluk yang dapat didikan dan mendidik. Manusia sebagai makhluk yang dapat didikan dapat difahami dari firman Allah sebagai berikut, artinya : “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, yang menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah dan Tuhanmu yang amat mulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Yang mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak di ketahuinya.”(QS. Al-Alaq : 1-5)

Sedangkan manusia sebagai makhluk mendidik dapat difahami dari firmannya yang mengisahkan bagaimana Luqman mengajar anaknya sebagai berikut firman Allah, artinya : “Perhatikanlah ketika berkata Luqman kepada anaknya sedang ia memberi pelajaran kepadanya, katanya : hai anakku, janganlah engkau menyekutukan allah. Sesungguhnya menyekutukan Allah itu aniaya yang besar.” (QS. Luqman : 13)

Demikian kedudukan manusia yang sempat di kemukakan dalam uraian ini. Ini adalah sebagian kecil yang dapat diungkapkan. Namun kami menganggap yang sedikit ini telah dapat memberi gambaran apa dan bagaimana seharusnya itu baik untuk dirinya sendiri, sesamanya, alamnya dan Tuhannya.

Hakekat Manusia dilihat dari Eksistensinya

Manusia adalah makhluk yang bebas nilai. Berdasarkan hakekat penciptaannya, maka secara moral manusia telah diikat suatu perjanjian dengan penciptanya ikatan moral dalam bentuk pernyataan bertauhid kepada Allah, sebagai bentuk perjanjian manusia dengan penciptanya.

Perjanjian ini merupakan prinsip dasar dalam konsep hubungan manusia dengan penciptanya. Bentuk perjanjian dan pernyataan seperti di kemukakan itu menjadikan manusia memiliki peluang untuk di serahi amanah, yang kemudian di harapkan dapat di pertanggung jawabkan  kepada sang pencipta.

Pertanggung jawaban itu adalah berupa kewajiban menjalankan tugas dalam peran sebagai khalifah (mandataris ) Allah di muka bumi.

Keberadaan manusia selama menjalani kehidupannya di bumi, pada dasarnya tak dapat dilepaskan dari peran utamanya itu. Dalam hubungan ini yang akan di jadikan pernilaian adalah bagaimana pola peran manusia dalam mengemban amanat serta mempertanggungjawabkan pelaksanaannya.

Kesesuaian antara peran dan amanat akan dinilai positif, dengan janji akan memperoleh ganjaran (reward) dari sang pencipta. Sebaliknya bagi yang gagal memenuhinya akan dinilai negatif, serta akan memperoleh hukuman sebagai imbalannya. Dalam hubungan ini terlihat betapa pentingnya peran pendidikan dalam pandangan filsafat pendidikan islam.

Hikmah yang dapat dipetik

Ketika manusia telah memahami potensinya sebagai insan, maka akan makmur lah kehidupan dunia. Manusia sadar, bahwa dia sebagai khalifah (pemimpin), kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT.

Tidak ada lagi tindak pidana korupsi, ketika sadar bahwa itu adalah perbuatan yang salah yang tidak menunjukkan sikap sebagaimana seorang pemimpin. Sehingga, ketika menjadi pejabat akan menjadi pejabat yang amanah.

Begitu juga dalam kehidupan bermasyarakat, akan ada rasa saling menghormati. Karena faham bahwa dia tidak bisa hidup tanpa orang lain. Konflik horizontal dapat teratasi, karena adanya perasaan saling menghargai antara satu dengan yang lainnya.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk kita dalam menjalani kehidupan sebagai manusia, yang mengerti hakikat dan tahu tujuan. Amien  Allahu’alam

disarikan dari dialog dengan H. Syamsul Anwar, Dosen UNMURA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *