Kezuhudan Umar bin al Khaththab r.a. (3)

HAYATUSH SHAHABAH – Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam kitab Al Hilyah dari Salim bin Abdullah sesungguhnya Umar bin Khaththab r.a. pernah berkata, “Demi Allah! Kami tidak menghiraukan tentang kelezatan kehidupan dunia. Jika tidak, kami pasti akan memerintahkan agar seekor kambing disembelih dan memerintahkan agar roti dimasak dari tepung gandum yang bermutu tinggi. Kemudian  memerintahkan pula agar kismis dimasak sehingga menjadi seperti  mata burung puyuh. Kami akan memakannya. Tetapi, kami tidak menghiraukan kelezatan kehidupan dunia karena kami telah mendengar Allah swt. Berfirman:

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاعَلَى النَّارِۗ اَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَاۚفَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُوْنِ بِمَاكُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِالْحَقِّ وَبِمَاكُنْتُمْ تَفْسُقُوْنَ

Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan), ‘Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniamu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalas dengan adzab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan kamu telah fasik.” (Q.s. Al Ahqaaf: 20)

Di dalam riwayat Ibnu al Mubarak dan Ibnu Sa’ad dari Abu Musa asy Sya’ari r.a. sesungguhnya ia pernah datang menemui Umar bin Khaththab r.a. bersama rombongan dari Basrah. Abu Musa berkata: Kami masuk menemuinya setiap hari. Aku melihat ia sering makan roti yang disapu dengan minyak zaitun, kuah yang dimasak kadang-kadang dengan lemak binatang, kadang-kadang dengan susu.

Pada suatu hari kami mendapatinya sedang makan roti yang telah dihancurkan dan direndam di dalam air dan dipanaskan. Kadang-kadang kami menemuinya sedang makan daging, tetapi hanya sekali saja dan dalam jumlah yang sedikit.

Pada suatu hari Umar r.a. berkata kepada kami, “Demi Allah! Sesungguhnya aku melihat kamu tidak begitu berselera dengan makanan yang telah aku sediakan. Demi Allah! Sesungguhnya aku bisa menyediakan makanan yang lezat untuk kamu yang terdiri dari Karakir, Sola, Sola’iq dan Dhinab.”

Jarir bin Hazim berkata, “Sola adalah daging yang dipanggang, Dhinab bermakna bijiran dan Sola’iq adalah roti lembut.”

Kata Umar r.a., “Tetapi aku telah mendengar Allah telah menghinakan satu kaum karena perbuatan yang telah mereka lakukan:

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاعَلَى النَّارِۗ اَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَاۚفَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُوْنِ بِمَاكُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِالْحَقِّ وَبِمَاكُنْتُمْ تَفْسُقُوْنَ

Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan), ‘Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniamu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalas dengan adzab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan kamu telah fasik.” (Q.s. Al Ahqaaf: 20)

Abu Musa r.a. berkata, “Jikalau kamu berbincang-bincang dengan Amirul Mukminin ia akan menetapkan jumlah tertentu dari Baitul Mal sehingga kamu boleh mendapatkan makanan darinya.

Mereka pun pergi menemui Umar r.a. dan memberitahu apa yang diinginkan oleh mereka. Umar r.a. berkata kepada mereka, “Wahai para pemuka sekalian! Apakah kamu tidak Ridha dengan sesuatu yang aku ridha untuk diriku sendiri?”

Mereka menjawab, “Wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya Madinah sangat sesuai untuk menjalani kehidupan yang mewah. Kami berpendapat bahwa mereka tidak suka terhadap makanan yang disediakan oleh engkau. Kami berasal dari tempat yang subur dan banyak makanan. Pemimpin kami selalu menghidangkan makanan yang lezat untuk orang banyak.”

Umar menundukkan kepalanya seketika, kemudian mengangkatnya sambil berkata, “Aku menetapkan untuk kamu dari Baitul Mal dua ekor kambing dan dua Jarib dari bijiran sebagai makanan kamu. Pada pagi hari makanlah seekor kambing dan setengah dari bijiran itu dan sebagian lagi pada petang hari (makan malam). Kemudian mintalah minuman maka minumlah (minuman yang manis). Kemudian hendaklah memberi minum dengan mendahulukan dari sebelah kanan. Kemudian tunaikanlah hajat kamu.  Pada petang hari pula, makanlah makanan yang kamu tinggalkan pada waktu pagi. Makanlah kamu bersama-sama dengan para sahabat kamu sekalian. Berilah orang banyak di dalam rumah-rumah mereka dan berilah makan kepada ahli keluarga mereka. Demi Allah! Aku fikir kampung yang membekali kamu dua ekor kambing dan dua jarib bijiran itu akan mengalami hari yang buruk tidak lama lagi.” (al Muntakhab)

Dikeluarkan oleh Hanad dari Utbah bin Fitqad katanya: Aku pernah menghidangkan untuk Umar bin al Khaththab r.a. beberapa jenis manisan. Ia bertanya kepadaku, “Apa ini?”

Aku berkata, “Makanan yang aku bawakan untuk engkau karena engkau telah menjalankan tugas menunaikan keperluan orang banyak sejak pagi. Maka aku ingin menyediakan makanan untuk engkau apabila engkau kembali dari menjalankan tugas itu, dengan  harapan makanan itu akan mendatangkan kekuatan untuk melayani keperluan kaum muslimin.”

Ia membuka salah satu bakul yang berisi halwa sambil berkata, “Ya Utbah! Apakah kamu telah memberikan halwa ini kepada setiap orang dari kalangan kaum muslimin?”

Jawab Utbah, “Ya Amirul Mukminin! Jika aku membelanjakan seluruh harta Qis pun aku tidak mampu lagi menyediakan makanan ini untuk mereka semua.”

Setelah mendengar jawaban Utbah itu, Umar r.a. berkata, “Aku tidak berhajat kepadanya.”

Kemudian, ia memerintahkan agar roti yang dibuat dari tepung kasar dihidangkan beserta dengan daging yang keras. Lalu ia makan bersamaku dengan berselera sekali.

Aku berselera sekali untuk makan sepotong daging berwarna putih karena mengira bahwa itu hanyalah otot. Seiris daging yang aku kunyah itu agak keras dan aku tidak mampu memakannya. Oleh karena itu, sewaktu Umar r.a. tidak memandang ke arahku, akupun meletakkan daging yang keras itu diantara mangkuk dan kain alas makan itu.

Kemudian ia menghidangkan secawan Nabiz (air buah kismis) yang hampir menjadi cuka. Ia berkata kepadaku, “Minumlah.”

Karena aku tidak dapat meminum minuman itu, ia pun mengambilnya dariku lalu meminumnya sambil berkata kepadaku, “Dengarlah ya Utbah! Jika aku menyembelih seekor unta tiap hari, Maka sesungguhnya bagian yang lembut dan berlemak adalah untuk kaum muslimin yang datang dari segenap pelosok tempat. Sedangkan lehernya untuk keluarga Umar!

Umar juga makan daging yang kasar dan keras ini dan meminum air nabiz yang asam ini yang bisa menyakitkan perut-perut kami.” (Muntakhab al Kanz)

Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dari al Hasan, Sesungguhnya Umar bin al Khaththab r.a. masuk menemui seorang lelaki dan Umar r.a. meminta air minuman darinya. Lelaki itu menghidangkan madu kepadanya. Umar r.a. pun bertanya kepada lelaki itu, “Apakah ini?”

Jawab lelaki itu, “Madu.”

Maka Umar r.a. berkata, “Demi Allah! Semoga ini tidak termasuk ke dalam benda yang akan dihisab pada hari kiamat.”

Dikeluarkan oleh Ibnu Asakir dari al Hasan sebagaimana dalam al Muntakhab.

Dinukilkan oleh Razin dari Yazid bin Aslam katanya: Umar r.a. meminta air minum, lalu dihidangkan dengan air yang telah dicampur madu. Umar r.a. berkata, “Minuman ini enak sekali tetapi aku telah mendengar Allah Azza wa Jalla berfirman yang menyalahkan suatu kaum yang telah menjadi mangsa kehendak syahwat mereka sendiri:

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاعَلَى النَّارِۗ اَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَاۚفَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُوْنِ بِمَاكُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِالْحَقِّ وَبِمَاكُنْتُمْ تَفْسُقُوْنَ

Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan), ‘Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniamu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalas dengan adzab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan kamu telah fasik.” (Q.s. Al Ahqaaf: 20)

Oleh karena itu aku takut kebaikan kami hanya dibalas di dalam kehidupan dunia ini, balasan yang dipercepat untuk kami.”

Maka Umar tidak minum minuman itu. (at Targhib)

Dikeluarkan oleh at Tibri dari Urwah katanya: Tatkala Umar r.a. sampai di Eiilah bersama-sama sahabat-sahabat Muhajirin dan Anshar, ia menyerahkan baju gamis kepada seorang paderi untuk dicuci dan ditambal karena bagian belakang bajunya itu telah terkoyak akibat perjalanan yang jauh. Bajunya itu terbuat dari kain karabis (kain kasar seperti kain yang digunakan untuk membuat karung).

Ia berkata kepada paderi itu, “Cucilah dan tamballah bagian yang terkoyak.”

Kemudian paderi itu mencuci baju gamis Umar r.a. itu dan menambal bagian yang sobek. Setelah selesai, ia pun kembali kepada Umar r.a., lalu Umar bertanya kepada paderi itu, “Apa yang kamu bawa ini?”

Paderi itu menjawab, “Ini adalah gamis engkau yang telah dicuci dan ditambal, adapun baju ini adalah hadiah dariku untukmu.”

Kemudian Umar r.a.melihat kearah baju yang dihadiahkan oleh paderi itu dan memegangnya. Ia pun memakai gamisnya dan mengembalikan gamis yang dihadiahkan kepadanya seraya berkata, “Gamisku ini lebih baik dalam menyerap keringat.”

Dikeluarkan oleh Ibnu al Mubarak dari Urwah dari Naufal dari gubernur Umar (di Eiila) hadits seperti di atas, sebagaimana dalam al Muntakhab.

Dikeluarkan oleh ad Danuri dan Ibnu Asakir dari Qatadah r.a. katanya: Umar r.a. adalah seorang khalifah yang memakai baju dari kain kapas yang ditambal dengan kulit karena terdapat lubang atau sobekan pada bajunya itu. Ia sering melawat ke pasar dengan cambuk di atas bahunya memperhatikan sebagaimana orang menjalankan perdagangan dan memberitahukan adab perniagaan kepada mereka.

Di dalam riwayat Ahmad di dalam kitab az Zuhd dan Hanad, Ibnu Asakir dan Abu Nu’aim dari al Hasan katanya: Umar bin al Khaththab r.a. berkhutbah kepada orang banyak ketika ia menjadi khalifah. Ia memakai sehelai pakaian yang mempunyai dua belas tambalan. (al Muntakhab)

Di dalam riwayat Malik pula dari Anas r.a. katanya: Aku pernah melihat Umar ketika ia menjadi Amirul Mukminin. Ia menambal pakaiannya di antara dua bahunya dengan tiga tambalan. (At Targhib)

Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dari Ibnu Umar r.hum. katanya: Umar r.a. telah menetapkan uang tunjangan untuk dirinya bagi keperluan hariannya dan juga ahli keluarganya. Pada musim panas ia akan menggantikan pakaian dan menambal kain sarungnya apabila sobek. Ia tidak akan menggantikan pakaian yang baru walaupun telah lusuh dan sobek sehingga waktunya sampai untuk ia berbuat demikian.

Dalam tahun ketika banyak harta telah jatuh ke tangan kaum muslimin akibat banyak Negara yang telah ditaklukan, Umar r.a. bahkan memakai pakaian yang lebih buruk dari pakaian yang biasa dipakainya sebelum tahun itu. Aku pun berbicara dengan Hafshah mengenai hal ini. Umar r.a. berkata, “Apa yang aku pakai dari harta kaum muslimin, maka pakaian ini adalah sepadan buatku,” (al Muntakhab)

Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dari Muhammad bin Ibrahim katanya: Umar bin al Khaththab r.a. mengambil uang tunjangan dari Baitul Mal sebanyak dua dirham setiap hari untuk dirinya dan keluarganya. (al Muntakhab)

Dikutip dari Kitab Hayatush Shahabah Terjemehan Jilid 2 hal. 294-298, Penerbit Pustaka Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *