Kezuhudan Umar bin al Khaththab r.a. (1)

HAYATUSH SHAHABAH – Dikeluarkan oleh at Tibri dari Salim bin Abdulah katanya: Ketika Umar bin al Khaththab di lantik sebagai khalifah, ia menerima tunjangan hidup dari Baitul Mal dalam jumlah yang sama seperti yang telah diterima oleh Abu Bakar r.a. 

Namun ketika Umar r.a. menghadapi masalah keuangan, sekumpulan sahabat Muhajirin berkumpul untuk memperbincangkan masalah itu. Termasuk di antara mereka ialah Utsman, Thalhah, Ali dan az Zubair r.an hum..

Az Zubair berkata, “Bagaimana apabila kita meminta kepada Umar supaya tunjangannya ditambah.”

Ali pun berkata, “Kami sangat ingin melakukannya sebelum ini. Marilah kita pergi menemuinya.”

Lalu Utsman r.a. berkata, “Ia adalah Umar bukan orang lain (Umar r.a. sangat tegas dengan suatu perkara terutama yang berkaitan dengan caranya mencontoh kehidupan Rasulullah saw.). Karena itu, lebih baik kita bertemu dengannya dan meminta pendapatnya mengenai perkara ini. Kita hendaklah bertemu dengan Hafshah r.ha. terlebih dahulu dan memintanya membicarakan perkara ini kepada Umar r.a. dan meminta agar ia tidak memberitahu nama-nama orang yang terlibat dalam urusan ini.”

Mereka pun pergi menemui Hafshah r.ha. dan meminta agar ia memberitahu Umar r.a. mengenai hal itu tanpa memberitahu nama-nama orang yang terlibat dalam rancangan itu. Setelah mereka kembali dari menemui Hafshah r.ha., mereka pun pulang.

Tidak lama setelah itu, Hafshah bertemu Umar r.a. dan ia dapat melihat tanda-tanda kemarahan di wajahnya. Ia berkata, “Siapakah mereka itu?”

Hafshah menjawab, “Tidak ada jalan untuk mengetahui siapa mereka hingga aku mengetahui pendapat engkau.”

Umar r.a. berkata, “Sekiranya aku mengetahui siapakah mereka, aku akan memukul  wajah mereka. Engkau dan aku ya Hafshah bersumpah atas nama Allah. Kamu mengetahui kain seperti apakah yang terbaik yang disimpan oleh Rasulullah saw. di dalam rumahmu?”

Hafshah menjawab, “Dua helai kain yang dicelup warna merah yang sering dipakai oleh baginda saw. apabila menerima tamu dan apabila memberikan khutbah Jum’at.”

Umar r.a. bertanya, “Apakah makanan yang terbaik yang pernah kamu hidangkan kepadanya?”

Hafshah menjawab, “Roti kami dibuat dari tepung barli. Saya mengoleskan minyak di atasnya apabila roti itu sedang panas dan memotong-motongnya lalu menghidangkannya di hadapan Rasulullah saw.. Kemudian Rasulullah saw. memakannya dan menganggapnya sebagai makanan yang terbaik.”

Umar r.a. bertanya kepada Hafshah r.ha.,  “Apakah alas tidur yang paling lembut yang dimiliki oleh Rasulullah saw.?”

Hafshah menjawab, “Kami mempunyai sehelai kain selimut yang kasar. Pada musim panas kami melipatnya empat lipatan dan berbaring di atasnya. Apabila musim dingin, kami melipatkan menjadi dua lipatan, sebagiannya kami gunakan sebagai alas tidur sebagian lagi kami gunakan untuk menyelimuti tubuh kami.”

Umar r.a. berkata, “Ya Hafshah! Sampaikanlah kepada mereka apa yang akan aku katakan ini. Sesungguhnya Rasulullah saw. telah meletakkan kadar tertentu di tempatnya dan satu penambahan pun hendaklah dilakukan mengikuti keadaannya. Dan sesungguhnya aku juga telah menentukan kadar untuk diriku dan kadar serta ketetapan itu diikuti. Perumpamaanku dengan dua orang sahabatku adalah seumpama tiga orang yang mengikuti satu jalan.  Orang yang pertama telah melalui jalan dengan membawa bekalnya dan telah sampai ke tempat tujuannya. Orang yang kedua juga telah mengikutinya, lalu ia pun mengikuti jalan yang telah diikuti oleh orang yang pertama lalu sampai ke tempat tujuannya. Kemudian orang yang ketiga mengikutinya. Jika ia mengikuti jalan yang telah diikuti oleh orang pertama dan kedua dengan bekal seperti kedua orang itu, niscaya ia juga akan sampai ke tempat tujuannya. Jika ia mengikuti jalan selain jalan yang telah diikuti kedua orang itu, maka ia tidak akan menemui kedua sahabatnya itu.”

Dikeluarkan juga oleh Ibnu Asakir dari Salim bin Abdullah, hadits serupa dengannya. Sebagaimana dalam Muntakhab al Kanz.

Dikeluarkan oleh Ibnu Asakir dari al Hasan al Basri katanya: Aku datang menghadiri satu majelis di masjid Jami Basrah. Aku duduk di antara sekumpulan sahabat-sahabat Rasulullah saw. yang berbincang-bincang mengenai kezuhudan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. dan bagaimana Allah membuka hati mereka untuk agama Islam dan keindahan perilaku mereka. Aku pun mendekati kumpulan sahabat-sahabat itu. Di antara mereka adalah al Ahnaf bin Qis at Tamimi r.a. dan aku telah mendengar ia berkata, “Kami pernah dihantar oleh Umar bin al Khaththab r.a. untuk berangkat di dalam suatu sariyah ke Iraq. Maka Allah swt. Memberikan kemenangan kepada kami atas Iraq dan negeri Persia. Dengan demikian, kami telah memperoleh perak dari negeri Persia dan Khurasan. Lalu kami pun menyimpannya. Ketika kami kembali ke Madinah dan sampai di hadapan Umar r.a., ia memalingkan mukanya dari kami dan enggan bercakap-cakap dengan kami.”

Sikap Umar r.a. yang demikian menyebabkan sahabat-sahabat merasa kecil hati dan sedih, lalu kami pun pergi menemui anak lelakinya, Abdullah bin Umar r.a. yang sedang duduk di dalam masjid. Kami pun mengadu kepadanya mengenai apa yang telah terjadi kepada kami, mengenai sambutan dingin yang telah diberikan oleh ayahnya atas kepulangan kami.

Abdullah berkata kepada kami, “Sesungguhnya Amirul Mukminin telah melihat pakaian yang ada pada tubuh engkau sedangkan ia tidak pernah melihat Rasulullah saw. memakainya. Begitu juga ia tidak pernah melihat Khalifah Abu Bakar r.a. memakainya.”

Maka kami pun pulang ke rumah masing-masing dan menanggalkan pakaian yang telah kami pakai sewaktu pulang dari Iraq dan Persia itu. Setelah itu kami menemui Umar r.a. dengan memakai pakaian yang ia selalu melihat kami memakainya.

Melihat kedatangan kami, ia bangun seraya memberi salam kepada setiap orang dari kami dan memeluk kami satu per satu, seolah-olah ia tidak pernah melihat kami sebelumnya. Kami pun menyerahkan kepadanya semua harta rampasan lalu ia membagi-bagikannya di antara kami dengan sama rata. Kemudian ia menerima sebuah bakul yang berisi makanan dari buah kurma dan minyak sapi.

Lalu Umar r.a. mencicipi makanan itu dan makanan itu sungguh lezat serta baunya sangat enak. Maka ia menghampiri kami sambil berkata, “Demi Allah! Wahai orang-orang Muhajirin dan Anshar, bapak akan memerangi anaknya dan anaknya akan memerangi bapaknya semata-mata memperebutkan makanan yang selezat ini.”

Oleh karena itu, ia pun memerintahkan supaya makanan itu diberikan kepada anak-anak dari para Muhajirin dan Anshar yang telah terbunuh semasa hayat Rasululluh saw.

Kemudian, Umar r.a. berpaling dari tempat itu. Manakala sahabat-sahabat mengikutinya di belakangnya, mereka berkata, “Apakah pendapat engkau sahabat-sahabat Muhajirin dan Anshar mengenai lelaki ini dan perilakunya?

Sesungguhnya hati nurani kami telah menjadi begitu bernilai sejak Allah memberi kemenangan ke tangan kaum muslimin pada zamannya, rombongan-rombongan dari jazirah Arab dan Ajam (bukan Arab) mulai datang menemui Umar r.a. dan mereka melihat ia berpakaian yang compang-camping dan bertambal dua belas.”

“Wahai sahabat-sahabat Rasulullah saw.! kalian dari kalangan sahabat-sahabat yang unggul dan kalian telah menyertai Rasulullah saw. di dalam berbagai perang dan para sahabat Muhajirin  dan Anshar al Auwalin. Sekiranya kalian meminta ia menukarkan  kehebatan bagi siapa yang melihatnya, adalah lebih baik berdasarkan kepada kedudukannya. Makanan hendaklah dihidangkan kepadanya setiap pagi dan petang agar ia dapat makan bersama-sama dengan orang-orang Muhajirin dan Anshar.”

Para sahabat yang hadir di situ berkata, “Tidak ada orang yang layak untuk mengemukakan persoalan ini kepada Umar r.a. kecuali Ali r.a. karena ia seorang yang berani dan juga Umar r.a. adalah menantunya Ali r.a. Atau anaknya Umar, yaitu Hafshah r.ha., karena ia adalah istri Rasulullah saw. dan lebih layak karena kedudukannya di sisi Rasulullah saw..”

Mereka pun memberi tahu rencana itu kepada Ali r.a. lalu Ali r.a. berkata, “Aku tidak akan melakukannya, sebaliknya pergilah menemui istri-istri Rasulullah saw. karena mereka adalah ibu orang-orang mukmin, mereka lebih berani menyuarakan pendapat kepadanya.”

Lalu para sahabat bertanya kepada ‘Aisyah dan Hafshah r.hum. yang keduanya sedang berkumpul. ‘Aisyah berkata, “Aku akan bertanya kepada Amirul Mukminin  mengenai persoalan ini.”

Hafshah pun berkata, “Sudah tentu ia tidak akan menerima rencana ini.”

Kemudian keduanya masuk menemui Umar r.a. lalu Umar r.a. pun duduk berdekatan dengan mereka. ‘Aisyah r.ha. memulai pembicaran dengannya, “Ya, Amirul Mukminin! Apakah enggkau mengijinkan aku berbicara denganmu?”

Kata Umar r.a., “Bicaralah wahai ummul mukminin!”

‘Aisyah r.ha. berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw. telah pergi dan dalam perjalanan menuju Jannah dan keridhaan Allah swt.. Beliau telah menolak kebesaran dunia dan dunia juga enggan dekat kepadanya. Begitu juga Abu Bakar r.a.  telah meninggal dunia dengan mengikuti jalan yang telah diikuti oleh Rasulullah saw. satelah ia menghidupkan sunnah Rasulullah saw. dan membunuh orang-orang yang mendustakannya dan mendustakan agamanya. Ia membatalkan setiap tindakan orang-orang yang melakukan kejahatan dengan keadilan, ia juga telah membagi-bagikan harta kepada sesama manusia dan meridhakan Rabbnya. Maka Allah telah mencabut ruhnya kepada rahmat dan keridhaan-Nya dan mempertemukannya dengan Nabi-Nya. Allah telah membukakan dengan perantara kedua tanganmu kekayaan Kisra dan Kaisar dan negeri mereka dan mengakibatkan semua harta dan kekayaan mereka berpindah ke tanganmu. Engkau telah berkuasa di atas kawasan antara timur dan barat. Kami berharap dari Allah agar membantu agama Islam dengan pertolongan-Nya. Utusan-utusan orang-orang Ajam telah datang mengunjungi engkau. Begitu juga dengan rombongan-rombongan orang-orang Arab, semuanya datang kepada engkau sedang engkau masih mengenakan pakaian ini. Pakaian ini telah ditambal dua belas tambalan. Jika engkau menukarkannya dengan pakaian yang lebih lembut kainnya, maka engkau akan kelihatan lebih hebat dalam pandangan mata manusia. Begitu juga makanan akan dihidangkan kepada engkau pagi dan petang dalam jamuan yang dihadiri oleh sahabat-sahabat Anshar dan Muhajirin.”

Dikutip dari Kitab Hayatush Shahabah Terjemehan Jilid 2 hal. 286-289, Penerbit Pustaka Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *