Keutamaan Bulan Sya’ban

Nabi SAW. bersabda, “Kelebihan bulan Sya’ban mengatasi semua bulan, adalah bagaikan kelebihanku mengatasi seluruh Nabi, dan kele-bihan bulan Ramadhan mengatasi semua bulan, adalah bagaikan kelebihan Allah SWT. mengatasi para hambaNya”.

Nabi SAW. pernah berpuasa penuh pada bulan Sya’ban, sesuai dengan sabdanya, “Allah SWT. menerima amal-amal seluruh hamba di bulan Sya’ban”.

Beliau juga pernah bersabda kepada para shahabatnya, “Tahukah kalian kenapa bulan ini disebut dengan bulan Sya’ban? Shahabat menja-wab, “Hanya Allah dan RasulNya yang mengeta-hui”,

Kemudian Nabi menegaskan, “Sebab kebaik-an bercabang banyak pada bulan ini”.

Nabi melanjutkan sabdanya, “Pada malam Nishfu Sya’ban, Jibril AS. datang kepadaku, katanya : Hai Muhammad, pada malam ini pintu-pintu langit/rahmat dibuka, untuk itu tegakkanlah shalat, angkatlah kepala dan kedua tanganmu ke langit (berdo’a).

Aku bertanya : Hai Jibril, malam apakah ini? Jawabnya : pada malam ini 300 pintu rahmat te-lah dibuka, Allah mengampuni semua orang yang tidak musyrik, bukan ahli sihir, bukan dukun, bu-kan orang yang suka bermusuhan, bukan pema-buk arak, bukan pelacur, bukan pemakan riba, bukan pendurhaka terhadap kedua orang tua, bukan yang suka mengadu domba, dan bukan orang yang suka memutus silaturahmi, mereka semua itu tidak diampuni, hingga bertobat”.

Lafaz atau kalimat Sya’ban menyimpan makna sebagai berikut :

  1. Syin, singkatan dari Syafa’atun yang berarti kemuliaan dan syafaat
  2. ’Ain, singkatan dari Al-’Izzah wal Karomah yang berarti kemenangan dan karomah
  3. Ba, singkatan dari Al-Birru yang berarti kebaikan
  4. Alif, singkatan dari Ulfah yang berarti rasa belas kasihan
  5. Nun, singkatan dari An-Nur yang berarti cahaya

 

Para Fuqaha’ berpendapat bahwa bulan Rajab untuk menyucikan tubuh, dan bulan Sya’ban untuk menyucikan hati, dan sedangkan bulan Ramadhan untuk menyucikan jiwa/ruh. Maka siapa yang menyucikan tubuhnya dalam bulan Rajab, insya Allah akan mudah menyucikan hati-nya pada bulan Sya’ban, dan siapa yang dapat menyucikan hatinya pada bulan Sya’ban maka insya Allah akan mudah menyucikan jiwa/ruhnya pada bulan Ramadhan.

Disamping itu ada pendapat lain bahwasanya bulan Rajab untuk membersihkan dari segala dosa, bulan Sya’ban untuk memperbaiki hati dari cacat, dan bulan Ramadhan untuk menyinari jiwa/ruh sedangkan Lailatul Qadar untuk taqarrub/mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Nabi SAW. bersabda, “Siapa berpuasa 3 hari pada awal bulan Sya’ban, 3 hari pada perte-ngahannya, dan 3 hari pada akhirnya, maka Allah mencatat baginya seperti pahala 70 orang Nabi, dan bagaikan beribadah kepada Allah SWT. selama 70 tahun dan jika meninggal pada tahun  itu akan  dianggap seperti mati syahid”.

Nabi SAW. bersabda, “Siapa mengagungkan bulan Sya’ban, bertaqwa kepada Allah SWT. dan taat beribadah kepadaNya, serta mengekang diri dari perilaku maksiat, maka Allah mengampuni segala dosanya, dan menyelamatkannya dari segala macam bahaya, dan macam-macam penyakit pada tahun itu”.

Nabi SAW. bersabda, “Siapa yang menghi-dupkan dua malam hari Raya dan malam Nishfu Sya’ban, maka tidak mati hatinya ketika hati manusia mati”.

Telah membudaya di kalangan masyarakat, baik di kota maupun di desa, masalah meng-hidupkan malam Nishfu Sya’ban, maka timbullah banyak pendapat yang berbeda, diantaranya ada yang menerima dan ada yang menolaknya.

Namun yang benar adalah, bahwa orang mukmin pada malam tertentu boleh saja tekun beribadah seperti shalat, membaca Al-Qur’an, berdzikir dan berdo’a.

Adapun berhimpun pada malam Nishfu Sya’ban di masjid-masjid, atau ditempat lainnya untuk shalat sunnah Baraah berjamaah seba-nyak-banyaknya, sebagaimana budaya sebagian orang, tidak dianjurkan dan tidak berdasar.

Begitu pula anggapan dengan adanya shalat berjamaah Nishfu Sya’ban, itu tidak ada dan hukumnya bid’ah qabihah yang wajib dijauhi. Sebab para fuqaha’ sepakat bahwa shalat Baraah hukumnya bid’ah atau mengada-ada dan tidak ada contohnya dari Nabi maupun para shahabat.

Menurut riwayat awal dari bid’ah itu terjadi sesudah 400 Hijriyah, sedang di masjdil Aqsho terjadi pada 440 Hijriyah.

Menurut Imam Thurthusi hal itu terjadi ketika salah seorang pria datang ke masjidil Aqsho, pada malam Nishfu Sya’ban ia melakukan shalat, sete-lah takbir pertama, di belakang ada seorang mak-mum, lalu diikuti oleh orang kedua, ketiga dan keempat, hingga banyak sekali yang mengikuti-nya.

Alkisah pada tahun berikutnya, ia melakukan lagi shalat yang serupa, dan diikuti oleh orang banyak, akhirnya menjadi populer dan mereka tetapkan sebagai hal yang sunnah.

Pada dasarnya malam Nishfu Sya’ban sekali-pun banyak hadits yang menguraikan keutama-annya, tidak berarti orang harus menetapkan berbagai amalan untuk mengagungkannya, apa lagi amal tersebut tidak ada contoh atau dasar dari Nabi SAW. Melakukan berbagai macam shalat seperti hajat, taubat, Tahajjud dan witir dianjurkan bukan hanya pada malam Nishfu Sya’ban saja. Adapun peramalan lain seperti membaca surat Yaasiin 3X, istighotsah dan do’a boleh-boleh saja asal amalan tersebut memang ada dan dicontoh-kan Nabi SAW. Wallahu a’lam (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *