Iman dan Taqwa yang berharga disisi Allah

KITA selalu memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT. karena dengan rahmat dan hidayah-Nya kita semua masih diberi kesehatan untuk melaksanakan perintah-Nya mendapat ridho dari-Nya

Tidak lupa pula sholawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. beserta keluarga dan para sahabatnya, yang mana Beliau telah membawa kita dari alam yang gelap (jahiliyah), ke alam yang terang benderang, seperti yang kita rasakan sekarang ini. Mudah-mudahan kita selalu dalam keadaan Iman dan Islam. Amin ya robbal ‘alamin.

Mentaati perintah Allah semata-mata taqwa kepada-Nya merupakan tujuan kita yang sangat mulia sebagai hamba Allah, sungguh beruntung dan berbahagia orang yang taat kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya, dan sebaliknya merugilah orang yang maksiat kepada Allah dan mendurhakai-Nya.

Marilah kita tanamkan lebih dalam lagi nilai-nilai ketaqwaan itu didalam jiwa kita, sehingga setiap ucapan dan perilaku yang kita lakukan terpancar cahaya batin yang bersih, dalam bimbingan Allah Yang Maha Kasih.

Disamping itu, nilai-nilai tersebut juga kita tanamkan dalam jiwa keluarga kita sebagai benteng agar terhindar dan selamat dari siksa neraka.

Karena dalam hidup ini, baik dalam keadaan suka maupun duka, senang maupun susah, itu adalah cobaan dan ujian dari Allah, untuk menguji keimanan dan ketaqwaan hamba-Nya, karena iman itulah yang berharga disisi Allah SWT.

Tanggung jawab yang paling mendasar dalam mengarungi hidup dan kehidupan ini adalah membangun diri dan keluarga dengan moralitas agama, sebagai wujud dari upaya untuk menjaga dan membentengi diri serta keluarga dari siksa api neraka.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat at-Tahrim ayat 6 yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”.

Berpijak dari ayat tersebut, kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga diri dan keluarga kita dari siksa api neraka. Senantiasa mengoreksi diri, apakah tanggung jawab itu sudah kita laksanakan dengan baik, atau malah sebaliknya, justru selama ini kita disibukkan oleh urusan-urusan lain, yang sama sekali tidak bersentuhan dengan pesan ayat-ayat tersebut.

Allah SWT. Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya, dan amat tegas kepada orang-orang ingkar dan mendurhakai-Nya.

Sebagaimana dijelaskan dalam dialog Nabi Musa AS. dengan Allah SWT. Nabi Musa AS. berkata : “Ya… Allah Engkau mempunyai sifat kasih sayang kepada semua umat manusia didunia ini, tetapi mengapakah dihari kemudian nanti ada yang Engkau masukkan kedalam Neraka?”

Jawab Allah SWT. : “Ya Musa, untuk ini aku minta supaya Engkau bercocok tanam dahulu”.

Nabi Musa AS. tidak membantah, lalu bercocok tanam, yaitu menanam gandum, maka setelah pohon gandum itu berbuah dipetiklah buahnya, dalam waktu yang lama.

Maka selesailah Nabi Musa memetik buahnya, lalu Allah SWT. mengajukan pertanyaan kepada Nabi Musa. “Adakah sesuatu yang Engkau tidak ambil hasil tanamanmu hai Musa?

“Ada ya Allah”, jawab Musa.

Allah berfirman : “Coba Engkau terangkan.”

Musa menjawab : “Adapun gandum yang berisi saya petik dan saya simpan karena dimanfaatkan, dapat dibuat bibit dan sebagainya. Namun gandum yang gubuk (kosong) tidak berisi saya buang dan saya bakar karena tidak ada manfaat-nya”.

Jawab Allah : “Ya… Musa, demikian pula Aku, manusia yang tidak beriman, yang hatinya kosong dari pada Iman, adalah seperti gandum yang gubuk itu, karena mereka kosong dari pada iman, dia tidak mau tunduk kepada-Ku, maka iman itulah yang berharga disisi-Ku.

Karena iman itulah ia taqwa kepada-Ku. Kepada mereka yang kosong dadanya dari pada iman adalah tempatnya dalam Neraka, menjadi umpan api neraka, demikian Aku lakukan”. Demikian Firman Allah kepada orang yang berbuat mungkar.

Dari dialog Nabi Musa diatas dapat kita ambil hikmah dalam kehidupan ini, bahwa iman dan taqwalah yang paling berharga disisi Allah SWT.

Oleh karena itu, disamping kita meningkatkan ketaqwaan kepada Allah, maka perlu sekali untuk menegakkan amar makruf dan mencegah amar mungkar. Dirasa perlu untuk menganjurkan kebaikan dan melarang kemungkaran. Menyampaikan hal-hal yang baik dan melarang perbuatan keji. Sebab yang baik selamanya bermanfaat, dan yang keji selamanya membahayakan.

Allah Maha Pemurah, dermawan adalah sifatnya, sebagaimana hidup adalah sifatnya dia Maha Melihat, Dia Maha Memberi, memberi ampun lebih disukai dari pada menghukum. Allah menyediakan Neraka untuk yang bersalah, tetapi bukan merupakan kekejaman, melainkan karena keadilan semata.

Allah SWT. selalu memberi tuntunan melalui para Rasul-Nya agar manusia jangan menempuh jalan yang salah.
Peringatan Allah tentang siksaan Neraka ibarat rambu-rambu yang dipasang polisi disetiap simpangan atau tepi jalan yang berbahaya. Misalnya kita menjumpai rambu-rambu jalan menanjak dan licin. Apabila sopir, mengabaikan peringatan itu, maka mobinya akan selip atau terperosok ke jurang. Siapakah yang salah ? sopir itu sendirilah yang tidak mentaati peringatan.

Banyak manusia yang justru dengan kenikmatan yang dimilikinya membuat hatinya mati, tertutup rapat dan terkunci. Kendati beribu nasehat terlontar, keangkuhan semakin mengakar telah mengalahkan nurani dalam diri.
Karena itulah Nabi dan Rasul yang diutus Allah kepada umat manusia. Dia adalah rambu-rambu, dia adalah orang yang memberi peringatan dan menunjukkan kejalan yang benar dimuka bumi ini.

Nabi dan Rasul merupakan manusia pembawa amanat Allah. Diutusnya Nabi dan Rasul kepada kita agar manusia selalu ingat tentang tujuan Allah menciptakan dirinya, karena itu janganlah sampai terlena menuruti bujukan setan dan Iblis yang selalu ingin menjerumuskan kita.

Kemaksiatan dan kelalaian ibarat sebuah pohon bambu yang bengkok, akan tetap dibiarkan bengkok lebih lama ditempatnya. Keimanan dan ketaqwaan serta kedermawanan laksana bambu yang tegak dan lurus, satu persatu telah ditebang untuk keperluan yang bermanfaat.

Sementara bambu yang bengkok akan lebih lama ditempatnya menikmati umur yang panjang karena pemilik bambu belum mau menebangnya. Tapi bambu yang bengkok kelak akan ditebang, disaat itulah nasib tragisnya dimulai, karena hanya dapat digunakan untuk kayu bakar saja.

Nasibnya berbeda dengan bambu yang berkualitas baik yang dapat terus bertahan lama sebagai pendukung bangunan rumah, kursi dan meja, asesoris ruangan tamu, dengan hiasan nan indah.

Terlena dengan kemewahan dan kesenangan serta kemaksiatan, hanya akan mengulur waktu untuk menambah gelimang noda dan dosa. Sehingga tak ubahnya seperti gandum yang kosong dan bambu yang bengkok tadi yang tragis diakhir hidupnya.

Oleh sebab itu hendaklah kita mengikuti ajaran agama, karena ajaran agama selalu dalam kebenaran. Rasulullah SAW. membawa kitab suci al-Qur’an yang merupakan wahyu dari Allah. Didalamnya penuh dengan ajaran-ajaran kebenaran, peringatan agar manusia insyaf bahwa dirinya adalah makhluk Allah yang berhak menerima rahmat-Nya, adapun rahmat diakherat berupa kehidupan di Surga.

Akhirnya marilah kita berdo’a, semoga Allah selalu memberikan rahmat dan petunjuknya kepada kita sehingga kita dapat menjaga diri dan keluarga kita dari siksa api neraka, dan dapat masuk kedalam Surga Allah SWT. kelak di aKherat. Amin ya robbal ‘alamin.  Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *