Ikut Perintah atau Ikut Keadaan

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu, ingatlah Allah di waktu berdiri, diwaktu duduk dan diwaktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (An-Nisa’ : 103)

Dari dalil diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam perkara shalat, orang beriman mengikuti perintah Allah dan telah ditentukan waktunya, bukan kehendak sendiri, atau mengikuti keadaan. Orang beriman akan mengikuti perintah Allah walaupun keadaan atau kondisi yang berbeda-beda.

Dalam amal agama setidaknya ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu : menjaga waktu dan menjaga amal. Seseorang yang tidak menjaga waktu dan amalnya tidak akan dapat mencapai derajat ikhsan disisi Allah, yaitu suatu derajat dimana dalam setiap perbuatan seolah-olah melihat Allah atau minimal merasa selalu dilihat oleh Allah.

Menjaga waktu dan amal sama maknanya istiqomah. Allah SWT. menyukai amal yang dikerjakan secara terus menerus walaupun sedikit, oleh karena itu setiap amalan harus diperhatikan waktunya dan diluangkan waktu khusus serta selalu dipikirkan.

Orang yang tidak istiqomah dalam amal, seperti orang yang membangun rumah, ditengah-tengah membangun kemudian ditinggalkan. Membangun rumah yang lain lagi, belum selesai kemudian ditinggal lagi, demikian seterusnya. Dengan cara seperti ini kapan rumah dapat terwujud dan kapan dapat tinggal didalamnya.

Kita tidak akan dapat tinggal dirumah tersebut dan tidak bisa istirahat karena kita tidak mau menyempurnakan pembangunannya.

Rasulullah SAW. bersabda kepada para sahabatnya, “Kamu jangan seperti si Fulan, dia dulu selalu shalat malam, kemudian amal itu ditinggalkannya dan tidak shalat malam lagi”. Orang yang sudah memulai amal, kemudian meninggalkan amal tersebut, itu suatu pertanda bahwa keyakinannya lemah, keyakinannya terhadap amal tersebut berkurang, dan dia merasa tidak berhajat kepada amal tersebut.

Seorang karyawan, pegawai, pedagang atau petani, setiap hari pergi bekerja dan terus menerus bekerja, walaupun hujan atau panas bahkan ketika sakitpun tetap berusaha bekerja, karena ia merasa berhajat kepada pekerjaannya itu. Kalau kita merasa berhajat kepada pekerjaan, maka kita akan mendapatkan hasilnya berupa gaji, bonus, tunjangan dan penghargaan.

Demikian juga dalam masalah agama, apabila kita merasa berhajat kepada Allah, tentu kita akan istiqomah dalam agama, seperti orang yang berhajat kepada pekerjaan.

Kenapa istiqomah itu penting? Karena dengan istiqomahlah dapat membuktikan yang sejati atau kamuflase saja, yang asli atau palsu.

Allah SWT. ciptakan dunia ini dalam keadaan yang berubah-ubah, kadang menggembirakan, kadang menyusahkan, kadang menyenangkan, kadang menyedihkan, begitu terus menerus dan setiap keadaan pasti selalu berpasangan. Orang beriman hidupnya mengikuti perintah Allah bukan mengikuti keadaan-keadaan yang terjadi.

Orang beriman terbagi menjadi dua golongan, yaitu : Golongan pertama, adalah golongan orang yang hidup dengan cara melihat keadaan-keadaan, sehingga hidupnya disesuaikan dengan keadaan-keadaan tersebut. Kalau ada suasana yang sesuai dia hidupkan agama, sedangkan apabila tidak sesuai ia tinggalkan agama. Kalau dapat menguntungkan ia memakai agama sebagai jargon perjuangannya, tetapi kalau tidak menguntungkan dari segi keduniaan ia tinggalkan agama. Orang seperti ini imannya belum teruji, agama dijadikan alat untuk tujuan dunia.

Golongan kedua, adalah golongan orang yang berfikir apa perintah Allah dalam setiap keadaan, kemudian mengikuti perintah Allah dalam keadaan tersebut. Bila keadaan menyenangkan Alhamdulillah tetapi bila keadaan menyulitkan bersabar, orang seperti ini imannya insya Allah sudah teruji.

Ibadah-ibadah dalam Islam, seperti shalat, puasa, haji dan lain sebagainya, tertibnya ditentukan dengan penanggalan Bulan bukan dengan penanggalan Matahari. Karena ibadah tersebut mengikuti perhitungan Qomariah maka perhitungan waktu ibadah menjadi berbeda dengan Syamsiah. Kita masih termasuk beruntung tinggal didaerah tropis yang perbedaan waktunya tidak terlalu mencolok dibandingkan dengan Negara lain yang jauh dari khatulistiwa.

Di Afrika Utara dan Tengah juga Asia Selatan, musim panas kadang jatuh pada bulan Juni dan Juli tetapi kadang bulan Nopember dan Desember. Bila saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan panasnya luar biasa. Waktu siangnya panjang sedangkan waktu malamnya pendek. Meskipun demikian orang beriman yang tinggal disana tetap harus berpuasa.

Demikian pula waktu shalat bila waktu siangnya panjang, maka waktu malamnya menjadi pendek. Hal ini mengakibatkan waktu shalatnya berbeda drastis dibandingkan dengan di Indonesia.

Meskipun demikian bagi orang yang beriman mengikuti perintah Allah itulah yang utama bukan mengikuti keadaan-keadaan. Karena keadaan-keadaan itu merupakan ujian terhadap keteguhan iman kita.

Waktu shalat tersebut telah ditetapkan oleh Allah SWT. dan tidak berubah-ubah meskipun keadaan berubah-ubah.

Kalau kita mau berfikir lagi bagaimana keadaan orang beriman yang mau beribadah didaerah kutub utara dan kutub selatan yang siangnya hanya beberapa jam saja? Tentu jawabnya tetap beramal sesuai perintah Allah dengan pedoman ilmu-Nya.

Demikian pula masalah haji, kadang jatuh pada musim panas, kadang jatuh pada musim dingin, walaupun demikian waktu haji tidak berubah. Musim boleh berubah tetapi kita tetap istiqomah dalam menunaikan perintah Allah dalam keadaan yang berubah bagaimanapun. Hikmah dari ketentuan-ketentuan tersebut supaya kita hidup tidak mengikuti keadaan.

Adapun ahli dunia, mereka punya jalan lain. Pada saat musim panas mereka punya tertib ada liburan musim panas, dan ada pula liburan musim dingin. Demikian pula masalah pakaian mereka mengikuti musim, ada pakaian musim panas yang serba terbuka dan pamer aurat. Ada pula pakaian musim dingin yang serba tertutup.

Tetapi kita berpakaian mengikuti perintah Allah bukan mengikuti musim, berpakaian menutup aurat dan sesuai dengan kaedahnya. Ringkasnya dalam keadaan apapun kita tetap mengikuti perintah Allah SWT.

Keadaan-keadaan datang kepada manusia, sedangkan manusia ini lemah. Manusia kadang-kadang sakit, kadang-kadang sehat, kadang-kadang dirumah, kadang-kadang dalam perjalanan. Keadaan manusia sendiri berubah-ubah juga, kadang-kadang kaya, kadang-kadang miskin. Oleh karena itu Allah SWT. telah memberikan kepada kita dua perkara untuk menghadapi keadaan-keadaan ini yaitu ilmu dan dzikir.

Untuk apa ilmu dan dzikir?

Sebagai contoh, ada seorang yang sedang sakit dia tidak dapat berdiri dalam shalat, padahal berdiri dalam shalat adalah rukun. Maka disinilah pentingnya ilmu.

Kemudian dia datang kepada seorang ‘alim dan bertanya : “Saya tidak dapat berdiri dalam shalat, apa yang harus saya lakukan? Apakah saya harus tinggalkan shalat?”

Orang ‘alim menjawab : “Jangan kamu tinggalkan shalat, kamu dapat shalat dengan duduk”.

Dalam setiap keadaan kita harus berfikir apa perintah Allah dalam keadaan-keadaan tertentu, sehingga kita hidup dengan mengikuti perintah, bukan mengikuti perubahan keadaan.

Rasulullah SAW. diutus untuk memberikan ilmu bagaimana cara mengatasi keadaan-keadaan tersebut, serta apa perintah Allah dalam berbagai macam keadaan itu.

Maksud ilmu adalah mengetahui perintah-perintah Allah dalam berbagai keadaan. Kalau kita sudah mengetahui perintah Allah dengan ilmu tersebut, lalu taat kepada-Nya inilah yang dinamakan dzikir. Taat kepada Allah itulah yang dinamakan ingat kepada-Nya, karena orang yang taat pasti ingat Allah.

Apabila hal tersebut mampu kita wujudkan dalam diri kita secara terus menerus, inilah yang dinamakan dengan istiqomah. Istiqomah itu pada awalnya berat, meskipun berat tetapi kalau seseorang berusaha terus menerus dan ada keyakinan, maka akhirnya akan mudah.

Pada dasarnya nafsu manusia tidak dapat taat, karena itu manusia harus dapat menahan dan mengendalikan nafsunya supaya dia dapat istiqomah. Setelah istiqomah, maka lama kelamaan amal itu akan menjadi suatu kelezatan, dan mengikuti perintah Allah menjadi suatu yang sangat menyenangkan.

Kemudian apabila ada amal yang keting-galan, maka dia akan sedih dan menyesal, karena amal itu sudah menjadi kecintaannya. Mudah-mudahan kita dapat mencapai semua itu. Amiin. Walllahu a’lam.
(Faisol Fanani – PWI Musi Rawas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *