Hikmah Qurban Pasca Idul Adha

BERAPA juta orang telah berkurban pada Idhul Adha lalu? Berapa puluh juta pula hewan kurban disembelih di Hari Adha yang penuh keutamaan itu? Suatu jumlah bilangan yang tentu saja menakjubkan!

Lalu, pasca Hari Raya Adha tersebut, hikmah apa yang mesti diambil dari ritual ibadah yang menyejarah dan selalu aktual bagi kehidupan kaum Muslim itu?

Tentu bukan ritual dan kemanfaatan formalnya belaka. Apalagi berhenti pada kemeriahan sosial untuk menunjukkan makin besar jumlah orang berkurban dan hewan kurban yang disembelih.

Agaknya spirit utama Idul Adha harus terus digelolarakan sampai kapan pun, tidak berhenti di hari nahar dan hari tasyrik. Perlu gerakan besar-besaran menyembelih hasrat-hasrat duniawi yang menyandera nilai-nilai dan kepentingan luhur kehidupan umat dan bangsa, lebih dari ritual formal ibadah yang mengajarkan makna pengorbanan sejati ala Ibrahim, Ismail, Siti Hajar, dan tentu uswah hasanah Nabi AkhirZaman nan utama itu!

Hewan kurban itu hanya simbol. Selain kemanfaatan dagingnya untuk dikonsumsi dan dibagikan, tidak kalah pentingnya ialah menjadikan diri setiap Muslim makin bertakwa.

Bukankah Allah berfirman yang artinya : “Daging-daging dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Hajj : 37).

Pada suatu hadis disebutkan bahwa Zaid Ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata, “Wahai Rasulullah SAW, apakah kurban itu?”

Rasulullah menjawab, “Kurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.”

Mereka bertanya, “Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan kurban itu?”

Rasulullah menjawab, “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.”

Mereka bertanya lagi, “Kalau bulu-bulunya?”

Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.” (HR. Ahmad dan Ibn Majah).

Kurban menjadi media pengorbanan diri setiap Muslim untuk menjadi insan yang semakin bertakwa yang selalu memupuk dan menebarkan kebaikan bagi diri, keluarga, dan lingkungan.

Jika kehidupan di negeri makin kaya dengan nilai-nilai ruhaniah yang mulia dan terwujud dalam kehidupan maka kurban pada Hari Adha tentu membekas dan mengaktual dalam kehidupan Muslim dan bangsa Indonesia.

Mereka yang telah berkurban makin kuat habluminallahnya sehingga menjadi insan yang saleh, zuhud, dan berjiwa muraqabah atau merasa selalu diawasi Allah.

Mereka tidak akan berani berakal bulus, menyimpang, arogan, korupsi, menyalahgunakan kekuasan, sewenang-wenang, dan berbuat buruk atau nista, baik terbuka maupun terselubung.

Negeri ini akan aman, damai, dan bebas dari segala kemunafikan karena para hambanya yang beriman benar-benar mengaktualisasikan ketakwaan secara autentik.

Karena itu, setiap Muslim yang telah berkurban mengandung makna ruhani dirinya menanam dan menebar benih kebaikan selain untuk dirinya, yaitu untuk sesama umat manusia. Mereka konsisten menanamkan jiwa peduli, berbagi, dan beramal kebajikan, lebih-lebih untuk orang-orang yang membutuhkan.

Termasuk bagi saudara-saudara sebangsa di NTB maupun di tempat lain yang tengah ditimpa musibah. Kembangkan solidaritas sosial yang memupuk persaudaraan, toleransi, perdamaian, dan kebersamaan yang tulus sebagai sesama anak bangsa.

Muslim pasca Idul Adha juga mengembangkan kebiasaan gemar menolong, berbagi rizki, melapangkan jalan orang yang kesulitan, mengentaskan mereka yang lemah, membela orang yang terzalimi, suka meminta dan memberi maaf, mengedepankan kepentingan orang banyak, dan berbagai kebaikan sosial yang utama.

Sebaliknya, hindarkan diri dari segala bentuk kerakusan yang merugikan orang lain dan menimbulkan kerusakan hidup. Islam mengajarkan persaudaraan sesama dan menjauhi segala perbuatan nista.

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap sosial yang luhur dan mulia harus terus ditumbuhkan ketika egoisme cenderung merebak dalam kehidupan bangsa. Jika ketimpangan sosial masih tinggi dan segelintir orang menguasai kekayaan negeri tanpa rasa sungkan, hal itu menunjukkan luruhnya solidaritas sosial yang autentik dari kehidupan kolektif bangsa ini.

Jauhi kekerasan, permusuhan, kebencian, dan saling menghinakan sesama anak bangsa agar keutuhan negeri tetap terjaga secara harmoni.

Pasca Idul Adha, setiap Muslim perlu merayakan solidaritas sosial sebagai budaya dan praksis sosial untuk membela kaum lemah, mengadvokasi kaum kaya agar mau berbagi, dan menebar serba kebajikan dengan sesama yang bersifat melintasi.

Budaya dan praksis solidaritas sosial juga disebarluaskan melalui harmonisasi sosial yang memupuk benih-benih toleransi, welas asih, damai, dan saling memajukan yang membawa pada kebajikan hidup kolektif yang luhur dan utama.

Orientasi keagamaan dalam kehidupan sosial yang indah ini jangan mekar sesaat di kala ritual, tetapi mewujud dan menyebarluas sepanjang masa dalam kehidupan sebagai pantulan iman dan ihsan yang merahmati semesta alam.

Pasca-Idul Adha plus haji bagi yang menunaikannya, sungguh Muslim Indonesia perlu menggelorakan kesalehan yang hanif (autentik) secara massal dan masif dalam praktik kehidupan.

Tokoh agama lebih-lebih dituntut peran pencerahan dan uswah hasanahnya di hadapan umat untuk menampilkan keislaman yang autentik sekaligus kata sejalan tindakan. Bukan berhenti di keindahan petuah, tampilan, dan simbol yang tampak elok di mata publik tetapi tidak memberikan pencerahan bagi umat dan bangsa secara nyata.

Ketika egoisme ekonomi dan politik makin menghadirkan perilaku haus harta dan takhta serta hiasan dunia lainnya, sesungguhnya pasca-Idul Adha umat dan tokoh Muslim makin dituntut pengorbanannya untuk menjadi sosok-sosok pencerah dan suri teladan yang baik.

Bukan ikut turun gelanggang menjadi para pemburu dunia yang melebihi takaran dan bahkan berbaur sebagai aktor-aktor yang dilukiskan dalam Al-Quran sebagai alhaakumu at-takatsur.

Negeri ini memerlukan para tokoh dan ulama yang benar-benar berperan autentik sebagai warasatul anbiyaa sebagaimana dipesankan Rasulullah. Suatu posisi dan peran yang sangat luhur dan tertinggi, menjadi pewaris para nabi.

Jika para pembawa misi kerisalahan semua terjun ke pasar politik dan perebutan bahwa musuh terbesar manusia adalah diri sendiri yang mencinta ego dan kesenangan kue dunia, lantas kepada siapa umat menyandarkan ruhani dan bimbingan moralnya yang alami?

Di sinilah spirit Idul Adha tidak boleh padam untuk menyinari ruhani setiap Muslim, lebih-lebih para tokohya, agar menjadi penggerak penyembelihan hasrat duniawi yang menyala-nyala.

Idul Adha harus dijadikan momentum keumatan dan kebangsaan untuk menyembelih hasrat dunia yang berlebihan dan menabrak nilai-nilai luhur ketakwaan.

Kata ahli hikmah, musuh terbesar manusia itu ialah dirinya. Karena mengejar hasrat dunia melebihi kewajaran, manusia kemudian mengidap penyakit ta’bid ‘an al-nafs (diperbudak diri) dan ta’bid ‘an al-dunya (membudakkan diri kepada dunia).

Allah berfirman yang artinya, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali Imran: 14).

Sejarah manusia sesungguhnya dimulai dari pertarungan hidup menaklukkan segala hasrat dan kepentingan diri dan angkara dunia di tengah relasi orang lain dan lingkungannya.

Dalam Alquran Allah mengingatkan yang artinya, “Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24).

Qabil putra Adam tega membunuh saudara-nya, Habil, demi kepentingan diriya. Fir’aun sewe-nang-wenang memperlakukan orang lain, bahkan karena kecongkakannya Raja Ramses itu menyatakan diri sebagai “tuhan yang maha tinggi”. Qarun yang konglomerat selain pelit juga rakus menghisap orang lemah dan menguasai kekayaan publik secara semena-mena.

Sementara, Hammam di zaman kekuasaan Bani Israel itu menunjukkan karakter sebagai pejabat korup dan menyalahgunakan kekuasa-annya demi kepentingan dirinya sehingga jabatannya tidak menyejahterakan rakyatnya.

Bahwa setiap insan beriman akan naik tangga ke puncak keutamaan tertinggi jika sukses menaklukkan diri dan dunianya demi sesuatu yang lebih luhur dan hakiki. Mana mungkin ketiga insan kekasih Tuhan itu rela hati berkorban nyawa Ismail jika mereka masih terbelenggu oleh ego diri dengan segala kepen-tingannya yang ragawi?

Mereka adalah insan yang terbebaskan dan tercerahkan dari hasrat egoisme yang naif, kemudian menjelma menjadi para altruis yang selalu peduli dan berbagi untuk kepentingan orang banyak.

Ketika manusia cinta diri dan dunia secara berlebihan, mereka tak pernah puas diri meraih kedigdayaan dunia hingga ajal memisahkannya (QS at-Takatsur: 1-2). Tidak kenal tua maupun muda, bahkan siapa pun, manakala cinta kuasa dan dunia sudah menyala-nyala dalam diri manusia, maka segala cara ditempuh dan dihalalkan.

Mereka secara lahiriah tampak perkasa di hadapan orang lain, tetapi sejatinya menjadi orang lemah karena menjadi budak dunia! (dikutip dari tulisan Ustadz H Haedar Nashir)

Tiga Hikmah Ibadah Qurban

Pertama: Tebusan  dari Api Neraka

Dalam kitab Misykat al-Mashabih (V/148) dijelaskan : “Sungguh telah mutawatir amal kurban kaum muslimin sejak masa Nabi Saw hingga hari ini,  dan kurban juga adalah sunnah Nabi Ibrahim As, berdasarkan firman Allah SWT : “Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar. (QS. as Shaffhat:107).”

Kedua: Terampuni Dosa, Hilangnya Penyakit dan Tolak Balak dari Keluarga

Dalam kitab Lawaqih al-Anwar (I/94) Syaikh Abdul Wahab as-Sya’rani mengutarakan : “Telah diambil janji yang luas atas kami dari Rasulullah Saw agar kami berkorban untuk diri, keluarga dan anak-anak kami setiap tahun. Qurban tidak kami tinggalkan kecuali karena uzur syar’i. Hikmahnya adalah hilangnya penyakit dari orang dikeluarkan kurbannya dan terampuni dosa-dosanya.

Ketiga: Memenuhi Timbangan Amal Baik

Al-Hafizh al-Munawi dalam kitab Faidh al-Qadir (V/584) meriwayatkan : “(Sungguh hewan kurban akan datang di hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, kuku- kukunya), lalu diletakan dalam timbangan amal pelakunya sebagai-mana di jelaskan dalam hadits Ali Ra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *