Hikmah Isra’ Mi’raj, Hadiah Sholat Untuk Kita

ISRA’ MI’RAJ merupakan kejadian luar biasa dianugerahkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Sebelumnya, Rasulullah SAW mendapat musibah berupa kematian dua orang yang amat ia cintai, yaitu istrinya Siti Khadijah, yang berperan besar dalam mensyiarkan ajaran Islam dan pamannya, Abu Thalib yang mengasuh sejak kecil dan selalu melindungi keselamatannya. Dari dua musibah tersebut, sejarah menyebut tahun ini dengan ‘ammul hazan atau tahun duka cita.

Namun dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya, Allah “menghibur” Nabi Muhammad SAW dengan perjalanan yang istimewa sekaligus menunjukkan sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allah kepadanya. Perjalanan itu dikenal dengan peristiwa Isra’ Mi’raj. Isra’ adalah perjalanan horizontal dari Masjid al-Haram di Mekah menuju Masjid al-Aqsha di Palestina. Sedangkan Mi’raj adalah perjalanan vertikal (naik) dari masjid al-Aqsha ke langit yang ke tujuh lalu menuju Sidratul Muntaha dan di tempat ini ia menjadi tamu istimewa Allah.

Disebut hadiah istimewa karena shalat mengandung hikmah yang amat luar biasa bagi orang-orang yang mendirikannya. Shalat menjadi ibadah yang teristimewa jika dibandingkan dengan ibadah lainnya. Sebab, ibadah selain shalat diterima oleh nabi di bumi ini, sementara ibadah shalat diterima oleh nabi di sidhratul muntaha.

Jika ditelusuri lebih jauh lagi, shalat memang mengandung banyak manfaat. Bahkan para ahli di berbagai bidang keilmuan, seperti fiqh, psikologi, kesehatan, filsafat, dan sebagainya tidak pernah habis-habisnya melakukan kajian tentang urgensi dan manfaat shalat dalam kehidupan.

Urgensi dan peran shalat juga banyak diajarkan oleh nabi Muhammad SAW secara tegas dan jelas melalui hadistnya. Salah satu di antaranya adalah nabi menyebut shalat laksana tiang dalam agama. Sabdanya: Shalat adalah tiang agama, barang siapa yang mendirikannya berarti ia telah mendirikan agama. Sebaliknya, bagi siapa yang meninggalkannya maka ia telah meruntuhkan agama. (H.R. Baihaqi dan Ibnu Umar).

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadist lain bahwa shalat adalah salah satu dari empat rukun Islam lainnya, yaitu syahadat, zakat, puasa dan haji. Ibarat sebuah bangunan, syahadat adalah pondasinya, shalat sebagai tiangnya, zakat sebagai pintu dan jendelanya, haji sebagai atapnya, sedangkan puasa laksana dindingnya. Dengan demikian, shalat berperan penting dalam bangunan agama Islam itu sendiri.

Selain dari perannya sebagai tiang dalam agama, shalat juga dapat menghindarkan manusia dari perbuatan yang keji dan mungkar. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya: …dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al-Ankabut : 45).

Gerakan shalat yang disyariatkan dan hakikat yang terkandung di dalamnya, jika kita renungkan mengajarkan dan mendidik kita agar tetap komitmen dan konsisten untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT.

Jika seseorang melaksanakan shalat dengan memenuhi rukun dan syaratnya, tetapi ia masih melakukan perbuatan yang keji dan mungkar, maka sesungguhnya ia telah gagal dalam shalatnya. Sebaliknya, seseorang yang berupaya menghindarkan diri dari perbuatan keji dan mungkar tetapi meninggalkan shalat, maka pada hakikatnya amal kebajikannya hanyala sia-sia.

Keistimewaan shalat lainnya adalah dapat menjadikan seorang mushalli dapat meraih kebahagiaan spiritual. Sebab shalat merupakan salah satu media untuk mengingat Allah (dzikir). Allah menegaskan: …dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Qs. Thaha : 14)

Sementara dalam ayat lain dijelaskan bahwa dengan dzikir seseorang akan meraih ketenangan dan ketenteraman hati. Firman-Nya: Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram. (Qs. Ar-Ra’du : 28).
Karena itu pula, Rasulullah SAW menyebutkan: ashshalatu mi’rajul mukminin, shalat adalah mi’rajnya orang-orang yang beriman. Dengan begitu shalat tidak hanya menjadi hadiah istimewa yang diterima dan dinikmati oleh nabi Muhammad SAW saja, tetapi shalat juga menjadi hadiah dan harus dinikmati setiap umat Muhammad yang ingin selamat dalam kehidupan dunia maupun di akhirat. (*) Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *