Ditemukan Segel Kuno Nabi Yesaya di Yerusalem

Ada tulisan yang menyebut nama Yesaya di sebuah segel kuno di Yerusalem, apakah mungkin milik Nabi Yesaya?

Tim arkeolog di Yerusalem menemukan potongan segel dari tanah liat tersebut di tempat pembuangan sampah di luar tembok kerajaan yang diratakan pasukan Babilonia pada tahun 586 SM saat menyerang Yerusalem.

Segel atau yang sering disebut bulla itu merupakan salah satu dari 34 artefak kuno yang sudah ditemukan peneliti dalam penggalian Ophel di Bukit Bait Suci Yerusalem pada tahun 2009.

Menurut para peneliti, segel kuno berusia 2.700 tahun itu dihiasi dengan tulisan dalam bahasa Ibrani kuno. Akan tetapi, tulisannya tak lagi utuh.

Eilat Mazar, arkeolog yang terlibat dalam penelitian mengakui adanya kesulitan besar untuk mengidentifikasi segel kuno tersebut, terutama kata nvy.

Mazar berkata kepada National Geographic, Rabu (21/2/2018) bahwa sepertinya ada nama Yesha‘yah[u] atau nama Ibrani untuk Yesaya yang diikuti dengan “nvy”, tetapi segelnya rusak tepat di kata terakhir itu. Jika nvy awalnya diikuti oleh huruf Ibrani, maka hasilnya adalah kata “nabi”, yang membuat pembacaan segel tersebut sebagai “Milik Yesaya sang Nabi.”

Namun, Mazar juga menjelaskan bahwa tanpa kata “aleph” di akhir kalimat, kata “nvy” bisa merujuk pada nama seseorang, seperti nama ayah atau lokasi kelahiran orang tersebut.

Christopher Rollston, profesor bahasa Semit di Universitas George Washington, sepakat dengan pendapat Mazar.

“Huruf terpenting yang diperlukan agar terucap sebutan “nabi” adalah kata ‘aleph’, tetapi ternyata tidak ditemukan ‘aleph’ pada segel ini, sehingga mengucapkan nabi dalam tulisan tersebut tidak dapat dibenarkan sama sekali,” katanya.

Menurut Rollston, nama Yesaya sendiri juga dipakai oleh puluhan orang lainnya yang disebut dalam Injil. “Ada banyak orang yang berjalan-jalan dengan nama Yesaya atau nama yang didasarkan pada akar kata yang sama persis,” kata Rollston.

Lalu, kalau kata “nvy” merujuk pada ayah, maka bisa dipastikan juga bahwa segel itu tidak ada hubungannya dengan Nabi Yesaya yang memiliki ayah bernama Amos.

Menghadapi jalan buntu, Mazar dan para peneliti akhirnya mencoba mempelajari kembali penemuan lainnya di lokasi tersebut.

Pada tahun 2015, sebuah segel kuno milik Raja Hizkia juga ditemukan di lokasi Ophel, dan lokasi penemuannya hanya berjarak tiga meter dari segel Yesaya.

Injil mengisahkan kedua tokoh tersebut memiliki kedekatan pribadi dan penemuan segel yang berdekatan membuka kemungkinan adanya penemuan baru yang lebih menjanjikan daripada penemuan segel tanah liat milik Nabi Yesaya.

“Tentu saja dugaan segel tersebut milik Nabi Yesaya sangat menggembirakan, tetapi itu hanya asumsi,” kata Rollston.

Jika penafsiran arkeolog terhadap tulisan di segel tersebut benar, maka artefak tersebut menjadi bukti pertama keberadaan Nabi Yesaya di luar Injil. (Kompas.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *