Bab Sakit, Berobat dan Adab-adabnya

  1. Sakit adalah penebus dosa-dosa dan satu peringatan bagi masa depan, maka jangan mengeluh jika terkena ujian sakit. (HR. Abu Dawud)
  2. Orang yang tidak pernah sakit bukan termasuk golongan umat Rasulullah SAW. (HR. Abu Dawud). * Agar sepatutnya merasa khawatir jika tidak pernah merasa sakit. Sakit adalah penebus dosa-dosa dan menaikkan derajat. Jika tidak pernah sakit dikhawatirkan dosa-dosa tidak dihapuskan oleh Allah SWT., dan berderajat rendah disisi Allah SWT… walaupun demikian tidak boleh berdo’a meminta sakit kepada Allah SWT.
  3. Seseorang yang sudah terbiasa beramal shaleh, kemudian ia sakit, maka pahala amal sholehnya akan terus mengalir, walaupun ia tidak mengerjakannya karena sakit. (HR. Bukhari)
  4. Tidak ada penyakit yang menular. Semua penyakit berasal dari Allah SWT. Jika dikatakan B terkena penyakit karena tertular dari A, maka dari siapakah A tertular penyakit? Jika penyakit itu menular, pasti A terkena penyakit karena tertular oleh seseorang. Jika dijawab A terkena penyakit karena Allah, maka apakah penyakit B juga bukan dari Allah? (HR. Bukhari, Muslim)
  5. Walaupun menderita sakit sangat parah, hendaknya jangan berdo’a untuk mengharap kematian, sebaiknya berdo’a : Allaahummaa ahyinii in kaanatil hayaatu khoironl lii wa amiitii in kaanal  mautu khoironl lii. Artinya : “Ya Allah! Berikanlah aku tetap hidup seandainya memang hidup itulah yang baik bagiku. Dan matikanlah aku seandainya saja kematian itu memang baik bagiku.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i)
  6. Setelah sembuh dari sakit, dianjurkan jangan makan sembarangan. (HR. Tirmidzi, Nasa’i)
  7. Orang sakit sebaiknya makan bubur, bubur dapat menghibur orang yang sakit, dan menghilangkan kesedihan. (HR. Bukhari)
  8. Jangan Sekali-kali memaki penyakit panas, demam, atau penyakit lainnya. (HR. Muslim)
  9. Penyakit demam adalah termasuk dari panasnya Neraka Jahannam dan akan mengurangi dosa-dosa si sakit, maka dinginkanlah dengan mengompresnya. (HR. Ibnu Majah)
  10. Bercelak adalah obat dan mencerahkan pandangan mata. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)
  11. Wanita yang hamil, sebaiknya jangan menyusui. hal itu membahayakan anak. (HR. Ibnu Majah)
  12. Do’a yang hendaknya selalu dibaca ketika merasa sakit : Allaahummaa robbin naasi adzhibil ba’saaa’a isyfi antasy syafii laa syifaaa’an illaa. Artinya : “Lenyapkanlah kesakitan wahai Tuhan manusia, sembuhkanlah hanya Engkau yang dapat menyembuhkan, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan dari Engkau, dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan sisa-sisa penyakit.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah)
  13. Apabila orang yang terkena rabun mata bersabar, Allah akan mengganti kedua matanya di Surga. (Hadits Qudsyi – Bukhari)
  14. Jangan memasuki kampung yang terkena wabah penyakit dan jangan keluar dari kampung yang terkena wabah penyakit. (HR. Bukhari, Muslim)

Berobat

  1. Disunnahkan berikhtiar atau berusaha untuk berobat bila terkena penyakit. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa’i)
  2. Setiap Penyakit, telah Allah SWT. turunkan obatnya, kecuali penyakit ‘usia tua’. (HR. Abu Dawud)
  3. Tidak boleh berobat dengan menggunakan mantera atau jampi-jampi yang mengandung kemusyrikan. (HR. Muslim)
  4. Boleh berobat dengan menggunakan mantera untuk penyakit : mata, patukan binatang berbisa, atau luka yang darahnya mengalir terus. (HR. Bukhari, Muslim)

Berbekam

  1. Rasulullah SAW. menganjurkan agar berobat dengan berbekam dan meminum madu. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah)
  2. Diantara keuntungan berbekam, ialah : 1. Menguatkan ingatan.  2. Menambah daya akal.  3. Mencerahkan pandangan.  4. Menghilangkan darah kotor.  5. Meringankan tulang punggung.  6. Menghidupkan sunnah. (HR. Ibnu Majah)
  3. Tempat-tempat untuk berbekam : 1. Kepala.  2. Antara dua bahu.  3. Urat bagian samping leher. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)
  4. Waktu-waktu yang dianjurkan untuk berbekam agar lebih mujarab yaitu tanggal 17, 19 dan 21. (HR. Abu Dawud)
  5. Hari-hari yang dibolehkan berbekam : Hari Senin, Selasa dan Kamis. Sebaiknya jangan berbekam pada Hari Rabu, Jum’at, Sabtu dan Ahad. (HR. Ibnu Majah)
  6. Lebih utama berbekam sebelum makan dan minum. (HR. Ibnu Majah)
  7. Jangan membekam orang jompo atau anak kecil. (HR. Ibnu Majah)

Yang dibolehkan dalam berobat

  1. Boleh berobat dengan obat tetes hidung. (HR. Bukhari, Muslim)
  2. Kayu garu obat penyembuh dari penyakit radang tenggorokan dan radang selaput dada. (HR. Bukhari, Muslim)
  3. Sunnah berobat dengan “Habbatus Sauda” (Jinten hitam) lima atau tujuh butir yang ditumbuk hingga halus, kemudian dicampurkan dengan sedikit minyak zaitun. (HR. Ibnu Majah)
  4. Sunnah berobat dengan madu dan Al-Qur’an. Disunnahkan meminum madu setidaknya tiga kali sebulan setiap pagi, insya Allah akan dijauhkan dari bermacam-macam penyakit. (Al-Qur’an, HR. Ibnu Majah)
  5. Jamur adalah sebagai penyembuh penyakit mata dan rendaman kurma adalah obat penyakit gila dan juga obat penyembuh racun. (HR. Ibnu Majah)
  6. Madu adalah obat sakit perut. (HR. Bukhari)
  7. Al-Qur’an memerintahkan agar berobat dengan shalat. Shalat juga obat. (Al-Qur’an, HR. Ibnu Majah)
  8. Obat penyakit terkena api atau cacar air ialah daging ekor kambing Kibasy yang dicairkan, lalu dibagi menjadi tiga bagian, kemudian diminum setiap hari satu bagian. (HR. Ibnu Majah)
  9. Obat penyakit tulang rusuk adalah : Kunyit, kayu garu, minyak zaitun kemudian digosokkan. (HR. Ibnu Majah)
  10. Boleh membaca do’a sambil mengusap telapak tangan pada tempat yang sakit dengan membaca kalimat : Bismillahi, a’u’udzubi ‘izzatillahi wa qudratihi min syarrimaa ajidu wa ahaadziru. artinya : “Dengan nama Allah … 3X, aku berlindung dengan zat Allah dan kuasa-Nya dari kejahatan …. 7X, kemudian hembuskan”. (HR. Bukhari, Muslim)
  11. Sunnah mengompres sakit panas. (Muttafaqun ‘Alaih)
  12. Disunnahkan mengobati dengan membaca Al-Fatihah, kemudian dihembuskan ke tempat yang sakit. (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i)
  13. Bacaan yang melindungi dari sengatan atau gigitan binatang berbisa : a’u’udzu bikalimaatillahit taaam maati min syarrimaa kholaqo. Artinya : “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya”. (HR. Muslim, Nasa’i, Ibnu Majah)
  14. Obat bagi yang ingin gemuk makan mentimun dengan kurma. (HR. Nasa’i)

Yang tidak dibolehkan dalam berobat

  1. Tidak boleh berobat dengan bersulut api atau dibakar. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud)
  2. Jangan berobat dengan menggunakan obat-obatan yang kotor dan beracun. obat disebut kotor karena dua hal : a. Najis.  b. Karena rasanya, seperti air kencing, dan lain-lain. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah)
  3. Diharamkan berobat dengan menggunakan kodok. (HR. Nasa’i)
  4. Jangan berobat dengan racun, karena ia akan meminumnya juga di Neraka. (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i)
  5. Jangan berobat dengan sesuatu yang haram. Sesuatu yang haram diharamkan pula penggunaannya untuk obat. (HR. Abu Dawud). * Seperti : Najis, arak, babi, minyak babi, dan lain-lain.
  6. Tidak boleh berobat dengan menggunakan jimat, mantera dan guna-guna, perbuatan tersebut termasuk syirik. Walaupun sembuh itu hanya permainan dari syetan. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah)
  7. Haram mempercayai ramalan atau ahli nujum. Walaupun sekedar percaya kepada omongan tukang ramal akan membuat amal ibadah tidak diterima Allah SWT. selama empat puluh hari empat puluh malam. Apalagi mengamalkan omongannya. (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i)
  8. Haram berobat kepada tukang tenung, dukun dan paranormal. (HR. Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Hibban)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *