Membelakangi Al-Qur’an Kesalahan Terbesar

Al-Quran adalah kalamullah yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW. lewat Malaikat Jibril sebagai pedoman utama ummat Islam.

Menjadi kewajiban bagi ummat Islam untuk mengangkat Al-Quran sebagai landasan utama dalam mengamalkan Islam di samping berpedoman pula kepada Hadits Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam.

Mengimani seluruh isi Al-Quran hukumnya wajib, sedang mengingkari satu bagian dari ayat Al-Quran saja hukumnya murtad alias keluar dari Islam. Jadi iman kepada seluruh ayat Al-Quran itu mutlak wajibnya. Dan keimanan itu harus dibuktikan dengan amal. Sedangkan membaca Al-Quran itu sendiri nilainya adalah ibadah.

Meskipun kedudukan Al-Quran itu demikian tingginya dalam Islam, namun belum tentu orang yang mengaku dirinya Muslim mau memperhatikan kitab sucinya itu. Padahal tidak memperhatikan kitab suci Al-Quran itu bukan masalah kecil, namun merupakan masalah besar.

Sehingga Nabi Muhammad SAW. pun mengeluhkan akan ada diantara kaumnya yang tidak memperhatikan Al-Quran ; bahkan keluhan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam itu langsung difirmankan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala : Berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini suatu yang tidak diperhatikan.” (QS. Al-Furqon [25] : 30)
Siapakah yang rasa cinta kasihnya kepada ummatnya melebihi Nabi Muhammad Shalla-llaahu ‘alaihi wasallam yang berdo’a untuk ummatnya sampai menangis, hingga Allah mengutus Malaikat Jibril agar menanyakan kenapa Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam menangis? Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallamlah yang sangat mencintai ummatnya.

Dalam hadits Shahih Muslim diriwayatkan : Dari Abdullah bin Amru bin Ash bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca Firman Allah ‘Azza Wa Jalla dalam (hal perkataan) Nabi Ibrahim, “Ya Tuhanku sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ibrahim [14] : 36). Dan seterusnya.

Dan berkata Isa a.s: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Maaidah [5] : 118).

Lalu Nabi Muhammad saw mengangkat kedua tangannya dan berkata, “Ya Alllah, ummatku ummatku” dan beliau menangis. maka Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman, ‘Hai Jibril, temuilah Muhammad, sedang Tuhanmu lebih mengetahui, lalu tanyalah dia, apa yang menjadikan dia menangis?’

Lalu Jibril mendatangi Nabi saw dan menanyainya. Maka Rasulullah saw memberi khabar pada-Nya dengan apa yang telah Nabi katakan, sedang Dia mengetahui.

Lalu Allah berfirman, ‘Hai Jibril, temuilah Muhammad, lalu katakanlah padanya: Sesungguhnya Aku akan meridhoimu dalam ummatmu dan Aku tidak menjadikanmu sedih’.” (HR. Muslim dengan Syarah An-Nawawi No. 346 – 202452)

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shohih Muslim mengemukakan bahwa sikap Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam itu adalah merupakan kasih sayang Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam sempurnanya terhadap ummatnya dan perhatiannya terhadap kemaslahatan mereka, dan konsennya terhadap urusan ummatnya.

Lebih dari itu, siapakah yang lebih berperasaan kasih sayang terhadap seluruh manusia melebihi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menganjurkan : “Sayangilah orang yang di bumi niscaya kamu akan disayangi oleh (Allah) Yang di langit.” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi, Hasan Shohih, dalam syarah Jami’ut Tirmidzi —Tuhfatul Ahwadzi— No. 1930)

Menurut kebiasaan manusia yang berperasaan mencintai, tingkah laku orang yang dicintai selalu dipandang baik, dibela dan kalau ada kesalahan diusahakan untuk dimaafkan dengan berbagai jalan.

Kebiasaan ini pun dialami oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga betapa besar semangat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam agar kerabatnya yang dihormati masuk Islam.

Karena bersemangatnya itu, sesuai dengan rasa cintanya, karena memang kerabatnya ini (Abu Thalib paman Nabi Shalallaahu alaihi wasalam) membela Nabi dalam hal penyiaran Islam, namun Allah Subhannahu wa Ta’ala menegurnya : Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qoshosh [28] : 56)
Tebalnya rasa kasih sayang Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang tiada bandingannya itu ternyata masih dikalahkan oleh hati kerabatnya itu sendiri (Abu Thalib, paman Nabi Shalallaahu alaihi wasalam) yang memang tidak mau masuk Islam.

Demikian pula kasih sayang Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam masih dikalahkan oleh perbuatan kaumnya yang menjadikan Nabi sampai mengeluh kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala, lantaran kaumnya membelakangi Al-Quran, tidak menggubris Al-Quran.

Sebenarnya, sikap kaum yang membelakangi Al-Quran itu keterlaluan. Betapa tidak. Rasa kasih sayang, bahkan kesabaran Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam bisa disimak dari sikapnya ketika dalam perang Uhud beliau berdarah wajahnya, dan beliau mengusap darah di wajahnya itu sambil berkata : Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa) kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sikap tidak menggubris Al-Quran, membelakangi, berpaling dari ayat-ayat Allah itu sama sekali bukan kejahatan yang ringan dan mengaduhnya Nabi atas sikap kaumnya yang tak menghiraukan Al-Quran itu, bukan berarti menunjukan keputusasaan beliau. Tidak. Namun, sikap kaum yang membelakangi Al-Quran itulah yang tak tahu diri.
Terbukti, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak dipersalahkan mengaduh seperti itu.

Bahkan Allah sendiri mengecam keras terhadap orang-orang yang membelakangi Al-Quran atau berpaling dari Al-Quran, dengan firman-Nya, “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya?” (QS. Al-Kahfi [18] : 57).

Lima golongan yang membelakangi Al-Quran

Sikap mengabaikan Al-Quran yang sangat dikecam itu jelas disebut oleh Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam sendiri dilakukan oleh kaumnya.

Kaumnya itu bukanlah hanya bangsa Arab, bukan hanya bangsa Quraisy, namun adalah kaum yang ada ketika Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam diutus dan sesudah itu.

Lantas, siapakah mereka yang termasuk jelas-jelas berpredikat menjadikan Al-Quran di belakang punggungnya itu ?

Menurut Ibnu Qoyim ada lima jenis atau lima macam orang yang termasuk berpaling dari Al-Qur’an.

Lima macam orang yang membelakangi Al-Quran itu, menurut Ibnu Qoyim adalah:

  1. Berpaling dari mendengarkan dan mengimani Al-Quran,
  2. Berpaling dari mengamalkan Al-Quran walaupun membaca dan mengimaninya,
  3. Berpaling dari menegakkan dan menggunakan hukumnya,
  4. Berpaling dari mengkaji dan memahami artinya,
  5. Berpaling dari berobat dan mengobati orang lain dengan Al-Quran dalam seluruh penyakit hati. (Lihat Tafsir Ma-haasinut Ta’wil 12/575).

Setelah kita mendapatkan penjelasan ayat-ayat Allah seperti ini, apakah kita melupakannya lagi seperti yang telah diperingatkan Allah tersebut?
Kita tahu, bahwa Allah memberikan tuntunan kepada manusia adalah demi kebahagiaan manusia itu sendiri di dunia dan akherat. Dan kita tahu, Allah adalah Rouufur Rahiem, Maha kasih sayang yang amat sayang, hingga kepada umat Islam diberi petunjuk-petunjuk komplit. Sampai model pakaian untuk muslimah, misalnya, itupun dengan sikap dan sifat kasih sayangNya Allah masih ‘sudi’ menunjuki, lewat Al-Quran.

Maka pantas kalau Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam mengeluh dengan sangat menyayangkan sikap sebagian kaumnya yang berpaling dari Al-Quran, dan Allah pun menyebut kaum macam itu sebagai terlalu zhalim.

Dalam bahasa pergaulan manusia sehari-hari bisa disebut ‘disayangi tapi malah tak tahu diri’. Lebih-lebih kalau sampai berani mencari-cari alasan untuk membenarkan sikap berpalingnya itu.

Sikap semacam itu lebih dahsyat lagi hingga Allah mengemukakan pertanyaan yang cukup dahsyat pula, “Katakanlah (kepada mereka), Apakah kamu akan mengajari Allah tentang agamamu (keyakinanmu) padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Hujurat [49] : 16).

Dewasa ini berbagai upaya dilakukan umat untuk kembali berjuang dan terus menghidup-kan ajaran-ajaran Islam yang dulu dibawa Nabi.

Berbagai lembaga pendidikan, maksudnya untuk menjaga agar Islam ini tetap tegak dan kuat sebagaimana zaman awal Islam.

Dibuktikan dengan telah banyak berdiri berbagai lembaga pendidikan baik itu berupa Pondok Pesantren yang baru berdiri maupun yang telah puluhan tahun, maupun sekolah-sekolah agama dari Pendidikan Anak Usia Dini hingga Perguruan Tinggi tingkat Doktor.

Demikian juga pendidikan non formal lainnya seumpama Rumah Tahfidz, BKPRMI maupun ormas. Tempat Ibadah dan tersebarnya Da’i, kesemuanya untuk tetap menjaga Islam dan mengidupkan Islam dalam kehidupan kita sehari-hari. Termasuk dukungan lembaga ekonomi yang notabene turut menyemarakan kehidupan ekonomi Islam. Patut kita dukung dan bantu.

Semoga kita senantiasa dirahmati dan diberi petunjuk oleh Allah SWT. sehingga ditetapkan selalu di jalan-ya. Amiin. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *